Berita

Paus Fransiskus/Net

Dunia

China Bantah Pernyataan Paus Fransiskus Soal Etnis Uighur Teraniaya: Itu Tidak Sesuai Fakta

RABU, 25 NOVEMBER 2020 | 06:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian angkat bicara mengenai komentar Paus Fransiskus mengenai nasib etnis Uighur yang disebutnya teraniaya di Xinjiang.

Komentar Paus tentang Uighur ditulis dalam buku biografi terbarunya ‘Let Us Dream: The Path to A Better Future’.
Jubir mengatakan bahwa komentar Paus tidak didasarkan pada fakta sebenarnya. Sebaliknya, Zhao mengatakan bahwa saat ini bahwa Xinjiang telah mencapai waktu terbaiknya dalam sejarah, dan orang-orang dari semua kelompok etnis menikmati hak untuk hidup dan berkembang.

“China memiliki 56 kelompok etnis dan Uighur adalah anggota keluarga besar China yang setara. Pemerintah China selalu melindungi hak dan kepentingan sah kelompok etnis minoritas secara setara,” kata Zhao, seperti dikutip dari Global Times, Selasa (24/11).

“China memiliki 56 kelompok etnis dan Uighur adalah anggota keluarga besar China yang setara. Pemerintah China selalu melindungi hak dan kepentingan sah kelompok etnis minoritas secara setara,” kata Zhao, seperti dikutip dari Global Times, Selasa (24/11).

“Xinjiang saat ini berada pada waktu perkembangan terbaiknya dalam sejarah. Masyarakatnya sejahtera, dan orang dari semua kelompok etnis menikmati hak untuk hidup dan berkembang sepenuhnya. Kebebasan beragama mereka dijamin oleh hukum,” lanjutnya.

Dalam biografi baru berbahasa Inggris, Paus Fransiskus menggambarkan bahwa ia sering berpikir tentang orang-orang yang teraniaya.

"Saya sering memikirkan orang-orang yang teraniaya: Rohingya, Uighur yang malang, Yazidi,” ujar Paus dalam buku itu.

Buku, ‘Let Us Dream: The Path to A Better Future,’ ditulis oleh penulis biografi Prancis, Austen Ivereigh dan akan diterbitkan pada 1 Desember mendatang.

Beberapa media mengatakan pada hari Selasa bahwa ini adalah pertama kalinya Paus mengatakan orang-orang Uighur China 'dianiaya'.

Populer

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Pembangunan Gerai KDKMP di Tubaba Terkendala Masalah Lahan

Rabu, 07 Januari 2026 | 03:59

KDKMP Butuh Ekosistem Pasar Hingga Pendampingan Berkelanjutan

Rabu, 07 Januari 2026 | 03:43

Ziarah ke Makam Ainun Habibie

Rabu, 07 Januari 2026 | 03:23

Ketidaktegasan Prabowo terhadap Jokowi dan Luhut jadi Sumber Kritik

Rabu, 07 Januari 2026 | 02:59

Implementasi KDKMP Masih Didominasi Administrasi dan Kepatuhan Fiskal

Rabu, 07 Januari 2026 | 02:42

Aktivis Senior: Program MBG Simbol Utama Kebijakan Pro-Rakyat

Rabu, 07 Januari 2026 | 02:20

Kontroversi Bahlil: Anak Emas Dua Rezim

Rabu, 07 Januari 2026 | 01:53

Rosan Ungkap Pembangunan Kampung Haji Baru Dimulai Kuartal Empat 2026

Rabu, 07 Januari 2026 | 01:41

Tim Gabungan Berjibaku Cari Nelayan Hilang Usai Antar ABK

Rabu, 07 Januari 2026 | 01:24

Pemerintah Harus Antisipasi Ketidakstabilan Iklim Ekonomi Global

Rabu, 07 Januari 2026 | 01:02

Selengkapnya