Berita

Dutabesar China untuk Hongaria, Duan Jielong yang terpilih sebagai hakim ITLOS/Net

Dunia

Dubes China Jadi Hakim Pengadilan Internasional Hukum Laut, Bagaimana Nasib LCS?

KAMIS, 27 AGUSTUS 2020 | 15:38 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Dutabesar China untuk Hongaria, Duan Jielong telah ditetapkan sebagai satu di antara tujuh hakim baru International Tribunal for the Law of the Sea (ITLOS) atau pengadilan internasional untuk hukum laut.

Duan terpilih dalam pertemuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) ke-30 di markas besar PBB, New York, pada Senin (24/8). Dari 168 negara anggota, ia mendapatkan 149 suara.

Ia menjadi pejabat China keempat yang bertugas sebagai anggota Itlos. Masa jabatannya dimulai pada 1 Oktober selama sembilan tahun, melansir South China Morning Post.  


Jurubicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian pada Selasa (25/8) mengatakan, terpilihnya Duan merupakan bukti kontribusi China diakui dunia.

"Saya yakin para hakim terpilih akan melakukan tugasnya secara adil dan berkontribusi di pengadilan, serta melaksanakan penyelesaian sengketa maritim secara damai," ujarnya.

Kendati begitu, terpilihnya Duan sebagai hakim ITLOS memicu pertanyaan mengenai penyelesaian sengketa Laut China Selatan (LCS).

Bahkan, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) untuk Asia Timur dan Pasifik, David Stilwell mengatakan, terpilihnya Duan hanya akan memperkeruh masalah.

"Memilih pejabat Republik Rakyat China untuk badan ini seperti menyewa pembakar untuk membantu memadamkan kebakaran," ujarnya.

AS sendiri bukan negara yang meratifikasi UNCLOS, namun Washington sudah menyatakan keberatannya atas nominasi Duan. Selama ini, AS mengatakan, klaim China atas Laut China Selatan sudah melanggar hukum internasional.

Penyelesaian sengketa Laut China Selatan sejauh ini masih belum mendapatkan titik terang. Beberapa kali kasus tersebut dibawa ke forum internasional, namun Beijing tidak memberikan respons yang baik.

Misalnya pada 2013, ketika isu Laut China Selatan dibawa ke Pengadilan Permanen Arbitrase (PCA) di Den Haag oleh Filipina. Ketika itu, Beijing menolak yuridiksi PCA untuk kasus Laut China Selatan dan tidak mengakui penyelesaiannya. Di mana PCA menyatakan Beijing tidak memiliki hak atas klaim sembilan garis putus-putus.

ITLOS merupakan salah satu dari banyak cara untuk menyelesaikan perselisihan terkait hukum laut. Pengadilan yang berbasis di Hamburg, Jerman tersebut memiliki 21 kursi, tujuh di antaranya digantikan tahun ini.

Selain China, ada Malta, Italia, Chili, Kamerun, dan Ukraina yang sudah pasti menempati posisi tersebut. Satu kursi sisa masih diperebutkan oleh Jamaika dan Brasil.

Sejak 24 tahun berdiri, ITLOS memiliki keterwakilan hakim dari China. Pengadilan di bawah UNCLOS itu sudah menerima 28 kasus.

Saat ini, situasi di Laut China Selatan kian memanas dengan langkah Beijing yang melakukan latihan militer di dekat Kepulauan Paracel yang diklaim oleh Vietnam.

Pemerintah Vietnam tengah mempertimbangkan untuk membawa isu tersebut ke dunia internasional. Pada Mei, Hanoi menominasikan empat arbiter dan empat konsiliator sebagai langkah awal menyeret China ke pengadilan arbitrase.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya