Berita

Fabian Leendertz dari Robert Koch Institute, Jerman/Net

Dunia

Terbang Ke China Selidiki Asal-usul Virus Corona, WHO: Niat Kami Bukan Mencari Siapa Yang Bersalah

KAMIS, 24 DESEMBER 2020 | 07:22 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Anggota tim misi internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa kepergian mereka ke China tidak bertujuan mencari pihak yang bersalah, tetapi murni untuk menyelidiki asal-usul Covid-19.

Tim Penyelidik dilaporkan akan terbang ke China pada Januari mendatang menuju ke Kota Wuhan, tempat kasus pertama virus corona terdeteksi 12 bulan lalu, yang hingga kini masih berlangsung di seluruh dunia dan menyebabkan krisis kesehatan serta ekonomi global yang besar.

"Pertemuan yang kami lakukan sejauh ini dengan kolega China benar-benar produktif dan sangat bagus," kata Fabian Leendertz dari Robert Koch Institute, badan pengendalian penyakit pusat Jerman, seperti dikutip dari AFP, Rabu (23/12).


"Kesan saya, saat ini adalah bahwa orang Tionghoa -yang ada di pemerintahan, juga pada tingkat populasi- mereka benar-benar tertarik untuk mencari tahu apa yang terjadi," lanjutnya.

Leendertz (48), adalah pakar zoonosis, dan dia termasuk di antara 10 ilmuwan terkemuka yang ditugaskan oleh WHO untuk mencoba menemukan asal-usul virus corona baru dan mencari tahu bagaimana virus itu berpindah dari hewan ke manusia.

Setahun setelah cluster pertama terdeteksi di Wuhan, mereka akan melakukan perjalanan ke China untuk pertama kalinya dalam misi yang diperkirakan berlangsung antara lima hingga enam minggu -dua yang pertama akan dihabiskan di tempat karantina.

Kesepuluh ilmuwan tersebut juga akan didampingi oleh Peter Ben Embarek, pakar keamanan pangan dan zoonosis WHO.

"Ini bukan tentang menemukan negara yang bersalah atau otoritas yang bersalah," kata Leendertz.  

"Ini tentang memahami apa yang terjadi untuk menghindari hal itu di masa depan, untuk mengurangi risiko," jelasnya.

Leendertz mengatakan bahwa virus berpindah dari hewan ke manusia setiap tahun, di seluruh dunia.

"Sungguh sial bahwa ini adalah virus yang sangat buruk," kata ilmuwan Jerman itu.

"Kami memulai di Wuhan karena di sinilah data pertama yang paling solid tersedia," kata Leendertz.  

"Dari sana kami mengikuti jejak ke mana pun mereka membawa kami," lanjutnya.

Dia menambahkan bahwa semua jalan tetap terbuka dalam hal analisis ilmiah.

Seorang ahli epidemiologi dan spesialis kesehatan hewan dari WHO pergi ke China pada bulan Juli dalam misi pemeriksaan untuk meletakkan dasar bagi penyelidikan internasional yang lebih luas.

Sejak akhir Oktober, 10 ahli telah mengadakan pertemuan virtual rutin dengan ilmuwan China yang bekerja di bidang yang sama.

Leendertz memperingatkan bahwa "kita tidak boleh berharap bahwa setelah kunjungan pertama ke China sekitar bulan Januari, tim akan kembali dengan hasil yang meyakinkan".

Namun, dia berharap tim tersebut akan kembali dari China dengan "rencana konkret" untuk penyelidikan Tahap Dua, yang akan melihat apa lagi yang diperlukan untuk menunjukkan dengan tepat peristiwa penularan di mana virus berpindah dari hewan ke manusia.

Sementara para ilmuwan umumnya percaya bahwa kelelawar adalah spesies inang asli dari virus, hewan perantara antara kelelawar dan manusia belum diketahui.

 Leendertz mengatakan tim akan "kembali ke masa lalu" dengan memeriksa berbagai swab manusia yang disimpan oleh otoritas China, dan koleksi serum dari donor darah untuk melihat apakah orang telah terpapar virus sebelum cluster pertama dicatat pada Desember 2019.

Pendekatan lain adalah menentukan peran yang dimainkan oleh pasar basah Wuhan, tempat hewan-hewan eksotik dijual dan diperjualbelikan.

Tapi dia mengatakan jawaban untuk semua pertanyaan mungkin membutuhkan waktu. Sementara itu, dia berharap misi tersebut bisa dijauhkan dari urusan politik.

Selama ini, Presiden AS Donald Trump menuduh China menutupi wabah awal, dan mencap WHO sebagai boneka Beijing.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Penjualan LCGC di Dealer Naik, Kiriman dari Pabrik Justru Turun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:09

Putin-Prabowo Dijadwalkan Bertemu di Rusia pada 3 September

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:07

AHWA Pemilih Ketum PBNU Harus Bebas Konflik

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:40

Gegara Polis Dibatalkan, MSIG Life Hadapi Gugatan Rp20 Miliar

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:31

Kapolri Dorong Eks Anggota JI Jadi Mitra Polri Jaga Keutuhan NKRI

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:04

Gus Hans Minta AHWA Pilih Ketum PBNU Tanpa Intervensi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:45

Indonesia Desak OKI Ambil Langkah Nyata Hadapi Kejahatan Israel

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jadi Cara Kemensos Jemput Bola Putus Mata Rantai Kemiskinan

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:17

Pasar Mobil Nasional Capai Setengah Juta Unit Pada Semester I 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:46

Korut Rombak Jajaran Militer, Kim Song Gi Ditunjuk Jadi Menhan Baru

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:20

Selengkapnya