Berita

Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Din Syamsuddin/Net

Politik

Din Syamsuddin: Pernyataan Jokowi Utamakan Kesehatan Sebatas Retorika Politik Belaka

SELASA, 08 SEPTEMBER 2020 | 13:31 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebut bahwa pemerintah mengutamakan masalah kesehatan dalam menangani krisis kembar akibat wabah corona dinilai tidak sejalan dengan fakta yang ada.

Sebab nyatanya, pemerintah justru berfokus pada penyelesaian masalah ekonomi ketimbang kesehatan.

“Pernyataan Presiden Jokowi bahwa pemerintah mengutamakan penanganan masalah kesehatan daripada stimulus ekonomi hanyalah retorika politik belaka tanpa bukti nyata,” begitu sentil Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Din Syamsuddin kepada wartawan, Selasa (8/9).


Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengurai fakta bahwa anggaran yang dialokasikan dan disetujui untuk penanggulangan Covid melalui Kemenkes dan Satgas Penanggulangan Covid kurang dari 10 persen dari total anggaran sekitar Rp 900 triliun.

Anggarannya hanya Rp 87,5 triliun. Dari jumlah ini hanya Rp 25,7 triliun yang dialokasikan melalui Kemenkes.

“Anggaran 87,5 T ini pun kemungkinan akan dipangkas menjadi Rp 72,7 triliun, sementara realisasinya jauh di bawah angka tersebut,” tegas Din Syamsuddin.

Sementara sebagian besar dana penanganan corona dialokasikan untuk menanggulangi perekonomian, seperti alokasi insentif usaha dan pajak Rp 120,61 triliun; subsidi dan hibah UMKM sebesar Rp 123,46 triliun; tambahan PMN BUMN sebesar Rp 14 triliun; investasi pemerintah Rp 19,7 triliun; dan pembiayaan investasi lainnya Rp 113,6 triliun.

Buntutnya, kata mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu, rakyat terpaksa menyelamatkan diri sendiri. Bahkan rakyat bersusah payah harus membayar biaya rapid test dan swab test untuk tahu bahwa mereka tertular corona.

“Banyak yang tidak mampu melakukannya, maka kemungkinan angka yang positif tertular jauh lebih banyak dari yang diumumkan,” tegasnya.

Belum lagi, sambung Din Syamsuddin, siswa dan mahasiswa harus membayar mahal biaya pulsa atau kuota telepon karena mereka harus belajar daring dari rumah. Dalam hal ini, pemerintah baru sadar dan menjanjikan bantuan setelah lima bulan pandemi berlangsung.

Fakta lain, Indonesia berada pada urutan terburuk keempat dari bawah dalam penanggulangan Covid-19 di antara negara-negara di dunia. Sebanyak 68 negara juga telah menolak WNI masuk, karena persebaran Covid di Indonesia semakin mendaki dan belum ada tanda-tanda melandai.

“Walau Presiden Jokowi pernah mengatakan bahwa Covid-19 akan berakhir Mei 2020 dan waktu itu sempat mengajak rakyat menyongsong era The New Normal,” tegasnya.

“KAMI, sekali lagi, menuntut agar pemerintah serius bekerja, tidak dalam kata-kata tapi dalam perbuatan nyata, dan jangan suka mengumbar janji tanpa bukti,” demikian Din Syamsuddin.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya