Berita

Sudarnoto A. Hakim dalam program RMOL World View/RMOL

Dunia

Akankah Strategi Politik Pintu Belakang Berhasil Melanggengkan Muhyiddin Yassin Di Kursi Perdana Menteri Malaysia?

SENIN, 28 SEPTEMBER 2020 | 16:15 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Malaysia baru-baru ini mengundang sorotan dunia dengan "penggung politik"-nya yang kembali menghangat. Adalah Anwar Ibrahim, tokoh oposisi kawakan di negeri jiran yang kembali muncul ke hadapan publik dengan klaim bahwa dia siap membentuk pemerintahan baru dengan mengumpulkan mayoritas parlemen.

Klaim Anwar sempat memicu ketidakpastian politik di tingkat federal. Meski begitu, Perdana Menteri Muhyiddin Yassin meragukan klaim tersebut. Sejumlah pengamat d Malaysia juga ada yang menilai bahwa klaim Anwar tidak lebih dari sekedar "gertak sambal" belaka.

Terlebih, hasil pemilu yang digelar di negara bagian Sabah pekan lalu menunjukkan bahwa koalisi Gabungan Rakyat Sabah (GRS) yang didukung oleh Muhyiddin berhasil mengumpulkan suara mayoritas. Meski bukan penentu, namun pemilu di Sabah merupakan momen yang sangat penting di perpolitikan Malaysia.


Akan tetapi, jika kita mau merunut kembali momen politik di Malaysia ke belakang, "menghangatnya" panggung politik di Malaysia telah terjadi setidaknya sejak Mahathir Mohammad memutuskan untuk mundur dari kursi Perdana Menteri Malaysia pada 24 Februari lalu.

Setelah mundurnya Mahathir, Raja Malaysia Yang-di-Pertuan Agong Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah kemudian menunjuk kembali Mahathir sebagai Perdana Menteri interim.

"Pada saat itu, untuk menjaga agar kekuasaan tidak vakum, maka perdana menteri interim ditunjuk, tugasnya adalah untuk menyiapkan proses-proses politik berikutnya," kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Dr. Sudarnoto Abdul Hakim dalam diskusi mingguan RMOL World View yang diselenggarakan oleh Kantor Berita Politik RMOL.ID berajuk "Rebutan Kursi Perdana Menteri Malaysia" (Senin, 28/9).

Namun, di tengah situasi tersebut, muncul "drama" politik lainnya di Malaysia.

"Tapi di tengah-tengah situasi itu, Muhyiddin yang juga termasuk kadernya Mahathir, membelot dan dengan partai yang dia buat sendiri dia memanfaatkan situasi tersebut supaya dia memperoleh keuntungan politik," jelasnya.

Sudarnoto menjelaskan bahwa pada saat itu, Yang-di-Pertuan Agong Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah kemudian memanggil satu persatu anggota parlemen dan menanyakan soal siapa tokoh yang mereka anggap layak duduk di kursi Perdana Menteri selanjutnya. Mayoritas dari mereka pun menyebut nama Muhyiddin.

"Ini adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Malaysia," jelas Sudarnoto.

Tidak disangka, Raja Malaysia pun kemudian memutuskan untuk sepakat bahwa Muhyiddin akan menjadi perdana menteri selanjutnya.

"Di momen ini, Mahathir merasa ditikung oleh Muhyiddin karena dia diam-diam mengumpulkan dukungan di parlemen. Itu yang disebut dengan politik pintu belajang," jelas Sudarnoto yang juga merupakan Associate Professor FAH UIN Jakarta.

Keputusan itu pun menjadi momentum bersejarah tersendiri bagi Malaysia.

"Ini preseden pertama dalam sejarah Malaysia, di mana pemerintahan negara yang disahkan oleh Yang-di-Pertuan Agong tidak melalui pemilu," papar Sudarnoto.

"Muhyidin sama saja seperti melakukan kudeta dalam kekosongan dengan memanfaatkan kelemahan Mahathir," sambungnya.

"Itu adalah hasil dari gabungan antara nasib baik, rencana, trik-trik politik dan juga strategi (yang dilancarkan Muhyiddin)," ujar Sudarnoto.

Namun belum lama duduk di kursi Perdana Menteri, Muhyiddin kembali dihadapkan dengan ujian politik yang kali ini datang dari Anwar Ibrahim.

Meski tampaknya dia memandang sebelah mata klaim Anwar dan pemilu di Sabah menunjukkan bahwa pihaknya unggul, namun belajar dari sejarah, perpolitikan di Malaysia kerap kali penuh dengan kejutan.

"Kita lihat saja ke depannya, apakah Muhyiddin dapat melenggang terus di kursi perdana menteri atau tidak," demikian Sudarnoto.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 1 Masih Dibuka, Begini Caranya

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:59

Sesat Pikir Program MBG

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:45

Demi Lunasi Utang Pinjol, Seorang Wanita Hampir Disetubuhi Debt Collector

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:18

Cinta dan Benci Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:59

Saatnya Generasi Milenial Tampil Tentukan Nasib Bangsa di Pemilu 2029

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:40

Sumpah Sudaryono dan Donny

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:20

49 Startup Binaan IPB University Didorong jadi Produk Unggulan Nasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:50

Prabowo-Anies Flagships

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:25

TelkomGroup Perkuat Peran Penggiat Budaya Lewat CAMG 2026

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:59

Negara OKI Didesak Bantu Iran Hadapi Agresi AS dan Israel

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:45

Selengkapnya