Berita

Kepala intelijen Prancis Bernard Emie/Net

Dunia

Kepala Intelijen Prancis Bernard Emie Masuk Tim Percepatan Reformasi Lebanon

JUMAT, 04 SEPTEMBER 2020 | 16:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kepala intelijen Prancis Bernard Emie dikabarkan telah bergabung dalam upaya untuk mendesak Lebanon agar mempercepat implementasi reformasi.

Emie menjadi satu di antara beberapa pejabat Prancis yang menindaklanjuti faksi Lebanon. Yang lainnya termasuk Emmanuel Bonne, kepala penasihat diplomatik Macron dan mantan utusan lainnya untuk Beirut.

Bergabungnya Emie dalam upaya percepatan reformasi di Lebanon juga dikonfirmasi oleh beberapa pejabat Beirut yang tidak disebutkan namanya.


"Dia telah melakukan kontak dengan para pejabat Lebanon mengenai masalah yang dibahas selama kunjungan Macron," kata tiga pejabat Lebanon, seperti dikutip dari Memo, Jumat (4/9).

Saat ini Emie menjabat sebagai direktur jenderal badan intelijen eksternal Prancis, Direction Generale de la Securite Exterieure (DGSE).

Sebelumnya Emie juga pernah menjabat sebagai duta besar Prancis untuk Lebanon dari 2004 hingga 2007, hingga diangkat sebagai kepala DGSE tak lama setelah Macron menjabat sebagai presiden pada 2017.

Emie ditunjuk sebagai duta besar untuk Lebanon setelah menjabat sebagai penasihat Presiden Prancis Jacques Chirac. Dia berada di pos ketika Perdana Menteri Lebanon Rafik al-Hariri, seorang teman dekat Chirac, dibunuh pada tahun 2005.

Para diplomat mengatakan Emie memainkan peran kunci dalam upaya mendorong pasukan Suriah keluar dari Lebanon. Pasukan Suriah memasuki Lebanon selama perang saudara dan tetap tinggal di sana setelah itu.

Macron adalah tokoh utama dalam upaya internasional untuk menekan politisi Lebanon yang terpecah-pecah untuk mengatasi krisis yang dipandang sebagai ancaman terbesar bagi stabilitas Lebanon sejak perang saudara 1975-1990.

Krisis tersebut, yang disebabkan oleh korupsi dan kesalahan manajemen selama beberapa dekade diperparah oleh ledakan besar di pelabuhan Beirut pada 4 Agustus lalu yang menewaskan lebih dari 190 orang dan menghancurkan sebagian besar ibu kota.

Selama kunjungannya ke Lebanon pada hari Selasa (1/9) Macron memberi waktu kepada para politisi Lebanon hingga akhir Oktober untuk mulai melakukan reformasi memperingatkan jika ada korupsi yang menghalanginya Lebanon akan menghadapi sanksi.

Tekanan dari Macron mendorong para pemimpin Lebanon untuk menyetujui perdana menteri baru, Mustapha Adib, yang telah memulai pembicaraan untuk membentuk kabinet menteri spesialis.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya