Berita

Donald Trump/Net

Dahlan Iskan

Peringatan Moore

SELASA, 01 SEPTEMBER 2020 | 04:56 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SIAP-SIAPLAH dunia kita dipimpin Donald Trump lagi. Setelah konvensi Partai Republik pekan lalu, nama Trump melejit lagi. Perbedaan citra antara Trump dan Joe Biden juga kian nyata. Terutama di mata pendukung Trump. Bahkan mulai muncul istilah baru: mau pilih hidup di Amerikanya Trump atau di Amerikanya Biden.

Kesan umum yang muncul -setelah konvensi itu- Trump adalah lambang kekuatan, ketertiban, dan lebih dekat ke Tuhan.

Biden, calon presiden dari Partai Demokrat itu, dikesankan lemah, suka demo, rusuh, penjarah dan jauh dari Tuhan.


"Amerika mau rusuh terus? Mau terjadi penjarahan terus? Pilihlah Biden," begitu tema baru yang dimunculkan selama konvensi.

Dan tema itu masuk ke sanubari masyarakat Amerika. Yang umumnya kelas mapan. Yakni masyarakat yang benci kerusuhan apalagi penjarahan.

Kesan yang lain: Trump lebih asli Amerika daripada Biden.

Fakta bahwa mereka sama-sama murni kulit putih tidak penting lagi. Ada fakta lain: Cawapres Trump sangatlah 'putih'. Cawapres Biden keturunan Jamaika-India. Bagaimana dengan fakta bahwa saat ini terjadi kemerosotan ekonomi Amerika?

"Itu bukan kesalahan Trump. Itu akibat virusnya Tiongkok," ujar pendukung Trump. "Sebelum Covid-19 Trump sudah terbukti mampu membangun ekonomi Amerika dengan nyata," ujar mereka.

Masa sebelum Covid-19 itu telah berhasil membuat citra Trump sebagai presiden yang  mampu membangun ekonomi. Dan citra itu ternyata kuat. Melejitnya harga saham dan rendahnya pengangguran, membuat Trump, di mata mereka, sudah terbukti mampu membangun ekonomi Amerika.

Mereka begitu mengabaikan kenyataan lemahnya penanganan terhadap Covid-19. Mereka beralasan karena virus itu bukan ciptaan Trump. Dan yang lebih banyak meninggal toh orang kulit hitam.

Peristiwa rasialis yang semula menjatuhkan popularitas Trump kini berhasil dibalik. Yakni dari peristiwa rasialis menjadi peristiwa kerusuhan dan penjarahan. Terutama  ketika demo anti-rasialis menjadi sangat luas -melanda seluruh Amerika. Yang di dalamnya diwarnai kerusuhan, perusakan, pembakaran, dan menjarahan.

Itu bukan hanya meluas tapi juga berlarut-larut. Di Oregon, misalnya demo anti-rasialis itu sudah berlangsung tiga bulan. Bahkan Sabtu malam lalu sangat rusuh. Ada kulit putih yang tertembak mati.

Tidak penting siapa yang menembak. Jangan-jangan justru didesain agar ada kulit putih yang tertembak -dengan niat awal jangan sampai mati. Yang penting penembakan itu terjadi saat rombongan pendemo kulit putih dihadang pemrotes yang pro BlackLivesMatter.

Sabtu petang itu kelompok fanatik kulit putih kumpul di salah satu mal di pinggiran kota Portland. Lalu bersama-sama konvoi ke pusat kota. Jumlah rombongan itu sekitar 600 mobil.

Sudah tiga minggu konvoi seperti itu dilakukan. Tiap Sabtu petang. Sebagai imbangan atas demo BLM yang tidak kunjung berakhir.

Konvoi itulah yang dihadang. Jalan-jalan dan jembatan masuk Portland dikuasai pendemo BLM. Terjadilah saling ejek. Saling lempar. Kian malam kian seru. Dan terjadilah penembakan itu. Korbannya seorang kulit putih -dengan identitas Patriot Prayer. Itulah nama salah satu kelompok ekstrem kanan -supremasi kulit putih- di Oregon.

Di Wisconsin kerusuhan juga melebar ke kota pinggiran. Antara Milwaukee dan Chicago. Satu orang luka serius, dua orang mati -kulit hitam.

Berlarutnya demo anti-rasialis itu dimanfaatkan oleh Trump. Isu itu berhasil dibalikkan menjadi wajah hitam Biden. Mereka menyuarakan bahwa pendemo, perusuh dan menjarahan itu adalah pengikut Biden.

"Kalau memilih Biden, Amerika akan terus seperti itu," ujar mereka.

Dalam kampanye politik, pemegang kebenaran belum tentu dibenarkan. Pemegang moralitas justru bisa dibuat tidak bermoral.

Misalnya Trump bisa dianggap melanggar UU karena menggunakan Gedung Putih sebagai tempat pidato penerimaan pencalonannya oleh Partai Republik. Setidaknya itu melanggar etika. Paling kurang itu menandakan kurang dijunjung tingginya moral bernegara. Tapi isu moral seperti itu ternyata tidak menggigit emosi masyarakat umum. Itu hanya dipersoalkan kalangan elite saja.

Padahal isi pidato Trump yang sampai 1,5 jam itu tidak ada bedanya dengan kampanye. Berarti Trump menggunakan Gedung Putih untuk kampanye. Berarti Trump secara tidak bermoral telah menyalahgunakan fasilitas negara.

Belum lagi di penutupan konvensi itu, Trump mengundang sampai 1.500 orang. Dengan mengabaikan protokol kesehatan. Kursinya ditata berhimpitan. Tidak wajib pula memakai masker.

Tapi semua itu hanya negatif di kalangan terbatas. Trump bisa menutupi kenegatifan itu dengan persepsi-persepsi negatif untuk Biden.

Maka fakta tidak lagi penting. Yang terpenting adalah persepsi. Dan selama empat hari konvensi Partai Republik itu Biden terus-menerus dipersepsikan dekat dengan demo, kerusuhan, penjarahan dan yang serba ketidaktertibkan.

Itu dilanjutkan lagi dengan kampanye lebih memojokkan Biden: apakah orang yang seperti itu bisa membangun ekonomi? Maka Trump muncul sebagai lebih mampu membangun ekonomi.

Biden memang sempat menangkis dengan fakta. Bahwa ketidaktertiban itu justru terjadi di zaman pemerintahan Trump. Tapi, sekali lagi, fakta tidak penting.

Yang muncul kuat adalah: kerusuhan itu dilakukan oleh orang yang anti-Trump. Tidak laku lagi logika bahwa yang anti-Trump belum tentu pro Biden.

Yang jelas kubu Trump berhasil mengampanyekan kesan: mereka yang rusuh-rusuh itu adalah pendukung Biden.

Misi mulia demo itu untuk memperjuangkan kesetaraan ras menjadi tenggelam sangat dalam.

Biden menjadi dalam bahaya. Selama berbulan-bulan Biden unggul 9 persen dari Trump. Setelah konvensi ini keunggulan Biden tinggal 6 persen. Di negara bagian yang mengambang seperti Michigan bahkan tinggal 4 persen. Di Minnesota bahkan sudah imbang.

Maka tokoh anti-Trump seperti sutradara Michael Moore memberi peringatan dini. Kejadian tahun 2016 bisa terulang. Waktu itu Hillary Clinton selalu menang di survei. Bahkan betul-betul menang secara suara -menang 2,8 juta suara. Tapi Hillary kalah karena negara bagian mengambang seperti Michigan dan Minnesota dimenangkan Trump.

Moore termasuk yang sudah memperkirakan kekalahan Hillary waktu itu. Dan kini Moore kembali mengingatkan: jangan sampai Trump menang lagi.

Pendukung Biden memang dikenal lebih rajin mengisi survei daripada datang ke TPS.

Kini Biden agak mati angin. Apalagi kerusuhan masih terus terjadi. Kelompok Trump bisa terus memperkuat kesan bahwa Biden identik dengan kerusuhan.

Trump kelihatannya tidak perlu menciptakan kerusuhan perang dengan Tiongkok. Ia sudah mendapat isu besar berupa kerusuhan di dalam negerinya sendiri.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

Jokowi Sangat Menghindari Pembuktian Ijazah di Pengadilan

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:59

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Paling Rumit kalau Ijazah Palsu Dipaksakan Asli

Jumat, 27 Februari 2026 | 02:00

UPDATE

Kasus Blueray Diduga Puncak Gunung Es Skandal Bea Cukai

Minggu, 01 Maret 2026 | 21:58

Atasi Masalah Sampah dan Parkir, Pansus Matangkan Raperda Pasar Rakyat ?

Minggu, 01 Maret 2026 | 21:57

Sekjen Gelora: Gugurnya Khamenei Peringatan Keras bagi Dunia

Minggu, 01 Maret 2026 | 21:07

Alarm Bagi Pekerja, Ini Daerah Rawan Telat Pembayaran THR

Minggu, 01 Maret 2026 | 20:57

9 Pendukung Iran Tewas Ditembak saat Menerobos Konsulat AS di Pakistan

Minggu, 01 Maret 2026 | 20:43

Para Petinggi PSI di Sumsel Loncat ke PDIP

Minggu, 01 Maret 2026 | 20:20

PKB Dukung Niat Baik Prabowo jadi Juru Damai Iran-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 19:54

AS Ikut Israel Serang Iran, Al Araf: Indonesia Seharusnya Mundur dari BoP

Minggu, 01 Maret 2026 | 19:19

Sukabumi Terjangkit 54 Kasus Demam Berdarah Sepanjang Januari 2026

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:59

KPK Ultimatum Salisa Asmoaji

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:33

Selengkapnya