Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Vaksin Flu

SELASA, 27 OKTOBER 2020 | 04:20 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

ORANG yang tidak teguh mudah terombang-ambing. Apalagi di musim pandemi seperti ini.

Lihatlah betapa banyak orang yang ikut-ikutan suntik vaksin anti-flu. Di negeri tropis ini. Lalu tiba-tiba ketakutan. Yakni ketika tersiar berita 36 orang meninggal di Korea Selatan.

Diduga, menurut berita itu, terkait dengan vaksinasi anti-flu di sana.


Pun Singapura, begitu sigap mengambil langkah: langsung menghentikan keinginan warganya untuk suntik vaksin anti-flu.

Tahun ini Korea Selatan memang menggalakkan vaksinasi anti-flu. Semacam diwajibkan. Khususnya bagi anak-anak dan orang tua. Itu mencakup sekitar 20 persen dari jumlah penduduk.

Pun, Gratis.

Pemerintah Korsel memang selalu pandai antisipasi. Agar tidak kecolongan. Kepekaan seperti itu pula yang membuat Korea Selatan termasuk sukses menangani Covid-19.

Sampai kemarin korban meninggal di sana sebanyak 457 orang. Yang tertular 26.000 orang. Bandingkan dengan jumlah penduduknya yang 55 juta jiwa.

Sebentar lagi Korea Selatan memasuki musim dingin yang berat. Di musim seperti itu biasanya wabah flu merajalela. Itu sama dengan negara lain yang memiliki empat musim.

Tapi musim flu tahun ini akan sangat berbeda. Yakni bersamaan dengan pandemi Covid-19. Yang gejalanya mirip-mirip. Maka di sana pun ada istilah baru: twindemic. Pandemi yang bersatu dengan epidemi.

Dan itu tidak boleh terjadi di Korsel. Karena itu sejak tanggal 13 Oktober lalu vaksinasi anti-flu dilakukan. Sampai kemarin sudah 14 juta orang yang disuntik. Termasuk 9 juta anak-anak.

Flu memang termasuk wabah tahunan yang berat di negara empat musim. Termasuk di Amerika. Di Korsel, tahun 2019 saja, yang meninggal 200.000 orang. Itu akibat flu. Belum ada Covid-19 waktu itu.

Bayangkan kalau musim dingin tahun ini benar-benar terjadi twindemic. Betapa mengkhawatirkan.

Karena itu vaksinasi anti-flu harus dilakukan.

Bagaimana dengan berita 36 orang meninggal dunia itu?

Memang yang meninggal itu ada. Jumlahnya juga benar segitu. Tapi setelah diteliti tidak ada hubungannya dengan vaksinasi anti-flu. "Kalau pun ada efek samping yang berat, itu hanya mengenai 1 dari 10 juta orang yang menjalani vaksinasi anti-flu," ujar Prof Ki Moran, pimpinan pusat penyakit kanker di Korsel kepada CNN tiga hari lalu.

Pemerintah di sana sebenarnya sudah cukup hati-hati. Misalnya saat menetapkan tanggal dimulainya vaksinasi itu. Semula gerakan itu direncanakan mulai 1 Oktober. Tiba-tiba ada laporan dari lapangan: 5 juta vaksin ditemukan disimpan di ruang biasa. Bukan di ruang pendingin khusus.

Maka pemerintah memutuskan menunda vaksinasi. Setelah semua beres barulah 13 Oktober dimulai. Yakni setelah dilakukan penelitian ulang.

Saat itu, akhir September itu, suhu udara di Korea Selatan memang sudah mulai dingin.. Berarti masih dalam batas aman bagi vaksin tersebut.

Namun pihak oposisi langsung mengaitkan berita meninggalnya 36 orang tersebut dengan kesalahan penyimpanan 5 juta vaksin itu. Maka itu langsung menjadi rumor yang menakutkan.

Syukurlah bahwa semuanya sudah jelas: tidak ada hubungan langsung vaksinasi antiflu dengan 36 kematian. Mereka meninggal akibat penyakit yang lain.

Padahal partai oposisi di sana sudah telanjur dengan keras minta agar vaksinasi dihentikan.

Pemerintah tegas: jalan terus.

Bagaimana dengan di Tiongkok? Yang juga punya musim dingin yang berat? Terutama di bagian utaranya?

"Di sini tidak diwajibkan. Saya sendiri tidak akan melakukan vaksinasi anti-flu," ujar teman saya di kota Dalian, yang bersebelahan dengan Korea.

Tiongkok dianggap sudah bisa mengendalikan Covid-19. Kehidupan di Tiongkok sudah kembali normal.

Semua kasus Covid-19 yang ditemukan belakangan, ternyata dibawa orang yang datang dari luar negeri.

Misalnya yang awal Oktober lalu ditemukan di kota Qingdao, Shandong. Yang letaknya di dekat Korea. Di sana tiba-tiba ditemukan penderita Covid-19 sekaligus 13 orang.

Maka langsung terjadi kepanikan. Dikira Covid mewabah lagi. Sempat dianggap itu akibat serunya hari libur emas di sekitar hari kemerdekaan. Sampai-sampai Qingdao harus di lockdown lagi satu minggu. Lalu, 9 juta warganya di-swab test. Selesai dalam 5 hari.

Semua negatif.

Akhirnya ditemukan virus baru tersebut masuk lewat galangan kapal. Di Qingdao memang banyak galangan kapal besar. Termasuk yang memperbaiki kapal dari luar negeri.

Qingdao pun kembali normal.

Hari-hari ini ditemukan lagi kasus baru Covid-19. Tapi di daerah yang sangat terpencil. Dekat kota Kashgar –yang saya kunjungi tahun lalu. Itu daerah Muslim di sebelah sananya gurun pasir Ghobi. Sudah dekat dengan perbatasan Kazakhstan. Kota itu kini lagi di lockdown total.

Kebetulan kotanya dikelilingi padang pasir.

Bagaimana dengan orang Beijing?

"Saya sendiri jadinya perlu mikir-mikir untuk vaksinasi anti-flu," ujar teman saya yang di Beijing. Di sana suntik vaksin antiflu biayanya 200 RMB. Atau sekitar Rp 450.000. "Kalau tidak Anda tanya saya tidak terpikir," tambahnya.

Sudah berapa dingin Beijing di malam hari?

"Tadi malam sudah 5 derajat," jawabnya.

Di Korea Selatan pun kini banyak yang vaksinasi mandiri. Terutama setelah ada berita kematian itu. Mereka pilih membeli vaksin sendiri tapi yakin daripada gratis tapi ragu.

Di Indonesia juga begitu. Banyak yang menjalani vaksinasi anti-flu ini. Plus pneumonia. Dengan biaya Rp 800.000. Mereka juga ikut heboh saat ada berita kematian di Korsel. Semoga, dengan membaca ini sudah bisa tenang kembali.

Tapi ada juga yang memanfaatkan berita itu untuk menjatuhkan vaksinasi Covid-19. Mereka mencampur aduk pengertian vaksin anti-flu dengan vaksin Covid-19. Pokoknya vaksin itu bahaya, kata mereka.

Beruntunglah pedagang vaksin anti-flu. Termasuk di negara yang tidak punya musim dingin yang berat ini.

Sayang tidak ada yang jual vaksin anti ketidakadilan.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Jadi Tersangka Tanpa Diperiksa, Pakar: Bertentangan dengan Konstitusi

Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:18

BPKH Harus Diperkuat demi Jaga Keberlanjutan Keuangan Haji

Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:12

Maroko dan Prancis Perkuat Kemitraan, 11 Perjanjian Baru Disepakati

Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:02

Halaqah Pra-Muktamar Bahas Arah Kepemimpinan NU di Abad Kedua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:02

Catatan Akhir Pekan Saham MD Entertainment: Terkoreksi, tapi Magnetnya Belum Pudar

Sabtu, 18 Juli 2026 | 15:00

Cara Nonton Final Piala Dunia 2026, Spanyol Vs Argentina

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:49

Nelayan Pulau Panggang Kesulitan BBM

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:45

China dan RI Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Airlangga: KEK Batang Jadi Fokus Investasi

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:30

Sektor Teknologi dan Energi Topang Reli Indeks Kompas100 Sepekan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:14

Enam Titik Penginapan Siap Tampung Ribuan Peserta Muktamar NU

Sabtu, 18 Juli 2026 | 14:01

Selengkapnya