Berita

Ilustrasi/Net

Dahlan Iskan

Tertimpa Tangga

SENIN, 25 JANUARI 2021 | 04:57 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

ORANG lagi kalah itu bisa bertubi-tubi ditimpa apa saja. Anak sulung Donald Trump misalnya. Eric Trump mencoba mengingatkan publik tentang kebaikan ayahnya: satu-satunya presiden, di era modern, yang tidak mau perang.

Itu betul. Saya juga memuji itu. Sekeras-keras Trump menggertak Tiongkok tidak sampai menembakkan senjata. Padahal, kalau mau, ia bisa terpilih lagi.

Tapi respons masyarakat negatif. Eric dikecam secara luas. "Memang tidak perang dengan negara lain, tapi justru perang di dalam negeri," tulis medsos.


Bahkan, tulis yang lain, korbannya lebih besar dari perang dunia ke-2. Maksudnya korban Covid-19. Yang meninggal 400.000.

Habislah Eric Trump. Misinya tidak kesampaian.

Demikian juga Taylor Greene. Yang ingin membela Trump. Dengan cara meluncurkan hastag #impeachbiden. Hastag itu justru diserbu dengan bintang-bintang K-Pop. Video-video lagu Korea memenuhi hastag itu.

Serbuan K-Pop itu mengingatkan rencana kampanye Trump di Oklahoma. Yang dihadiri 1 juta orang –sesuai dengan yang sudah mendaftar secara online. Ternyata yang datang sedikit sekali: 6.000 orang. Padahal semua persiapan sudah disesuaikan dengan 1 juta itu.

Belakangan diketahui itu ulah para pencinta K-Pop di Amerika. Memanfaatkan TikTok. Trump dikerjai dengan cara anak muda.

Greene sendiri tidak asbun. Sehari setelah Biden dilantik jadi presiden Greene benar-benar mendaftarkan dokumen: meng-impeach Biden.

Tidak ada yang menyambut. Alasannya terlalu mengada-ada. Yang penting bisa membela Trump. Yang dianggap akan mampu mengembalikan Amerika menjadi negara Kristen kulit putih.

Mereka percaya Amerika itu didirikan sebagai negara Kristen-kulit-putih. Yang sekarang dianggap menyeleweng dari pendiriannya. Gedung Capitol misalnya, sudah banyak diisi orang yang macam-macam: kulit hitam, imigran dari Karibia, wanita berjilbab dari Somalia, wanita Islam dari Palestina.

Bagi orang seperti Greene, berjuang mengembalikan Amerika ke tujuan aslinya adalah perjuangan suci. Yang bila mati pun terhormat. Patriotik.

Apalagi dua hari lalu ada kejadian yang terang-terangan mereka anggap anti-Kristen di Capitol. Yakni saat calon menteri perhubungan menjalani uji kelayakan di Senat.

Saat memperkenalkan diri, Pete Buttigieg, calon menteri itu, bikin kejutan. "Lebih dulu saya memperkenalkan suami saya. Itu," ujarnya sambil menoleh ke Chasten Buttigieg.

Laki-laki juga.

Sejak menjadi wali kota South Bend, Indiana, Buttigieg memang sudah dikenal sebagai gay. Kedua kawin di gereja di kota itu. "Ia yang setia mendampingi saya dalam situasi apa pun sampai saya bisa menjadi calon menteri ini," ujar Buttigieg di forum Senat itu.

Senat ternyata menyetujui Buttigieg menjadi menhub di kabinet Biden-Harris.

Trump sendiri tidak menjadi berita lagi. Itu karena senjata utamanya hilang: Twitter, YouTube, dan Facebook. Trump dibredel secara permanen dari medsos.

Kabarnya, Trump lagi mencari pengacara. Untuk menghadapi impeachment kedua. Yang dimulai 8 Februari depan. Rupanya Trump tidak mau lagi pakai pengacara Rudi Giuliani –mantan wali kota New York itu. Yang pernah menagih honor USD 20.000/hari –tapi tidak dibayar oleh Trump.

Tanpa medsos bisa dibayangkan betapa jengkelnya Trump. Tidak bisa membela diri. Terutama, tidak bisa menyerang ke sana kemari.

Kita jadinya tidak bisa tahu apa reaksi Trump atas sampul depan majalah TIME edisi terbaru. Yang mestinya sangat menjengkelkannya.

Anda sudah tahu wajah depan TIME itu: suasana ruang kerja presiden Amerika yang lagi berantakan. Biden, di hari pertama masuk ke ruang kerja itu, digambarkan hanya bisa berdiri termangu di dekat jendela. Sambil memandang keluar.

Tentu itu bukan fakta. Bukan foto. Itu karya seni. Luar biasa bagusnya. Kuat sekali kesan yang ditimbulkannya.

Meja kerja presiden sendiri memang sedikit berubah. Ada yang hilang dari meja kerja Trump itu. Biden telah membuang tombol merah di meja itu. Itulah tombol yang kalau dipijit segera muncul seseorang yang membawakan Coca Cola diet untuk presiden.

Trump sampai mengadakan tombol itu tentu karena pentingnya arti Coca Cola baginya. Sehari Trump bisa minta 12 kali. Begitulah laporan media utama di AS.

Ia memang dikenal sebagai peminum Coca-Cola. Juga pemakan fast food seperti McDonald, KFC, dan Pizza Hut.

Kini status Trump memang tinggal bekas presiden. Kembali jadi sipil sepenuhnya. Yang akan terus dikejar masalah. Sampai-sampai anggota Senat seperti Lindsey Graham angkat bicara: kalau Biden terus mencari-cari kesalahan Trump berarti Biden telah salah arah. "Terbukti Biden tidak mengutamakan persatuan dan kesatuan seperti yang sering ia janjikan," ujarnya.

Di sana memang tidak ada Pancasila –yang bisa membuat Trump jadi menteri pertahanan, misalnya.

Maka janganlah sekali-kali kalah. Akan banyak yang menyiapkan tangga. Untuk sekalian ditimpakan.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya