Berita

Ilustrasi/Repro

Publika

Kaum Rebahan Dalam Bingkai Digital

JUMAT, 30 OKTOBER 2020 | 13:40 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

REVOLUSI dimulai dari agenda rebahan. Itu tagline generasi santuy. Jadi bila ada yang bertanya apa kontribusi dari milenial? Jelas tidak bisa menggunakan kacamata retro yang klasik. Generasi ini harus dilihat dari kondisi kekinian yang update dan online.

Tetapi ada benarnya juga soal pernyataan, agar para pemuda ini jangan dimanjakan. Jadi, perlu dibangun kemandirian generasi muda, jangan biarkan para penerus bangsa mendapatkan jalur khusus -privilege atas nama besar dinasti dan trah keluarga. Seluruh proses yang dilalui harus dimulai dari awal, menghindari pengistimewaan.

Wejangan ini harus dibaca secara proporsional, agar kaum muda tidak merasa direndahkan, melainkan justru terlecut oleh semangat untuk membuktikan dirinya, yang bahkan jauh lebih baik dari generasi sebelumnya. Cemungud ea.


Melalui pembelajaran sejarah, kita memahami bahwa peran kaum muda menciptakan situasi pembeda. Sumpah Pemuda 1928, yang telah 92 tahun silam adalah momentum dari tonggak kesejarahan. Kini diperingati dengan tema "Bersatu & Bangkit", tak lekang dimakan zaman.

Kontribusi pemuda di seputar kemerdekaan, sebagaimana terekam oleh Benedict Anderson dalam Bukunya "Revoloesi Pemoeda Pendudukan Jepang dan Perlawanan Pemuda 1944-1946", memberikan gambaran utuh bagaimana momentum proklamasi kemerdekaan dicetuskan melalui serangkaian gerakan kaum muda, hingga terjadi peristiwa Rengasdengklok.

Pada perjalanannya, pascakemerdekaan, berbagai momentum juga melibatkan peran serta kaum muda. Transisi Orde Lama ke Orde Baru 1965-1966, juga dipelopori gerakan muda, termasuk pelajar dan mahasiswa. Tidak berhenti disitu, peristiwa Malari 1974 yang menolak berbagai pembangunan mega proyek termasuk modal asing, hadir sebagai andil para pemuda.

Hingga fase Reformasi, 1998, yang ditandai dengan runtuhnya bangunan kekuatan politik Orde Baru, juga terjadi karena tekanan dan kerja gerakan kaum muda. Pada setiap latar sosial politik yang berkembang, kaum muda memainkan peran dan kontribusinya, tidak bisa disangkal lagi.

Milenial yang Digital

Dunia terus berubah secara dinamis. Karakter setiap generasi tidak berubah. Pemuda tetap menjadi entitas sosial yang selalu mampu beradaptasi dengan perubahan.

Merujuk kutipan indah Master Oogway dari film Kung Fu Panda, kemarin adalah masa lalu, sementara masa depan adalah misteri, maka hari ini adalah sebuah hadiah -"yesterday is history, tomorrow still a mystery, but today is a gift. That is way it's call a present".

Setiap periode masa ada pelaku sejarahnya, dan pemuda selalu menjadi pembedanya. Mereka adalah hasil konstruksi dan bentukan dari zaman yang melingkupinya. Di era digital, koneksi internet yang semakin baik, dunia online adalah ruang realitas baru selaras laku jaman.

Milenial dan generasi setelahnya, adalah digital native yang hidup pada masanya. Menggunakan ukuran sepatu yang sama bagi kaki yang berbeda jelas kekeliruan. Dalam era digital, yang membentuk komunitas jaringan, di mana persebaran informasi terjadi secara masif dan realtime, terdapat keberlimpahan waktu luang.

Produktivitas tidak bisa lagi diukur secara fisik, bahkan seiring dengan pandemi, kita dipaksa untuk memperkuat struktur kehidupan digital, dimana segala sesuatu dikerjakan di ruang privat yakni di rumah-rumah kita. Maka relevansi kebaharuan untuk memahami generasi milenial, harus juga di re-update.

Milenial yang tampak apatis, hidup dengan dunianya sendiri, bahkan terkesan apolitis yang alergi bila berhadapan dengan isu-isu politik, bukan tidak tertarik untuk bersuara. Tetapi lagi-lagi dengan gaya dan cara-cara baru. Media sosial menjadi bentuk baru ruang ekspresi publik.

Banyak kritik mengemuka, dan sebagaimana biasa kaum muda tidak perlu ambil peduli untuk itu. Seperti misalnya, jarang membaca, tidak terlibat dalam diskusi pemikiran yang mendalam, bertindak sesuka hati dengan kecenderungan merusak, itu jelas image yang terkonstruksi. Tetapi pemuda adalah produk zaman.

Bisa jadi generasi kali ini mengalami kesulitan membaca literatur tebal dalam buku yang lebih dari 200 halaman, tetapi mereka mampu memahami, bercakap serta meringkas dalam 160 karakter pada platform media sosial. Diskusi filosofis menjadi lebih receh. Bahkan poster dengan diksi akademik berubah menjadi meme.

Petisi online, hingga persetujuan digital melalui mekanisme like, share, hingga retweet dan hashtag menjelma. Dengan begitu demonstrasi atas revisi UU KPK sampai penolakan omnibus law Cipta Kerja adalah karya milenial. Unjuk rasa dan kerusuhan, harus dilihat secara berbeda dan terpisah. Tidak bisa digeneralisasi dan disamakan.

Mungkin juga tulisan ini sudah terlalu panjang menjelaskan kiprah milenial, tanpa upaya glorifikasi. Tetapi sudah sepantasnya gelanggang kehidupan bersama diberikan sebagai ruang gerak bagi tumbuh dan berkembangnya generasi masa depan. Panjang umur perjuangan, tetap santuy sambil rebahan.

Yudhi Hertanto

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya