Berita

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak/Net

Politik

Bagi Anggota Komisi VI, Tata Kelola BUMN Masih Jauh Panggang Dari Api

SENIN, 02 NOVEMBER 2020 | 00:56 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Pembenahan tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah kepemimpinan Menteri Erick Thohir masih sebatas 'hafalan', belum dilaksanakan dengan baik.

“Indikator sederhananya bisa dilihat dari berbagai masalah akut yang terjadi di tubuh BUMN seperti kasus-kasus korupsi, banyaknya BUMN yang rugi, besarnya utang dan kesulitan likuiditas,” ucap anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak lewat keterangannya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (1/11).

Ia mengurai banyak kasus korupsi belum tuntas, seperti kasus megaskandal Jiwasraya, penyuapan oleh direksi PT PAL, serta beberapa lainnya.


“Yang terbaru misalnya temuan yang diduga pemberian upeti dari PT Dirgantara Indonesia kepada sejumlah pejabat publik sebesar Rp 178 miliar,” imbuhnya.

Di sisi lain, kata Amin, masyarakat juga dikejutkan dengan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di tubuh PT Garuda Indonesia. Padahal dia merinci Juli 2020 lalu maskapai tertua di Indonesia itu menerima suntikan Rp 8,5 triliun dana talangan dari APBN lewat mekanisme mandatory convertible bond ( MCB) atau obligasi wajib konversi.

“Artinya dana talangan tersebut secara otomatis nantinya akan menjadi tambahan penyertaan modal pemerintah ke PT Garuda Indonesia,” katanya.

Amin juga menyoroti banyaknya penunjukan komisaris BUMN yang tidak berbasis kompetensi. Baik yang berasal dari tim sukses, rekomendasi partai politik, maupun unsur lainnya.

Belum lagi jumlah komisaris yang dinilai melebihi kebutuhan. Selain itu, kata Amin, temuan Ombudsman yang menyebut ada 397 orang yang duduk di kursi komisaris BUMN terindikasi rangkap jabatan, dan 167 orang terindikasi hal yang sama di kursi anak usaha.

"Hal tersebut menjadikan beban BUMN makin berat dan semakin jauh dari harapan untuk bisa mencapai tujuan pendiriannya,” jelasnya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya