Berita

Dutabesar RI untuk Jerman, Arief Havas Oegroseno dalam Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk "Islam dan Islamophobia di Eropa" pada Jumat, 11 September 2020/RMOL

Dunia

Islamophobia Di Eropa Muncul Dari Salahnya Pemahaman Yang Digiring Oleh Tiga Aspek

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2020 | 23:51 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Islamophobia yang berkembang di Eropa muncul setidaknya dari kesalahan pemahaman mengenai Islam. Hal tersebut diperparah dengan adanya dorongan dari masyarakat, pemerintah, hingga media.

Dutabesar RI untuk Jerman, Arief Havas Oegroseno menjelaskan, Eropa kerap menyamakan Islam dengan Arab yang tidak demokratis dan radikalisme.

"Padahal kalau kita lihat secara mendalam, nilai-nilai hak asasi manusia, demokrasi, nasionalitas, itu ada dalam Islam," ujarnya dalam Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk "Islam dan Islamophobia di Eropa" pada Jumat malam (11/9).


Sehingga, Roma menganggap kedatangan Islam sebagai invasi bangsa Arab. Hal ini juga dikaitkan dengan persepsi ancaman terorisme.

Pemahaman-pemahaman tersebut lalu didorong menjadi gelombang Islamophobia oleh tiga aspek, meliputi peole driven (masyarakat), government driven (pemerintah), dan media driven.

Di masyarakat, muncul kalimat-kalimat diskriminatif terkait Islam yang terus digiring oleh sejumlah kelompok.

Sementara itu, dalam tataran pemerintah, muncul juga peraturan, baik disengaja atau tidak disengaja, yang mendiskriminasi Islam, mulai dari edukasi, pekerjaan, sistem keadilan, hingga politik.

"Di Eropa jangan salah. Media berperan dalam menciptakan Islamophobia. Apakah itu media mainstream atau media-media yang kurang boming," lanjutnya.

Kondisi tersebut, Arief katakan, sebagai tantangan yang luar biasa bagi umat muslim.

"Jadi ini menjadi satu cycle yang sangat challenging. Strukturnya sangat dalam dan sangat luas," paparnya.

Kontribusi

Dalam hal mengatasi fenomena Islamophobia, Arief mengatakan, Indonesia, khususnya PP Muhammadiyah dapat berperan aktif untuk mengubah pemahaman Eropa.

Di mana Islam tidak identik dengan Timur Tengah. Bahkan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, yaitu Indonesia, berisi mayoritas Islam.

"Islam juga hidup di negara yang menghargai wanita. Ini yang banyak tidak diketahui di Eropa," sambungnya.

Salah satu kontribusi tersebut, ia katakan, dapat dilakukan dengan membuka perwakilan PP Muhammadiyah di Eropa. Nantinya, PP Muhammadiyah juga dapat menjadi kontributor dalam penyusunan kurikulum di berbagai tempat di Eropa.

"Tapi yang penting menurut saya, how to reach mereka yang anti-Islam," ucapnya.

Arief menjelaskan, alih-alih saling menyerang antar Islam, umat muslim perlu mengajak mereka yang memiliki pandangan negatif terkait islam.

"Kita di KBRI bekerja sama dengan satu unit di Kementerian Luar Negeri Jerman. Unit ini mempromosikan inter-religious diplomacy," tandasnya.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Disinggung Kenaikan LPG Nonsubsidi, Bahlil Malah Berkelit soal LPG 3 Kg

Senin, 20 April 2026 | 22:11

KPK Serahkan Rampasan Puput Tantriana Rp3,52 Miliar ke Lemhannas

Senin, 20 April 2026 | 22:06

DPR Cuma Butuh Sehari Rampungkan 409 Daftar Masalah RUU PPRT

Senin, 20 April 2026 | 22:01

Berikut 12 Poin Strategis RUU PPRT yang Dibahas Baleg DPR

Senin, 20 April 2026 | 21:54

Dipimpin Dasco, RUU PPRT Segera Dibawa ke Paripurna

Senin, 20 April 2026 | 21:52

Pemkot Tangerang Jaga Transparansi Lewat Penyerahan LKPD Unaudited 2025

Senin, 20 April 2026 | 21:34

Menkes Sebut Penanganan Campak Tidak Perlu Lockdown, Ini Penjelasannya

Senin, 20 April 2026 | 21:14

Kunjungi IKN, Ketua MPR: Proses Pembangunan Begitu Cepat

Senin, 20 April 2026 | 21:05

IPB Hanya Skorsing 16 Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual

Senin, 20 April 2026 | 20:41

Bisnis Tambang Sarat Risiko, Asuransi Diminta Perkuat Kompetensi

Senin, 20 April 2026 | 20:39

Selengkapnya