Berita

Presiden Xi Jiping dan Vladimir Putin saat memasak pancake bareng di tahun 2018 di Rusia/Net

Dunia

China: Dipandang Negatif Oleh AS, Disambut Positif Oleh Rusia

SABTU, 13 MARET 2021 | 15:54 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

  China dan Rusia adalah sekutu dekat yang terus berdampingan selama beberapa dekade. Ketika pandangan negatif tentang China tumbuh di antara orang-orang di Amerika Serikat, orang Rusia tetap pada pendiriannya, memandang positif tentang negara berkekuatan ekonomi terbesar itu.

Sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga pemikir Chicago Council bekerja sama dengan perusahaan jajak pendapat Levada Center yang berbasis di Moskow dan diterbitkan pada Jumat (12/3) mengungkapkan bahwa 74 persen orang Rusia memiliki pandangan yang baik tentang China, sebuah temuan yang mencerminkan kehangatan geopolitik yang tumbuh antara kedua negara.

Sementara, 45 persen lainnya memilih Uni Eropa, dan hanya 39 persen yang memiliki pandangan yang baik tentang AS


Data ini muncul di tengah kecenderungan menurunnya dukungan terhadap China di AS. Sejak lama China dan Amerika Serikat berseteru. Dengan segala hal menjadi permasalahan yang rumit bagi dua negara, pandangan negatif tentang China pun tumbuh di lingkungan masyarakat AS.

Jajak pendapat Gallup yang diterbitkan awal bulan ini menemukan bahwa hanya satu dari lima responden di AS yang memiliki opini positif tentang China. Itu adalah penurunan terendah sejak 1979.

Dalam beberapa dekade sejak itu, China memantapkan dirinya sebagai kekuatan ekonomi terkemuka, yang hanya bisa ditandingi oleh AS. Kekuatan militer dan diplomatiknya juga telah diperkuat, dan sekarang menantang status pasca-Perang Dingin Washington sebagai satu-satunya negara adidaya di dunia, yang diperolehnya dengan jatuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an, seperti yang ditulis Newsweek, Sabtu (13/3).

Saat ini, sementara Washington memandang Beijing sebagai pesaing utamanya, Moskow melihatnya sebagai mitra strategis yang menikmati hubungan bilateral terkuat dalam sejarah kedua negara.

Rusia melihat manfaat dari hubungan yang lebih dekat dengan China yang telah terjadi dalam kerja sama diplomatik, ekonomi, dan militer, yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti yang terungkap dalam jajak pendapat Chicago Council-Levada Center tersebut.

Mayoritas 55 persen orang Rusia mengatakan bahwa hubungan negaranya dengan China memiliki kemampuan untuk meningkatkan posisi Rusia di dunia, dan 57 persen merasa bahwa hubungan ini akan semakin erat selama dekade berikutnya.

Namun begitu, 56 persen orang Rusia mengatakan hubungan Moskow yang tumbuh dengan Beijing tidak akan meningkatkan ketergantungan Rusia pada China.

"Reorientasi Presiden Rusia Putin menjauh dari Barat dan menuju Beijing setelah aneksasi Krimea 2014 tampaknya telah diterima, jika tidak dirangkul, oleh publik Rusia," kata laporan survei Chicago Council-Levada Center. "Ironisnya, meskipun pemerintahan Obama merencanakan poros ke Asia pada tahun 2009, mungkin Rusia, bukan Amerika, yang berhasil berputar ke timur."

Mengenai memburuknya hubungan AS-China, laporan Gallup melihat pandemi Covid-19 sebagai faktor penyebabnya, dan memperingatkan bahwa orang Asia-Amerika menghadapi kerusakan tambahan sebagai akibatnya.

Rusia dan China agaknya memiliki 'nasib' yang sama karena AS kurang memberikan respon positif kepada dua negara 'musuh'-nya itu.

"Dalam satu tahun akibat pandemi yang pertama kali ditemukan di China, dan juga serangan dunia maya paling luas di AS yang dikaitkan dengan Rusia oleh komunitas intelijen AS, baik China maupun Rusia telah mencapai titik terendah baru dalam pandangan orang Amerika," tulis laporan survei itu. 

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya