Berita

Konflik di Nagorno-Karabakh/Net

Dunia

Banyak Makan Nyawa Warga Sipil, Konflik Nagorno-Karabakh Dapat Dianggap Kejahatan Perang

SELASA, 03 NOVEMBER 2020 | 08:22 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil di Nagorno-Karabakh telah menyalahi hukum humaniter internasional dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

Begitu yang disampaikan oleh Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Michele Bachelet pada Senin (2/11). Ia menegaskan kembali seruan kepada Azerbaijan dan Armenia untuk menghentikan serangan terhadap kota-kota, sekolah dan rumah sakit di daerah kantong gunung.

“Sebaliknya, rumah-rumah hancur, jalanan menjadi puing-puing, dan orang-orang terpaksa mengungsi atau mencari keselamatan di ruang bawah tanah,” katanya, seperti dikutip Reuters.


"Serangan semacam itu harus dihentikan dan mereka yang bertanggung jawab untuk melaksanakannya, atau memerintahkannya, harus dimintai pertanggungjawaban," sambung dia.

Hanya beberapa jam setelah kesepakatan Jenewa pada Jumat (30/10), untuk menghindari penargetan warga sipil yang disengaja, Azerbaijan dan pasukan etnis Armenia di Nagorno-Karabakh sekali lagi menuduh satu sama lain melakukan penembakan di daerah pemukiman.

Mengutip data dari kedua sisi konflik, Bachelet mengatakan sekitar 40 ribu Azeri telah mengungsi sementara akibat pertempuran terakhir sementara sekitar 90 ribu etnis Armenia telah melarikan diri dari Nagorno-Karabakh dan saat ini berada di Armenia.

Kelompok hak asasi internasional juga menuduh kedua belah pihak menggunakan munisi tandan yang dilarang, paling baru dalam penembakan di kota Azeri Barda pada Rabu (28/10).

Secara terpisah, Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan menyerukan penyelidikan keberadaan tentara bayaran asing di Nagorno-Karabakh setelah pasukan etnis Armenia mengatakan mereka telah menangkap dua pejuang dari Suriah.

Pertempuran sengit berlanjut di sepanjang garis depan konflik yang telah menewaskan sedikitnya 1.000 orang, dan mungkin lebih banyak lagi. Nagorno-Karabakh secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan tetapi dihuni dan dikendalikan oleh etnis Armenia.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya