Berita

Putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuning Raka (kanan) dan menantunya, Bobby Afif Nasution/Repro

Politik

Jokowi Harus Hati-hati, Jangan Sampai Paksa Pilkada Hanya Demi Solo Dan Medan

RABU, 23 SEPTEMBER 2020 | 06:31 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Sudut pandang keilmuan epidemiologi harus menjadi tolok ukur utama bagi Presiden Joko Widodo dalam menentukan keberhasilan seluruh bidang di masa pandemi Covid-19, baik bidang ekonomi maupun politik.

Hal itu disampaikan Direktur Legal Culture Institute, M Rizqi Azmi berkenaan dengan hasil rapat kerja Komisi II DPR RI bersama dengan pemerintah dan penyelenggara pemilu yang memutuskan Pilkada Serentak 2020 tetap digelar bulan Desember tahun ini.

"Seyogianya presiden meletakan prioritas regulasi kesehatan menjadi acuan dalam membuat regulasi pelaksanaan pilkada," kata M Rizqi Azmi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/9).


Hal itu dinilai penting agar ke depan keputusan yang diambil benar-benar demi kepentingan rakyat, bukan karena ada agenda lain.

"Jangan sampai presiden terksesan memaksakan pilkada karena kepentingan pribadi terkait dua keluarganya yang ikut bertarung di Solo (Gibran Rakabuming) dan Medan (Bobby Nasution)," jelasnya.

Di sisi lain, ia sepakat dengan usulan penundaan pilkada. Sebab dengan ditunda, daerah-daerah yang akan melangsungkan pilkada bisa mengadaptasi penyelarasan anggaran, khususnya menyelesaikan soal pendataan bansos dan penyalurannya di masa pandemi Covid-19.

Sebab berdasarkan data yang ia miliki, hingga September 2020, dana yang dikucurkan pemerintah pusat masih banyak bertengger di Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) dan belum tersalurkan dengan baik.

"Kekhawatiran kami, dana yang tersimpan tersebut bisa jadi akan digelontorkan mendekati hari H atau di hari H pemilihan oleh pihak-pihak atau oknum yang bermain mengganti bansos dengan suara yang didapat dari masyarakat yang dibantu," urainya.

Selain itu, kepentingan partai politik juga harus berpihak kepada keinginan dan keselamatan masyarakat karena pada saat ini, hukum tertinggi adalah keselamatan rakyat.

"Sehingga opsi penundaan pilkada jangan dianggap sebagai langkah politis saling jegal satu sama lainnya," tutupnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya