Berita

Presiden Prancis, Emmanuel/Net

Dunia

Tidak Cukup Meralat, Presiden Macron Juga Harusnya Minta Maaf

SENIN, 02 NOVEMBER 2020 | 13:22 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Umat Islam di dunia mengecam pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang dianggap membiarkan penistaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Peristiwa penistaan terhadap tokoh umat Islam dunia ini tidak hanya sekali di Prancis, melainkan berkali-kali.

Mendapati kecaman dari seluruh negara Islam, Macron pun meralat pernyataannya dengan menggunakan bahasa Arab yang diunggahnya di media sosial.

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid menilai ralat dari Presiden Macron tidak akan efektif jika dia belum minta maaf kepada umat Islam.


"Ralat itu akan menjadi efektif kalau pertama dia minta maaf kepada umat Islam sedunia, yang telah kembali diusik. Ini kan bukan kali pertama, tapi kali yang kesekian," tegas politisi senior PKS ini kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (2/11).

Selain meminta maaf, Hidayat juga meminta Presiden Macron untuk melaksanakan keputusan Mahkamah HAM dan Dewan HAM PBB di Mahkamah Eropa dengan menegaskan bahwa kebebasan berbicara itu tidak boleh melampaui batas dan sampai menghina menodai menistakan tokoh agama.

"Harusnya beliau menyampaikan pernyataan itu, dan itu tidak bertentangan dengan jati diri Prancis. Kan dia selalu berlindung di bawah bahwa ini jati diri Prancis. Its okay kita semua menghargai kebebasan berbicara, tapi Macron sendiri sudah memberlakukan UU anti-simitism di mana orang kalau mengkritisi Yahudi itu dihukum," katanya.

Dengan adanya UU anti-simitisme di Prancis, lanjut Hidayat, seharusnya Macron juga bisa melakukan hal yang sama kepada Islam. UU itu juga dapat diartikan kebebasan bicara itu ada batasnya.

"Kemarin kan dia dikritik oleh Erdogan dia marah, dia tarik duta besarnya. Kalau kemudia hak berbicara itu adalah hak asasi yang tidak bisa dibatasi kenapa dia marah? Jadi menurut saya kalau serius meralat dia berlaku adil dan konsisten dengan tadi meminta maaf kepada seluruh umat Islam," tegasnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Dubes Najib: Dunia Masuki Era Realisme, Indonesia Harus Bersatu

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:10

Purbaya Jamin Tak Intervensi Data BPS

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:06

Polisi Bantah Dugaan Rekayasa BAP di Polsek Cilandak

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:58

Omongan dan Tindakan Jokowi Sering Tak Konsisten

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:43

Izin Operasional SMA Siger Lampung Ditolak, Siswa Diminta Pindah Sekolah

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:23

Emas Antam Naik Lagi, Nyaris Rp3 Jutaan per Gram

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:14

Prabowo Janji Keluar dari Board of Peace Jika Terjadi Hal Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:50

MUI Melunak terkait Board of Peace

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:44

Gibran hingga Rano Karno Raih Anugerah Indoposco

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:30

Demokrasi di Tengah Perang Dingin Elite

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:15

Selengkapnya