Berita

Penulis dan Arca Joko Dolog/RMOL

Publika

Mereka-Reka Joko Dolog Dan Kejatuhan Kertanagara

JUMAT, 12 MARET 2021 | 10:18 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

SUDAH lama patung itu berada di sana. Di salah satu pojok di Taman Apsari, Surabaya. Hanya sepelemparan batu dari kantor Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Timur dan kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur.

Patung batu itu menggambarkan penguasa terakhir Singasari, Raja Kertanagara, dalam wujudnya sebagai Dhyani Buddha bergelar Jnanaciwabajra.

Baru hari Senin lalu (8/3), di sela menunggu kehadiran Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh untuk memverifikasi faktual JMSI Jatim, saya berkesempatan menghampiri sang patung.


Selain sosoknya yang besar dengan tinggi 1,6 meter, bagian lain yang menonjol dari patung ini adalah kepalanya yang plontos dan sikap duduknya yang khas dengan tangan kiri berada di pangkuan sementara tangan kanan menelungkup di atas lutut. Sikap duduk ini disebut sebagai bhumisparsa mudra atau memanggil bumi sebagai saksi.

Raut wajahnya terlihat datar menenangkan. Sepintas mengingatkan pada gambaran wajah Gajah Mada "versi" tokoh nasional Prof. Moh. Yamin.

Kedua mata Arca Joko Dolog tidak sama, yang kanan lebih besar dari yang kiri. Seakan mata kananya rusak atau bahkan buta. Tapi rasanya saya tidak pernah mendengar kisah yang mengatakan mata Kertanagara rusak atau buta sebelah. Kelihatannya ukuran kedua mata itu menjadi tidak sama karena kerusakan fisik patung oleh sebab-sebab tertentu.

Kain kuning keemasan berkilauan diselempangkan di tubuh patung, sementara lehernya dikalungi untaian bunga. Bagian lain yang juga mencolok adalah prasasti dalam huruf Pallawa berbahasa Sansekerta di bagian bawah patung.

Masih ada perbedaan pandangan mengenai asal usul patung ini.

Dalam "prasasti modern" di dalam komplek Arca Joko Dolog di Taman Apsari Surabaya, disebutkan bahwa sang patung ditemukan di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto, pada tahun 1812. Pemerintah kolonial yang ingin membawanya ke Belanda memindahkan patung ke Surabaya pada 1817.

Tetapi entah apa yang terjadi, patung batal dibawa ke Belanda dan dibiarkan tergeletak di pinggir sungai sebelum akhirnya dipindahkan ke Taman Apsari yang dibangun pada 1795 bersamaan dengan pembangunan kediaman Residen Belanda Dirk Van Hogendrops yang kini dikenal sebagai Gedung Grahadi dan berfungsi sebagai kantor Gubernur Jatim.

Sementara dalam buku “Candi Indonesia Seri Jawa” yang diterbitkan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2013, halaman 310, disebutkan ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Arca Joko Dolog sebenarnya adalah Arca Aksobhya dari Candi Jawi di Prigen, Pasuruan.

Informasi mengenai asal Arca Joko Dolog di dalam buku itu disebutkan berasal dari kitab Decawarnana yang ditulis Mpu Prapanca tahun 1365 yang kemudian dikenal sebagai Kitab Nagarakretagama.

Konon, patung terjatuh karena disambar petir. Dari versi ini tidak dijelaskan lebih lanjut bagaimana proses perpindahan arca dari Pasuruan ke Surabaya.

Saya rasa teori tentang asal Arca Joko Dolog berasal dari Candi Jawi cukup kuat, dan bahkan lebih kuat. Mengingat seperti Arca Joko Dolog, Candi Jawi yang dibangun atas perintah Kertanagara sebagai tempat peribadatan agama Siwa-Budha juga menggunakan batu andesit, hitam dan putih.

Adapun candi-candi dari era Singasari dan Majapahit yang dibangun di Trowulan umumnya menggunakan batu bata.

Begitu juga dengan Candi Brahu yang dibangun tahun 939 oleh penguasa Kedatuan Medang, Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa yang dikenal sebagai Mpu Sendok, setelah ia memindahkan pusat kerajaan dari bagian tengah Pulau Jawa ke bagian timur.

Prasasti bertuliskan Pallawa berbahasa Sansekerta di bagian alas duduk Arca Joko Dolog berisi 19 bait yang menceritakan antara lain perebutan kekuasaan di Panjalu dan keputusan Raja Airlangga membelah dua kerajaan Panjalu, menjadi Panjalu (Kadiri) dan Jenggala. Kedua kerajaan itu kelak disatukan kembali oleh penguasa pertama Tumapel, Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra alias Ken Arok.

Menurut Negarakretagama, Tumapel yang kemudian dikenal dengan nama Singasari diwariskan kepada putra Ken Arok, Anusapati, dan cucunya, Wisnuwardhana, sebelum akhirnya dikuasai cicitnya, Kertanagara.

Hal lain yang diceritakan dalam prasasti itu adalah tentang penobatan Raja Kertanagara sebagai Buddha.

Arca Joko Dolog dipahat pematung bernama Nada pada tahun 1289, atau sekitar tiga tahun sebelum Raja Kertanagara tewas dalam judeta Jayakatwang.

Di tahun itu pula Kertanagara menerima Meng Qi, utusan Kublai Khan, yang menyampaikan pesan agar Singasari tunduk pada kekuasaan cucu Jenghis Khan itu.

Kertanagara menolak. Untuk memperlihatkan keseriusan sikapnya, ia mengiris telinga Meng Qi dan menyuruhnya kembali ke Beijing.

Bagi Kublai Khan, penolakan Kertanagara ini adalah sebuah penghinaan yang tak termaafkan, dan di saat bersamaan deklarasi perang secara terbuka dan terang-terangan.

Pada tahun 1293 pendiri Dinasti Yuan yang sebelumnya berhasil menyatukan negeri-negeri di Tiongkok mengirimkam balatentara dalam jumlah yang sangat besar untuk menghukum Kertanagara dan merebut Jawa.

Satu hal yang Kublai Khan tidak tahu adalah, setahun sebelum balatentara Beijing berlayar menuju Jawa, Kertanagara terguling dan tewas dalam pemberontakan Jayakatwang.

Kisah yang populer dikutip dari serat Pararaton menyebutkan, Jayakatwang bekerjasama dengan Arya Wiraraja untuk menggulingkan Kertanagara.

Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya, penguasa terakhir Panjalu atau Kadiri yang dikalahkan oleh Ken Arok. Adapun Arya Wiraraja adalah pejabat Singasari yang kecewa karena dimutasi ke Sumenep, Madura.

Untuk menghadapi serangan Jayakatwang dari utara, yang dipimpin Jaran Guyang, Kertanagara mengirim menantunya, Raden Wijaya.

Tetapi yang tidak disadari Kertanagara, di saat pusat kerajaan kosong, pasukan kedua yang dipimpin Patih Kebo Mundharang memukul dari arah selatan, .

Pasukan inilah yang menghabisi nyawa Kertanagara bersama sejumlah petinggi Singasari lainnya.

Dalam kitab Nagarakretagama disebutkan, Kertanagara dan istrinya, Bajradewi, diabadikan di sebuah candi di Sagala, sebagai Wairocana dan Locana, dengan lambang arca tunggal Ardhanareswari.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya