Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Suluh

Jokowi Harus Cuci Tangan Dengan Lockdown, Bukan Hanya Statement

RABU, 09 SEPTEMBER 2020 | 10:59 WIB | OLEH: RUSLAN TAMBAK

Tidak berselang jauh, ada dua pernyataan Presiden Joko Widodo yang dinilai kontradiktif.

Juli 2020, Jokowi menyebutkan, apabila kebijakan lockdown diberlakukan, hal itu akan berimbas fatal bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mungkin bisa minus 17 persen.

Jokowi mengklaim, akibat tidak lockdown, atau dengan memilih PSBB, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I masih lebih baik ketimbang negara-negara lain, yaitu masih tumbuh di angka 2,97 persen.


Terbaru, 7 September 2020, Jokowi mengingatkan bawahannya untuk mengedepankan aspek kesehatan dalam penanganan pandemik Covid-19. Berbahaya jika aspek pemulihan ekonomi yang didahulukan.

Ditegaskan kepala negara, kunci dari ekonomi adalah kesehatan yang baik. Kesehatan yang baik akan menjadikan ekonomi yang baik pula.

Kedua penyataan itu dinilai seolah kontradiktif. Sebenarnya, Pak Jokowi lebih mengutamakan kesehatan atau ekonomi sih?

Tidak diketahui secara persis kenapa Jokowi berbalik 180 derajat. Apakah karena angka kasus corona yang tidak terem lagi?

Selasa kemarin, pasien terkonfirmasi positif Covid-19 memang sudah tembus 200 ribu kasus. Masih menanjak, belum diketahui berapa dan kapan puncaknya.

Memang sangat disayangkan, Jokowi baru sadar sekarang.

Harusnya dari awal penanganan kesehatan di masa pandemik lebih diutamakan, baru menyusul pemulihan ekonomi.

Tapi tetap alhamdullah, Jokowi sudah siuman. Sudah sadar. Meski telat. Telat bangat.

Jokowi diharapkan merealiasikan omongannya yang terakhir, mendahulukan penanganan kesehatan. Bukan hanya statemen. Kalau hanya statemen, nanti kesannya cuci tangan.

Pemerintah seharusnya bisa membuktikan kekompakan dan fokus dalam penanganan kesehatan.

Kalau sudah punya paradigma seperti ini, pemerintah harus melakukan karantina alias lockdown. Dasar hukumnya UU 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Jika langkah itu yang diambil, maka selama 14 hari, Indonesia harus lockdown. Lockdown total.

Semua aktivitas penduduk dibatasi, di saat bersamaan dilakukan testing dan tracing yang masif di seluruh daerah.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya