Berita

Tangkapan layar laporan Li-Meng Yan terkait asal usul virus corona/Net

Dunia

Li-Meng Yan Beri Bukti Virus Corona Dari Lab Wuhan Dan China Berusaha Tutupi Identitas Aslinya

KAMIS, 17 SEPTEMBER 2020 | 12:07 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Ahli virologi dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Hong Kong, Li-Meng Yan mengungkap bukti asal usul virus corona baru atau SARS-CoV-2 yang ia klaim buatan manusia di laboratorium Wuhan, China.

Melalui laporannya yang bertajuk "Unusual Features of the SARS-CoV-2 Genome Suggesting Sophisticated Laboratory Modification Rather Than Natural Evolution and Delineation of Its Probable Synthetic Route", Li-Meng Yan mengungkap, meski teori virus corona berasal dari alam, namun tidak memiliki dukungan substansial.

"Meskipun demikian, SARS-CoV-2 menunjukkan karakteristik biologis yang tidak sejalan dengan virus zoonosis yang terjadi secara alami," tulisnya dalam abstrak laporan yang ternyata dirilis pada platform digital Zenodo.


Tidak sendiri, Li-Meng Yan menulis laporan tersebut bersama dengan Shu Kang, Jie Guan, dan Shanchang Hu.

"Dalam laporan ini, kami menjelaskan bukti genomik, struktural, medis, dan literatur, yang bila dipertimbangkan bersama-sama, sangat bertentangan dengan teori asal-usul alam," urai mereka.

"Bukti menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 seharusnya merupakan produk laboratorium yang dibuat dengan menggunakan kelelawar coronavirus ZC45 dan/atau ZXC21 sebagai template dan/atau tulang punggung," lanjut para ilmuwan tersebut.

Berdasarkan bukti rute sintesis SARS-CoV-2, Li-Meng Yan mengatakan, pembuatan virus itu dalam laboratorium dapat mudah dilakukan dalam waktu sekitar enam bulan.

Di dalam penelitiannya, Li-Meng Yan dan teman-temannya menemukan berbagai fakta. Pertama, elemen paling penting dalam pembuatan virus corona adalah ZC45/ZXC21 yang dimiliki oleh laboratorium penelitian militer.

"Urutan genom SARS-CoV-2 kemungkinan telah mengalami rekayasa genertika, di mana virus memperoleh kemampuan untuk menargetkan manusia dengan peningkatan virulensi dan infektivitas," lanjutnya.

Mereka menyebut, karakteristik dan efek patogenik dari SARS-CoV-2 belum pernah ditemukan sebelumnya. Pasalnya virus tersebut sangat mudah menular, tersembunyi di awal, menargetkan multi-organ, gejala tidak jelas, mematikan, dan terkait dengan berbagai komplikasi.

"Dilihat dari bukti yang kami dan orang lain telah temukan, kami percaya bajwa menemukan asal mula SARS-CoV-2 harus melibatkan audit independen dari laboratorium Institut Virologi Wuhan P4 dan laboratorium kolaborator dekat mereka," paparnya.

Para ilmuwan juga menyoroti penelitian virus corona lain yang baru-baru ini diterbitkan seperti RaTG1318 dan RmYN0230. Menurut mereka hal tersebut mencurigakan karena diduga memiliki tujuan untuk menipu komunitas ilmiah dan masyarakat umum dari identitas asli SARS-CoV-2.

Li-Meng Yan sendiri sebelumnya telah membongkar asal usul virus corona baru dari wawancaranya dengan berbagai media setelah ia melarikan diri ke Amerika Serikat (AS) pada April karena khawatir dengan kselamatannya.

Ia merupakan ilmuwan yang bekerja di laboratorium tingkat keamanan patogen-3 atau disebut juga P3 lab di Hong Kong. Di sana, ia memiliki dua atasan, yaitu Professor Malik Peiris dan Profesor Leo Poon.

Sejak akhir Desember 2019, Prof. Leo Poon menugaskannya untuk melakukan penyelidikan rahasia mengenai pneumonia baru yang terjadi di Wuhan.

Pada saat itu belum ada berita resmi dari China daratan mengenai penyakit tersebut. Setelahnya, ia mendapatkan informasi, pemerintah China sudah mengetahui ada 40 kasus pneumonia baru di Wuhan dan sudah terjadi transmisi antarmanusia. Tetapi tidak ada informasi publik terkait penyakit tersebut.

Selain itu, ia juga meyakini bahwa pasar makanan basah Wuhan hanya dijadikan sebagai umpan dan bukan sumber virus.

"Pada saat itu, saya dengan jelas menilai bahwa virus tersebut berasal dari laboratorium militer Partai Komunis China. Pasar basah Wuhan hanya digunakan sebagai umpan," terangnya.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya