Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Lagi, Pembunuhan Misterius Sasar Aktivis Perempuan Top Afghanistan

JUMAT, 25 DESEMBER 2020 | 12:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Afghanistan kembali dihantui teror penembakan misterius yang menyasar sejumlah aktivis dan jurnalis. Kali ini yang jadi korban adalah seorang aktivis hak-hak perempuan Afghanistan, Freshta Kohistani yang tewas setelah ditembaki orang-orang bersenjata dengan sepeda motor pada Kamis (24/12) waktu setempat.

Saat itu ia dan saudara lali-lakinya yang juga tewas, sedang berada di ibukota. Kohistani (29), adalah aktivis kedua yang terbunuh hanya sehari setelah seorang aktivis pro-demokrasi ditembak mati di Kabul pada Rabu (23/12).

Pembunuhan kedua aktivis ini memiliki pola serupa yang terlihat dalam beberapa pekan terakhir, di mana warga Afghanistan terkemuka tewas dalam pembunuhan yang ditargetkan di siang hari bolong, beberapa di antaranya terjadi di ibu kota.


"Orang-orang bersenjata tak dikenal dengan sepeda motor membunuh Freshta Kohistani di distrik Kohistan di provinsi Kapisa," kata juru bicara kementerian dalam negeri Tariq Arian, seperti dikutip dari AFP, Jumat (25/12).

Gubernur provinsi Kapisa Abdul Latif Murad mengatakan kepada AFP bahwa penembakan itu terjadi di dekat rumah Kohistani dan bahwa saudara laki-lakinya juga tewas dalam serangan itu.

Sejauh ini belum ada kelompok yang mengklaim serangan itu.

Kohistani, yang pernah berkampanye untuk pemimpin veteran Abdullah Abdullah selama pemilihan presiden tahun lalu, memiliki pengikut yang relatif banyak di media sosial, dan secara teratur menyelenggarakan acara masyarakat sipil di Kabul yang menyerukan hak-hak perempuan.

 Abdullah mengatakan Kohistani tewas dalam "serangan teroris". Dalam sebuah posting Facebook, dia menggambarkan Kohistani sebagai aktivis "pemberani dan tak kenal takut" yang berada di garis depan kehidupan sipil dan sosial di Afghanistan.

Beberapa hari sebelum kematiannya, Kohistani, yang meninggalkan suami dan satu anaknya, menulis di Facebook bahwa dia telah meminta perlindungan dari pihak berwenang setelah menerima ancaman.

Dia juga mengutuk gelombang pembunuhan jurnalis dan tokoh terkemuka lainnya yang sedang berlangsung.

"Afghanistan bukanlah tempat tinggal. Tidak ada harapan untuk perdamaian. Katakan kepada penjahit untuk mengukur (untuk kain kafan pemakaman), besok bisa jadi giliran Anda," cuitnya pada November.

Gelombang pembunuhan telah memicu ketakutan di seluruh negeri, terutama di Kabul.

"Situasi keamanan memburuk dari hari ke hari," kata Ahmad Jawed, pegawai pemerintah di Kabul.

"Ketika kami meninggalkan rumah di pagi hari, kami tidak yakin kami akan kembali ke rumah hidup-hidup pada malam hari," lanjutnya.

Jurnalis, politisi dan aktivis hak semakin menjadi sasaran karena kekerasan meningkat di Afghanistan, meskipun ada pembicaraan damai antara pemerintah dan Taliban.

Pada Rabu (23/12), Mohammad Yousuf Rasheed, yang memimpin organisasi pemantau pemilu independen, disergap dan ditembak saat tengah berada di jalanan pada pagi hari di Kabul bersama dengan sopirnya.

Pembunuhannya terjadi sehari setelah lima orang - termasuk dua dokter yang bekerja di sebuah penjara di pinggiran Kabul - terbunuh oleh bom mobil.

Seorang jurnalis Afghanistan terkemuka juga ditembak minggu ini saat dalam perjalanan ke sebuah masjid di kota Ghazni di timur.

Rahmatullah Nekzad adalah jurnalis keempat yang tewas di Afghanistan dalam dua bulan terakhir, dan pekerja media ketujuh tahun ini, menurut Komite Keamanan Jurnalis Afghanistan yang berbasis di Kabul.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Gandeng Boulevard Coffee, Bank Syariah Nasional Perkuat Ekosistem Transaksi Masyarakat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:23

15 Tahun Mengaspal, 70 Mitra Driver Dapat Hadiah Umrah dari Gojek

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:11

AADI Laporkan Pengalihan Saham Hasil Buyback Lewat Bursa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:12

Kebakaran di Belakang RS PIK, Asap Tebal Membubung

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:11

Peradi Profesional Jakarta Dilantik, Harris Arthur: Integritas Adalah Marwah Advokat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:02

Purbaya Girang, Danantara Setor Dividen Rp120 Triliun ke Kas Negara

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:56

Chevron Siap Perluas Proyek Minyak di Venezuela

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:39

Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Operator Wajib Beri Pilihan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:26

Amandemen UUD 1945 Didahului Pemufakatan Jahat

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:12

Aktivis Senior Ingatkan Sudah Saatnya Kembali ke UUD 1945 Asli

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:39

Selengkapnya