Berita

Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin; Ketua PKR, Anwar Ibrahim; dan Mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad/Net

Dunia

Kegagalan Mosi Tidak Percaya Mahathir Bangkitkan Semangat Anwar Ibrahim Jatuhkan Muhyiddin Yassin

SENIN, 28 SEPTEMBER 2020 | 21:50 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pertarungan politik memperebutkan kursi perdana menteri Malaysia beberapa waktu terakhir diawali dengan perselisihan Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohamad.

Anwar yang berkoalisi dengan Mahathir dalam Pakatan Harapan (PH) memenangkan pemilihan umum 2018. Ketika itu, keduanya berjanji untuk berbagi kue kekuasaan, di mana Mahathir akan memberikan tiga tahun masa jabatan akhirnya kepada Anwar.

Penagihan janji Anwar kepada Mahathir kemudian memantik api-api di koalisi internal PH. Perpecahan pun terjadi.


Mahathir yang dianggap enggan memenuhi janjinya kemudian mengumumkan pengunduran diri, baik sebagai perdana menteri maupun ketua Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) pada 24 Februari.

Di tengah perselisihan Ketua Partai Keadilan Rakyat (PKR) dan Mahathir yang masih memperebutkan kursi, sosok Muhyiddin Yassin muncul.

Presiden Bersatu itu kemudian memanfaatkan peluang dengan strategi politik pintu belakang, menghimpun dukungan anggota parlemen, membentuk koalisi baru yang saat ini dikenal sebagai Pekatan Nasional (PN). Itu semua dilakukan Muhyiddin ketika Anwar dan Mahathir sibuk berdebat.

Dengan kesempatan tersebut, Muhyiddin berhasil mendapatkan akses ke Perdana Putra dan langsung dikukuhkan oleh Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah pada awal Maret.

Tak ayal hal tersebut membuat Mahathir dan Anwar kesal, bahkan mungkin marah dengan juniornya itu.

Kegagalan Mosi Tidak Percaya Mahathir Mohamad

Mahathir yang sakit hati merasa dikhianati oleh Muhyiddin kemudian mengajukan mosi tidak percaya pada 4 Mei kepada parlemen. Memang diterima, namun mosi tersebut tidak diperdebatkan.

Pandemi Covid-19 menjadi alasan parlemen yang mayoritas pendukung Muhyiddin, hanya membuat dua sidang. Pertama terkait pengesahan anggaran, kedua pidato dari Yang di-Pertuan Agong.

"Nah Mahathir itu ingin memanfaatkan sidang itu (pidato Yang di-Pertuan Agong) untuk membaca mosi tidak percaya pada Muhyiddin," ujar Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Dr. Sudarnoto Abdul Hakim.

Sayangnya pidato Yang di-Pertuan Agong tidak mengizinkan adanya debat karena langkah-langkah pencegahan pandemi.

Klaim Anwar Ibrahim Meragukan

Berbicara dalam diskusi RMOL World View bertajuk "Rebutan Kursi Perdana Menteri Malaysia" pada Senin (28/9), Sudarnoto mengatakan kegagalan Mahathir tersebut membuat Anwar yang juga marah pada Muhyiddin mulai menyiapkan rencana.

"Mahathir gagal mengajukan mosi tidak percaya. Anwar Ibrahim kan nonton aja nih. "Wah dia (Mahathir) gagal, mudah-mudahan saya bisa". Dia bekerja terus pintunya untuk menghimpun dukungan," terang Associate Professor FAH UIN Jakarta itu.

Hingga akhirnya pada Rabu (23/9), Anwar mendeklarasikan klaimnya bahwa ia memiliki mayoritas dukungan di parlemen untuk membentuk pemerintahan baru.

Parlemen Malaysia sendiri memiliki 222 kursi. Sehingga untuk mendapatkan suara mayoritas Anwar harus memiliki lebih dari 120 kursi, suatu hal yang tampaknya diragukan banyak pihak, termasuk Sudarnoto.

"Wong ya kemarin saja di Sabah dia kalah," kata Sudarnoto.

Meski begitu, Sudarnoto mengatakan, manuver yang dilakukan Anwar dengan menyatakan klaim adalah satu hal yang penting bagi seorang politisi.

"Sebagai politisi dia perlu klaim-klaim seperti itu, "saya akan bisa jatuhkan Muhyiddin"," sambungnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya