Berita

Madrid/Net

Dunia

Virus Corona Bangkit Lagi, Spanyol Lockdown Madrid

KAMIS, 01 OKTOBER 2020 | 08:56 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Madrid kembali di-lockdown. Warga ibukota dilarang bepergian, kecuali untuk perjalanan penting.

Aturan baru tersebut diumumkan pada Rabu (30/9) sebagai langkah untuk menghentikan kebangkitan infeksi virus corona di sana.

"Kesehatan Madrid adalah kesehatan Spanyol. Madrid istimewa," begitu kata Menteri Kesehatan Salvador Illa saat mengumumkan peraturan baru yang akan mulai berlaku dalam beberapa hari mendatang tersebut, seperti dimuat Reuters.


Madrid yang memiliki 3 juta penduduk di sembilan kota dan sekitarnya akan menutup perbatasan bagi orang luar untuk kunjungan tidak penting.

Warga baru diizinkan untuk melintasi batas jika bekerja, skeolah, kunjungan dokter, atau berbelanja.

Langkah-langkah lain adalah memperketat jam malam bagi bar dan restoran, dari pukul 1 pagi menjadi 11 malam.

Taman dan taman bermain juga akan ditutup. Sementara pertemuan sosial akan dibatasi hingga enam orang.

Madrid dilaporkan memiliki 735 kasus per 100 ribu orang, salah satu yang tertinggi dari semua wilayah di Eropa dan dua kali lipat tingkat nasional.

Namun di tengah pemberlakuan lockdown tersebut, otoritas lokal menyebut keputusan tersebut tidak memiliki dasar dukum.

Padalnya, majelis regional konservatif telah memberlakukan lockdown lokal di 45 distrik, sebagian besar distrik miskin, seringkali dengan populasi imigran yang tinggi.

Tetapi pembatasan yang lebih luas yang diumumkan oleh Illa membuat pemerintah pusat yang dipimpin Sosialis mengesampingkan otoritas daerah.

"Keputusan itu tidak sah secara hukum," ujar kepala kesehatan regional, Enrique Ruiz Escudero.

"Pemerintah Spanyol sedang terburu-buru untuk campur tangan di Madrid tetapi tidak untuk mengalahkan virus," sambungnya.

Dalam dua pekan terakhir, Spanyol sudah melaporkan lebih dari 133 ribu kasus Covid-19, di mana sepertiganya berada di Madrid.

Totalnya saat ini Spanyol memiliki lebih dari 769 ribu kasus atau tertinggi di Eropa Barat, dengan lebih dari 31 ribu kematian.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya