Berita

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu; Presiden Amerika Serikat, Donald Trump; dan Putra Mahkota UEA, Mohammed bin Zayed/Net

Dunia

Beda Pandangan Tangguhkan Dan Hentikan Soal Aneksasi Tepi Barat, Apakah Sebuah Kesengajaan UEA?

KAMIS, 03 SEPTEMBER 2020 | 10:28 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Terjadi perbedaan pendapat antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel terkait dengan aneksasi Tepi Barat yang menjadi salah satu prasyarat dalam normalisasi hubungan keduanya.

Berdasarkan pernyataan trilateral berbahasa Inggris antara UEA-Israel-Amerika Serikat (AS) yang dirilis pada Senin (31/8), normalisasi hubungan akan menangguhkan rencana aneksasi Tepi Barat.

Namun dalam pernyataan versi berbahasa Arab, kesepakatan tersebut membuat rencana aneksasi Tepi Barat oleh Israel dihentikan.


Tak ayal perbedaan tersebut langsung disoroti oleh warga Palestina, melansir Reuters, Kamis (3/9).

"Bandingkan diri Anda dengan dua versi, penangguhan perpanjangan kedaulatan, bukan penghentian aneksasi tanah Palestina," cuit Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebesan Palestina (PLO), Saeb Erekat.

Menurut seorang pejabat senior PLO, perbedaan tersebut tampak disengaja sebagai upaya "lidah bercabang" untuk mempengaruhi opini publik di dunia Arab.

“Saya tidak berpikir ini adalah masalah penerjemahan, saya pikir ini adalah cara yang tidak jujur ​​untuk mencoba memanipulasi wacana,” katanya.

Kendati begitu, Kepala Perencanaan Kebijakan dan Kerja Sama Internasional Kementerian Luar Negeri UEA, Jamal Al-Musharakh mengatakan, perbedaan tersebut hanyalah masalah terjemahan.

"Jika ada yang bisa mengetahui sinonim yang lebih baik daripada 'Eeqaf' (berhenti) untuk 'menangguhkan', tolong beritahu saya," ujarnya kepada wartawan.

"Salah satu prasyarat dimulainya hubungan bilateral adalah penghentian aneksasi," sambungnya tanpa memberikan informasi lebih lanjut.

Selama ini, UEA telah menggambarkan kesepakatan damai dengan Israel sebagai upayanya untuk menghentikan rencana aneksasi Tepi Barat yang akan dilakukan oleh Israel.

Sementara itu, setelah pengumuman normalisasi pada 13 Agustus, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan, tidak ada perubahan dalam rencana aneksasi Tepi Baratl.

"Tidak ada perubahan dalam rencana saya untuk menerapkan kedaulatan di Yudea dan Samaria, dalam koordinasi penuh dengan Amerika Serikat. Saya berkomitmen, itu tidak berubah," ujar Netanyahu kepada rakyatnya dalam bahasa Ibrani.

Menggemakan pernyataan Netanyahu, pada Rabu (2/9), jurubicara Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan kesepakatan dengan UEA hanya akan menangguhkan deklarasi kedaulatan mereka.

"Sebagai hasil dari terobosan diplomatik ini Israel akan menangguhkan deklarasi kedaulatan atas wilayah-wilayah yang digariskan dalam Visi Presiden untuk Perdamaian," ujar jurubicara tersebut.

Sedangkan dari sisi AS sebagai mediator, Gedung Putih menyatakan tidak bertanggung jawab atas terjemahan komunike dalam bahasa Arab.

"Kata menangguhkan dipilih hati-hati oleh semua pihak. 'Tangguhkan' menurut definisi, artinya penghentian sementara. Sekarang tidak ada tapi tidak selamanya," ujar Dutabesar AS untuk Israel, David Friedman.

Selama kunjungannya ke UEA, penasihat Gedung Putih sekaligus menantu Trump, Jared Kushner juga menggunakan kata "menangguhkan" dan bukan "menghentikan".

"Israel telah setuju untuk menangguhkan aneksasi tersebut, untuk menangguhkan penerapan hukum Israel di daerah tersebut untuk sementara waktu," katanya.

“Tapi di masa depan ini adalah diskusi yang saya yakin akan dilakukan. Tapi tidak dalam waktu dekat," sambungnya.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya