Berita

Salah satu adegen Film Mulan/Net

Hiburan

Seruan Boikot Film Mulan Muncul Karena Ada Adegan Di Xinjiang Dan Ucapan Terima Kasih

RABU, 09 SEPTEMBER 2020 | 05:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

  Seruan boikot terhadap film ‘Mulan’ yang diproduksi Disney terus menggema, setelah beberapa adegan dalam film itu dianggap sebagai pelanggaran hak terhadap kaum Muslim di Xinjiang.

Setelah aktivis pro demokrasi Hong Kong Joshua Wong mengeluarkan seruannya, kini kelompok hak asasi manusia, akademisi dan jurnalis, juga ikut mengecam film mewah senilai 200 juta dolar AS itu yang mengisahkan tentang seorang pejuang wanita China yang legendaris.

Kecaman itu muncul karena pertama, tokoh utamanya adalah Liu Yifei, yang ikut menyuarakan dukungan untuk polisi Hong Kong saat mereka menindak pemrotes tahun lalu.


Kedua, mengutip AFP, Selasa (8/9), film itu menggunakan lokasi syuting di Provinsi Xinjiang, China, di mana pelanggaran HAM terjadi terhadap Muslim Uighur di kawasan itu.

Ketiga, adanya ucapan terima kasih pada kredit titel di mana ucapan terima kasih itu ditujukan khusus kepada delapan entitas pemerintah di Xinjiang, termasuk biro keamanan publik di Turpan, sebuah kota di timur Xinjiang di mana beberapa kamp interniran telah didokumentasikan, juga kepada departemen propaganda Partai Komunis China di Xinjiang.

Ucapan terima kasih itu telah memicu kemarahan baru atas kesediaan Hollywood untuk tunduk pada otoriter China.

Akibatnya, penentangan terhadap film Mulan yang baru dirilis itu semakin keras karena dianggap mendukung penindasan Partai Komunis China (PKT) kepada Muslim Uighur.

Seruan boikot semakin meluas setelah novelis China yang tinggal di Inggris, Jeannette Ng, menggunggah credit film tersebut di Twitter.

Akun @jeannette_ng menangkap 'ucapan terima kasih' yang mencatut nama Publicity Departement of CPC Xinjiang Uyghur Automonous Region Committee, yang jika diartikan itu adalah 'Departemen Publikasi Partai Komunis China (PKT) Komite Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang'.

"Mulan secara spesifik berterimakasih kepada Departemen Publikasi Partai Komunis China (PKT) Komite Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang di bagian credit," tulis Jeannette pada Senin (7/9).

"Anda tahu, itulah tempat dimana genosida budaya terjadi," lanjutnya. "Mereka banyak mengambil gambar di Xinjiang yang disebut sebagai China Barat Daya' pada bagian subjudul," jelasnya.

Tweet Jeannette itulah yang membuat suasana semakin panas pada Selasa (8/9, apalagi aktivis prodemokrasi Hong Kong, Joshua Wong, ikut memuat ulang tulisan Jeannette tersebut.

Isaac Stone Fish, senior fellow di Asia Society, mengatakan, film Mulan "bisa dibilang film paling bermasalah Disney" sejak Song Of The South, sebuah pengagungan tahun 1946 tentang kehidupan perkebunan antebellum yang telah ditarik oleh perusahaan tersebut.

"Cukup mengherankan, hal itu harus diulang," tulisnya di kolom Washington Post seperti dilansir Channel News Asia.

"Disney telah berterimakasih kepada empat Departemen Propaganda dan Biro Keamanan Publik di Xinjiang, wilayah di Barat Laut China yang merupakan situs salah satu pelanggaran HAM terburuk di dunia yang terjadi hari ini," tegas dia.

Badiucao, seniman China yang tinggal di Melbourne, menyatakan, dia sedang mengerjakan kartun baru yang menggambarkan Mulan sebagai penjaga di salah satu kamp interniran di Xinjiang untuk menyindir film baru Disney itu.

"Ini sangat bermasalah dan tidak ada alasan. Maksud saya, sudah jelas, kami memiliki semua bukti yang menunjukkan apa yang terjadi di Xinjiang," ungkapnya kepada AFP seperti dikutip Channel News Asia.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Lazismu Kupas Fikih Dam Haji: Daging Jangan Menumpuk di Satu Titik

Jumat, 15 Mei 2026 | 02:12

Telkom Gandeng ZTE Perkuat Pengembangan Infrastruktur Digital

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:51

Menerima Dubes Swedia

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:34

DPD Minta Pergub JKA Dikaji Ulang dan Kedepankan Musyawarah di Aceh

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:17

Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:42

Pendidikan Tinggi sebagai Arena Mobilitas Vertikal Simbolik

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:37

KNMP Diharapkan Mampu Wujudkan Hilirisasi Perikanan

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:22

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Pembangunan SR Masuk Fase Darurat, Ditarget Rampung Juni 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:33

Harga Minyakita Masih Tinggi, Pengangkatan Wamenko Pangan Dinilai Percuma

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:18

Selengkapnya