Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Upaya Iran Beli Vaksin Covid-19 Untuk Rakyatnya Tersandung Sanksi AS, Kepala Bank Sentral Geram: Catat Dalam Sejarah!

SELASA, 08 DESEMBER 2020 | 06:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kepala Bank Sentral Iran Abdolnasser Hemmati sangat geram dengan sanksi yang diberlakukan AS kepada Republik Islam Iran. Dia menyebut Amerika Serikat (AS) secara aktif berusaha mencegah upaya Iran untuk membeli vaksin Covid-19 melalui COVAX, program penyediaan vaksin corona global yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Hemmati pada Senin (7/12) mengatakan, dunia harus mencatat dalam memori sejarah bahwa upaya Iran untuk membeli vaksin melalui COVAX telah terhambat karena masalah pengiriman uang yang timbul akibat sanksi yang diberlakukan oleh AS.

“Sejauh ini, metode apa pun untuk melakukan pembayaran dan mentransfer mata uang yang diperlukan, menghadapi kendala karena sanksi yang tidak manusiawi dari pemerintah AS. Serta kebutuhan untuk mendapatkan izin dari OFAC,” tulis Hemmati dalam sebuah posting Instagram, mengacu pada Kantor Pengendalian Aset Luar Negeri dari Departemen Keuangan AS, seperti dikutip dari Al-Jazeera, Senin (7/12).


Iran, yang menghadapi pandemi Covid-19 terbesar dan paling mematikan di Timur Tengah, mengumumkan sejak lama bahwa mereka telah menjadi anggota COVAX untuk mengamankan vaksin.

Kampanye ‘tekanan maksimum’ pemerintahan Trump terhadap Teheran membuat seluruh sektor keuangan Iran masuk daftar hitam. Sanksi, yang juga menargetkan bank sentral Iran, memiliki dampak yang terdokumentasi pada akses Iran ke pengobatan vital dalam tiga tahun terakhir.

Otoritas Iran telah berulang kali mengatakan mereka menganggap sanksi sebagai contoh terorisme ekonomi dan medis terhadap rakyat Iran.

AS telah menolak permintaan sekutu tradisionalnya di Eropa dan kelompok hak asasi manusia untuk mencabut sanksi selama pandemi virus corona.

Hemmati juga menjelaskan bagaimana upaya Iran untuk membeli vaksin dihalangi oleh AS melalui koridor lain. Menurut kepala bank sentral itu, upaya Iran untuk membelanjakan dananya yang diblokir di Korea Selatan untuk membayar vaksin juga telah ditolak oleh AS.

Para pejabat Iran mengatakan dana sekitar tujuh miliar dolar AS dari cadangan negara di Korea Selatan, pembeli utama minyak Iran sebelum sanksi diberlakukan, tetap dibekukan. Sementara Korea Selatan telah gagal untuk memindahkan dana tersebut karena takut akan pembalasan AS, meskipun ada seruan berulang kali dari Iran.

Hemmati mengatakan tekanan dan ancaman oleh AS juga telah menyebabkan Dana Moneter Internasional menghalangi permintaan pinjaman Iran.

“Meskipun menyetujui hak Iran dan tidak adanya hambatan ekonomi atau hukum, IMF bahkan tidak berani mengajukan permintaan Iran untuk pinjaman kemanusiaan di dewan direktur dana tersebut,” tulis Hemmati.

Pada bulan Maret, ketika gelombang pertama pandemi melanda Iran, yang menyebabkan penguncian besar-besaran, negara tersebut meminta pinjaman darurat IMF sebesar lima miliar dolar AS yang diblokir oleh AS.

Iran akhirnya menggunakan dana kekayaan kedaulatannya sebesar satu miliar euro atau setara 1,21 miliar dolar AS sebagai upaya untuk melawan pandemi.

Hemmati mengatakan  saat ini Iran sedang mengejar jalan lain untuk membayar vaksin dan sedang bernegosiasi dengan negara lain.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya