Berita

Soeyanto Soe/RMOL

Publika

Selamat Jalan, Sir Sean Connery!

MINGGU, 01 NOVEMBER 2020 | 11:32 WIB

SEAN Connery adalah salah satu aktor yang saya hormati. Bukan melulu soal kualitas aktingnya tetapi gaya bicaranya, warna suaranya, dan sorot matanya. Begitu laki-laki.

Awal saya mengenal film Sean Connery sudah cukup terlambat dibanding masa popularitasnya ketika Sean Connery begitu dikenal sebagai aktor yang pertama kali memerankan James Bond.

Sementara saya lebih dulu mengenal film James Bond justru ketika diperankan oleh Roger Moore. Saya kadung kepincut oleh penampilan Roger Moore saat menonton "A View To A Kill". Apalagi di film ini soundtrack-nya dipersembahkan oleh Duran Duran, band yang musiknya mengalir di darah saya. Padahal di kala itu, terlewat oleh perhatian saya, ternyata orang-orang malah lebih banyak mengolok-olok gaya Roger Moore.


Mereka katakan bahwa Sean Connery jauh lebih stylish. Lebih cocok menggambarkan karakter James Bond. Saya tentu sulit menerima. Termasuk saat menyaksikan "Never Say Never Again", film James Bond yang diperankan oleh Sean Connery, yang saat rilisnya di tahun 1983 itu hampir bersamaan peluncurannya dengan "A View To A Kill". Di tahun 1983 ini Roger Moore beradu akting dengan Sean Connery di film yang berbeda meski keduanya sama-sama memerankan James Bond.

Di "Never Say Never Again" saya tidak melihat keistimewaan Sean Connery. Ternyata juga menurut para kritikus "Never Say Never Again" adalah film terlemah Sean Connery dalam memerankan James Bond. Praktis karena keterbatasan judul-judul film James Bond yang saya tonton waktu itu, saya pun akhirnya lebih memilih Roger Moore sebagai aktor yang lebih mengesankan sebagai James Bond.

Pesona akting Sean Connery akhirnya saya dapati setelah menonton beberapa filmnya setelah itu: "The Hunt of The Red October", "In The Name of The Rose", " Finding Forrester", dan lain-lain.

Tak diragukan, saya menempatkan Sean Connery sebagai aktor besar. Kepergiannya hari ini merupakan sebuah momen kehilangannya kita pada seorang aktor yang memiliki sikap dan gaya khas lelaki sejati. Dia pernah dinobatkan sebagai The Sexiest Man Alive. Jauh berbeda dengan aktor-aktor porselin nan glowing di film-film Korea yang diidolakan banyak kaum hawa di beberapa tahun terakhir.

Sikap tegas Sean Connery salah satunya dapat kita cermati ketika dia memutuskan berhenti dari dunia akting. Film terakhirnya adalah "The League of Extraordinary Gentlemen" yang diproduksi tahun 2003 saat usia Sean masih 73 tahun.

Padahal saat itu Sean Connery masih sangat bertenaga dan pesonanya belum pudar. Dia masih bisa menghasilkan banyak pundi-pundi. Alasannya mundur dari industri perfilman adalah karena dia bosan dan lelah bertemu dengan orang-orang idiot. Orang-orang bodoh memang menyiksa. Bahkan sutradara super kondang Steven Spielberg tidak mampu merayunya untuk kembali bekerja di depan kamera.

Sean juga amat bangga dengan identitasnya sebagai orang Skotlandia. Aksennya begitu kental. Dia tidak pernah mau mengubahnya meski di sebuah film dia harus memerankan orang Amerika atau Arab sekalipun. Tatoo di lengannya bertuliskan "Scotland Forever".

Begitu pun ketika Sean Connery memperoleh gelar bangsawan kehormatan "Sir" dari Ratu Inggris Elizabeth II pada tahun 2000. Gelar "Sir" diberikan atas jasa-jasa dan kemampuannya di bidang akting dan drama.

Ditengarai bahwa almarhum sebetulnya telah hendak diberikan gelar tersebut beberapa tahun sebelumnya. Namun dia menolak bila upacara penganugrahannya tidak dilakukan di tanah Skotlandia. Sean Connery akhirnya memperoleh keistimewaan itu.

Semoga wafatnya Sean Connery mampu mengingatkan kita akan sebuah arti kejantanan dan kharisma. Laki-laki bukanlah kaleng krupuk yang dicat merah muda dan mengkilat. Laki-laki bukanlah yang memiliki senyum menggemaskan. Namun laki-laki sejati adalah yang memiliki sorot mata yang tajam, hangat, dan melindungi.  Dia adalah Sean Connery! May he rest in peace...
Soeyanto Soe
Pemerhati Ruang Publik


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya