Berita

Mantan Presiden AS, Barack Obama saat kampanyekan Joe Biden/Disway

Dahlan Iskan

Ivanka Lincoln

RABU, 28 OKTOBER 2020 | 05:47 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''.

Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu benar. Hillary pun menang. Perolehan suaranya 6 juta lebih banyak dari Donald Trump. Tapi nyatanya Trump-lah yang jadi presiden.

Itulah trauma terbesar sekarang ini di sana. Apalagi satu-satunya lembaga survei yang dulu mengunggulkan Trump kali ini juga masih sama.


Mengapa seperti itu?

Dulu itu, kata mantan Presiden Barack Obama, Demokrat terlalu merasa di atas angin. Akhirnya banyak orang yang tidak mau ke TPS. Perasaan mereka: kan sudah pasti menang.

"Kali ini tidak boleh begitu. Jangan lagi. Kali ini saja," ujar Obama yang akhir minggu lalu ikut kampanye mendukung Joe Biden —yang dulu menjabat wakil presidennya itu.

Gara-gara kemalasan dulu itu, katanya, kita akhirnya punya presiden yang tiap hari bikin bingung.

"Bagaimana seorang presiden Amerika Serikat tiap hari me-retweet teori konspirasi," ujar Obama. Kok bisa. Seorang presiden lho. Presiden Amerika lho.

Ketika menggambarkan itu Obama begitu atraktifnya. Mimik sewotnya bikin geregetan. Melihat pidatonya itu saya sampai tertawa seorang diri.

Obama tidak habis pikir. Kok ada presiden seperti itu. Ibaratnya, kalau di Indonesia, kata saya, seorang doktor bisa percaya ada orang mampu menggandakan uang.

Kampanye itu sendiri dilakukan secara drive in. Yakni di satu tanah lapang di Pennsylvania, tempat kelahiran Biden. Yang hadir tetap di dalam mobil masing-masing. Kalau ada bagian pidato yang menarik mereka membunyikan klakson.

Cara itu dilakukan karena ada pandemi Covid-19.

Itu yang membedakan dengan kampanye Trump yang konvensional.

Trump mengejek kampanye Biden sepi. Tidak ada yang tertarik datang.

Biden mengejek Trump sebagai superspreader penyebar Covid-19.

Empat tahun lalu, Trump menang tipis di basis Demokrat ini. Kali ini Biden tidak mau kalah di kampungnya sendiri. Kali ini Biden memang bukan Hillary. Waktu itu Amerika masih sulit menerima presiden perempuan. Maka sudah betul bahwa kalau Megawati ingin jadi presidennya di Indonesia.

Dulu kelompok laki-laki tua anti Hillary. Kini memihak Biden.

Dulu hanya sedikit tokoh Republik yang berani terang-terangan memihak Hillary. Kini terlalu banyak orang Republik yang mendukung Biden.

Bahkan yang ikut mati-matian "jangan sampai Trump terpilih lagi" adalah satu organisasi yang didirikan oleh para aktivis Republik. Namanya: Lincoln Project.

Apa saja yang ganjil dari Trump dibuat meme oleh Lincoln Project. Tiada hari tanpa meme yang memojokkan Trump.

Lincoln Project ini berbentuk PAC (political action committee). Di Amerika banyak sekali organisasi berbentuk PAC seperti itu. Ada yang sementara, ada yang permanen.

Ada PAC yang mendukung Trump, ada pula yang mendukung Biden. Bahkan lebih banyak lagi PAC yang mendukung calon-calon anggota kongres atau senat. Masih ada lagi PAC yang mendukung calon gubernur atau calon wali kota.

Semua PAC boleh menerima sumbangan dari masyarakat. Tapi PAC tidak tergabung dalam tim sukses masing-masing calon.

Biden misalnya, tidak bisa mengintervensi PAC Lincoln Project. Mereka mendukung Biden tapi bukan tim Biden. Mereka tidak perlu berkoordinasi dengan calon yang didukung.

Lincoln Project baru didirikan 17 Desember tahun lalu. Delapan orang pendirinya, semuanya, aktivis Partai Republik. Salah satunya Anda sudah kenal: George Conway yang terkenal itu. Ia suami Kellyanne yang menjadi manajer kampanye Donald Trump.

Suami-istri ini akhirnya ambil putusan yang mengharukan. George mundur dari Lincoln Project. Kellyanne mundur dari manajer kampanye Trump. Itu demi putri mereka yang sudah menginjak remaja. Sang putri begitu terjepit di antara bapak-ibunyi yang bertempur keras di dua kubu yang berseberangan.

"Kami sendiri tidak pernah mendukung Capres dari Demokrat. Tapi kali ini kami tidak mau Trump," ujar George yang juga seorang pengacara itu.

Lincoln Project diambil dari nama Presiden Abraham Lincoln. Yakni presiden yang kembali menyatukan Amerika Serikat –lewat Perang Sipil.

Trump mereka anggap sebagai pemecah belah rakyat Amerika. Lincoln Project ingin rakyat Amerika bersatu kembali dengan cara jangan sampai Trump menjadi presiden lagi.

Mereka itu berhasil mengumpulkan dana sebesar 42 juta dolar. Sekitar Rp 700 miliar bukan?

Minggu lalu Lincoln Project pasang baliho besar di simpang empat teramai di pusat kota New York. Tepatnya di Time Square. Tempat inilah yang digelari sebagai simpang empat jagad raya. Keinginan terbesar orang kalau ke New York adalah mejeng di sini.

Suatu saat saya ajak teman saya, John Mohn, ke Time Square. Kami berangkat naik mobil. Perlu waktu dua hari dari kampungnya di pedalaman Kansas.

"Sebagai orang Amerika, saya pun merasa asing di tempat ini," katanya.

Kenapa?

"Saya perhatikan semua orang  menggunakan bahasa asing yang berbeda-beda," katanya. "Jarang sekali ada yang bicara dengan temannya dalam bahasa Inggris," tambahnya.

Di situlah Lincoln Project mencuri perhatian. Terutama perhatian media masa.

Baliho yang disewa Lincoln Project itu tinggi dan besar. Di satu sisi dipasang foto putri Trump, Ivanka, dengan ekspresi tersenyum. Di sebelah foto itu ditulis angka jumlah orang yang mati akibat Covid-19 di New York.

Di sisi sebelahnya dipasang foto suami Ivanka, Jared Kushner, berikut kalimat yang pernah ia ucapkan. Bunyinya: "Itu urusan mereka sendiri". Jared memang pernah mengucapkan kalimat itu tapi di acara yang lain.

Pengacara Ivanka langsung memberikan keterangan pers: akan memperkarakan Lincoln Project. Termasuk akan minta ganti rugi yang sepadan.

Yang akan diperkarakan ternyata balik menantang. Bahkan akan melakukan jenis kampanye seperti itu lebih nakal lagi. "Kalau pun itu dianggap menghina masih belum sepadan dengan hinaan yang sering dilancarkan Trump," katanya.

Di Indonesia jenis kampanye seperti ini masih dikategorikan ''serangan udara''. Kurang efektif. Yang lebih diperlukan adalah ''serangan darat''. Bahkan serangan fajar.

Pun, serangan fajarnya sendiri tidak penting –warna isi amplopnya itu yang penting.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya