Berita

Pangeran Harry, Meghan, dan Archie/Net

Dunia

Krisis Kerajaan Inggris: Mengingat Sejarah Monarki, Apa Yang Diungkapkan Meghan Markle Seharusnya Tidak Mengejutkan

KAMIS, 11 MARET 2021 | 06:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Diskusi rasis yang saat ini menjadi topik panas keluarga kerajaan dengan pasangan Pangeran Harry dan Meghan Markle seharusnya tidak mengejutkan mengingat sejarah keluarga kerajaan.

Meghan Markle dan Pangeran Harry dalam wawancara bersama Oprah Winfrey mengungkapkan sikap tidak menyenangkan beberapa anggota keluarga kerajaan. Pasangan itu mengatakan ada anggota keluarga kerajaan -yang tidak disebutkan namanya- menyuarakan keprihatinan kepada Harry tentang seberapa gelap kulit Archie ketika dia lahir.  

Jurnalis CNN Don Lemon mengatakan bahwa monarki 'dibangun di atas rasisme'. Jadi, ia tidak yakin bahwa orang yang menonton wawancara Harry dan Meghan itu terkejut atas pernyataan pasangan itu, karena setiap orang -terutama setiap orang kulit berwarna-, sudah sangat tahu bahwa ada rasisme di istana.


Keluarga kerajaan Inggris telah menunjukkan kepada publik siapa mereka selama beberapa dekade. Jadi, tidak mengherankan jika mereka rasis, bahkan terhadap anggota keluarga mereka sendiri.

"Itulah dasar monarki: keturunan, hierarki, sistem kasta, garis darah," tegasnya, seperti dikutip dari CNN.

“Seluruh institusi dibangun di atas struktur rasis. Jadi aneh jika ada: 'Ya Tuhan, keluarga Inggris itu rasis' -ya tentu saja mereka rasis. Itulah yang dibangun oleh seluruh monarki, rasisme! Sejauh ini sejak lahir, hanya bangsawan kulit putih di atas takhta Inggris."

Sulit memisahkan rasisme dari sejarah keluarga kerajaan karena begitu banyak monarki -seperti yang masyarakat tahu- dibangun menggunakan kolonialisme.

Inggris menjajah lusinan negara dan wilayah selama berabad-abad yang lalu, banyak di antaranya dihuni oleh orang-orang yang sebagian besar berkulit hitam dan berkulit coklat, seperti Nigeria dan India, seperti yang ditulis Insider.

Ratu Elizabeth I secara terbuka mendukung pedagang budak Kapten John Hawkins di tahun 1500-an, seperti yang dilaporkan oleh Mikhaila Friel dari Insider sebelumnya.

Hawkins menculik lebih dari 300 orang Afrika yang kemudian menjadi budak di Inggris untuk perdagangan barang, menurut National Portrait Gallery .

Ketika Hawkins kembali ke Afrika untuk perampokan kedua di akhir abad itu, keluarga kerajaan menyumbangkan sebuah kapal untuk perjalanannya, dan budak sering kali menjamu Ratu di istananya.

Demikian pula, keluarga kerajaan mengirim Abdul Karim, seorang pelayan Ratu Victoria dari India, kembali ke India setelah kematiannya karena warna kulitnya, menurut The Guardian.

Berbagai insiden menunjukkan rasisme masih menjadi masalah utama dalam keluarga kerajaan, termasuk sikap tidak menyenangkan mereka terhadap Meghan Markle.

Harry yang di masa lalu pernah secara 'tidak sengaja' bersikap rasis, dalam wawancara dengan Winfrey ia mengaku bahwa dia 'tidak menyadari' bias implisit sampai dia mulai berkencan dengan Markle.

Orang-orang di sekitar kerajaan mengatakan bahwa apa yang dialami Markle dan Archie bisa saja menghidupkan kembali sistem monarki, yang menurut beberapa orang adalah institusi yang sekarat berkat cara-cara kuno dan kurangnya penggunaan politik.

Banyak yang mengatakan, keluarga kerajaan Inggris agaknya tidak belajar dari kesalahan masa lalu. Seandainya kerajaan menyambut dan membela orang kulit berwarna yang menikah dengan keluarga kerajaan , itu bisa mengubah persepsi tentang institusi kuno. Merayakan anak ras campuran yang lahir dalam monarki bisa mengantarkan era baru bagi bangsawan, menyiapkan mereka untuk berkembang dari generasi ke generasi.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya