Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Lewat November

SABTU, 21 NOVEMBER 2020 | 05:07 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

KELIHATANNYA November akan berlalu tanpa vaksin Covid-19. Barangnya belum datang.

Tentu vaksinasi juga belum bisa dimulai kalau belum ada lampu hijau dari BPOM -yang berwenang menguji keamanan makanan dan obat-obatan.

Desember pun kelihatannya belum bisa. Uji coba tahap tiga vaksin Sinovac di Bandung itu memang sudah selesai. Tapi perlu pengamatan tiga bulan atas 1.600 orang yang dijadikan uji coba itu.


Berarti paling cepat, menurut hitungan saya, baru bisa dimulai akhir Januari 2021.

Dan lagi barangnya juga belum tiba di Indonesia kan? Belum ada keterangan mengapa belum tiba. Mungkin karena batas November kan masih 10 hari. Belum waktunya kita bilang ''katanya November sudah masuk ke Indonesia''.
 
Belum lagi kalau masih ada masalah teknis atau administratif. Ini urusan besar dan rumit. Tidak semudah kalau mendatangkan gadis pijat dari sana.

Pun siapa tahu tawar-menawar harganya masih harus dilanjutkan. Atau jangan-jangan pembayarannya belum lunas -misalnya karena masih cari pinjaman.

Buka saja seluas-luasnya apa yang terjadi. Biar harapan besar pada vaksinasi ini terus terpelihara. Pemerintah sudah dinilai sangat cepat mengambil langkah vaksinasi ini -biarlah penilaian itu tetap positif.

Yang jelas BPOM sudah menyatakan: secara kualitas, vaksin Sinovac itu tidak ada masalah lagi. Delegasi BPOM juga sudah ke Tiongkok -melihat proses pembuatannya di sana.

Mestinya vaksin itu bisa masuk ke Indonesia sambil menunggu lampu hijau dari BPOM. Agar banyak pekerjaan persiapan bisa dilakukan di dalam negeri.

Kecuali, yang seperti itu tidak boleh.

Ketika masuk ke Indonesia nanti wujud vaksin itu adalah bulk -masih seperti ''tepung'' dalam jumlah besar. Di Bandunglah, di grup BUMN Biofarma, ''tepung'' itu dimasukkan ke botol-botol kecil. Lalu dimasukkan bungkus boks kecil.

Semoga bungkusnya itu buatan Indonesia. Pakai karton Indonesia. Dicetak di percetakan Indonesia. Pun semoga jarum suntiknya buatan Indonesia. Semoga pula botolnya.

Berarti memang ada proses pekerjaan besar di Indonesia: bayangkan jumlah yang dibotolkan itu bisa mencapai 350 juta botol. Ini bisnis skala gajah bengkak. Pun tidak akan tersentuh KPK maupun Kejaksaan Agung karena bisa berlindung di UU baru.

Begitu banyak jumlah yang harus diproduksi. Itu karena vaksinasi ini harus dilakukan dua kali -suntikan kedua dilakukan sebulan setelah yang pertama.

Jadi, ada botol untuk vaksinasi pertama -yang tugasnya memunculkan imun. Lalu ada botol kedua -yang tugasnya mem-booster imun itu.

Di seluruh dunia, vaksinasi Covid-19 memang menghadapi dua problem besar itu: masalah teknis distribusi dan masalah politik antivaksinasi.

Mundurnya jadwal vaksinasi ke bulan Januari atau Februari berarti mundur pula harapan pemulihan ekonomi. Istilah ''mundur'' itu dari saya. Di mata pemerintah mungkin tidak bisa disebut mundur. Saya tidak tahu target waktu yang ditetapkan pemerintah. Anda tahu?

BPOM menyebut, pengamatan terhadap 1.600 orang relawan uji coba itu diperlukan untuk melihat apakah ada efek samping. Juga apakah vaksin ini benar-benar efektif.

Untuk melihat efek samping tentu mudah: apakah ada keluhan yang dialami 1.600 orang itu. Sejauh ini disebutkan ''tidak ada''.

Sedang untuk melihat efektif atau tidak bisa dilihat di lab: apakah anti-Covidnya sudah muncul. Kalau sudah muncul, apakah jumlahnya cukup untuk melawan masuknya virus selama 1 tahun.

Pengamatan itulah yang memerlukan waktu. Ada pengamatan tiga bulan. Ada pengamatan 6 bulan.

Kalau BPOM mengatakan cukup tiga bulan berarti izin penggunaan secara darurat bisa dikeluarkan pada bulan Januari. Kalau harus 6 bulan berarti April.

Prosedur ini tidak bisa dicarikan jalan pintas. Ini menyangkut keselamatan manusia -meski kecepatan proses itu juga untuk keselamatan manusia.

''Hukum besi'' BPOM seperti itulah yang membuat obat temuan Universitas Airlangga tidak bisa segera diedarkan. Padahal ada Angkatan Darat dan Badan Intelijen Negara (BIN) di baliknya.

BPOM bisa ''dipecat'' oleh WHO kalau sampai tunduk pada tekanan apa pun.

Dulu, melihat gegap gempitanya keterangan pemerintah, saya kira akhir November vaksinasi sudah bisa dimulai.

Kadang terlalu optimistis itu juga kurang baik: bisa kecewa. Dan itu salah sendiri.

Dulu saya juga berpikir tidak ada pilihan lain. Ternyata Minggu ini beredar dua berita penting: vaksin dari Amerika dan dari Inggris sudah terbukti punya efektivitas sampai 95 persen. Anda tentu sudah membaca itu: Pfizer dan Astra itu.

Bahkan berita itu bisa bikin lebih lega orang tua seperti saya: efektif untuk orang berumur pun di atas 70 tahun.

Selama ini orang tua -yang justru lebih rentan Covid- harus menerima dengan lapang dada atas ketuaannya: vaksin Sinovac itu hanya untuk yang berumur 18-59 tahun.

Kini orang tua pun bisa berharap lebih tua lagi lewat vaksin Eropa dan Amerika itu.

Hidup orang tua!

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

Jokowi Sangat Menghindari Pembuktian Ijazah di Pengadilan

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:59

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Paling Rumit kalau Ijazah Palsu Dipaksakan Asli

Jumat, 27 Februari 2026 | 02:00

UPDATE

Din Syamsuddin Nilai Serangan AS-Israel Bisa Porak-porandakan Dunia Islam

Minggu, 01 Maret 2026 | 12:14

Serangan AS-Israel ke Iran Bisa Picu Konflik Berkepanjangan

Minggu, 01 Maret 2026 | 12:02

Iran Tutup Selat Hormuz, Lalu Lintas Minyak Global Terancam

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:59

UI Tegaskan Demonstran yang Maki Polisi Bukan Mahasiswanya

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:41

AS-Israel Sama Sekali Tak Peka Dunia Islam

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:33

KPK Pastikan Anggota Komisi V DPR Terseret Kasus DJKA

Minggu, 01 Maret 2026 | 11:23

Harga BBM Pertamina 1 Maret 2026: Non-Subsidi Naik Serentak, Pertalite Stabil

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:40

Serangan Trump ke Iran Retakkan Integritas Demokrasi Amerika

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:17

Khamenei Meninggal Dunia, Iran Umumkan 40 Hari Masa Berkabung

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:07

Kritik PDIP soal MBG Bisa Dipahami sebagai Peran Penyeimbang

Minggu, 01 Maret 2026 | 10:04

Selengkapnya