Berita

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore/Net

Dunia

Menolak Pemungutan Suara Lewat Surat, Donald Trump 'Mencekik' Demokrasi Dan Merobek Keseimbangan Politik Orang Amerika

RABU, 26 AGUSTUS 2020 | 09:47 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Penolakan petahana, Presiden Donald Trump, terhadap sistem pemungutan suara lewat surat tidak lain merupakan upaya untuk "mencekik" demokrasi dan merusak keseimbangan politik orang Amerika Serikat (AS).

Demikian yang disampaikan oleh mantan Wakil Presiden Al Gore pada Selasa (25/8). Menurutnya, Trump sudah memberikan klaim tidak berdasar atas penolakannya untuk menggunakan metode pemungutan suara lewat surat.

"Dia tampaknya tidak menyesal sama sekali sudah mencoba merobek tatanan sosial dan keseimbangan politik rakyat Amerika, dan dia secara strategis menanamkan keraguan sebelumnya," ujar mantan orang nomor 2 di AS era Presiden Bill Clinton tersebut.


Trump selama ini menganggap metode pemungutan suara melalui surat dapat menyebabkan kecurangan. Sementara saat pemungutan suara secara langsung sangat berisiko untuk kesehatan masyarakat di tengah pandemik Covid-19.

Membalikkan pernyataan Trump Gore mengatakan, strategi yang dilakukan oleh pemilik Trump Tower tersebut adalah tercela. Lantaran, jika harus melakukan pemungutan suara secara langsung, maka membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa melakukannya dengan tetap menerapkan pembatasan sosial.

Dengan begitu, kandidat memenangkan perhitungan suara awal tampaknya akan kalah setelah semua surat suara dihitung. Jika dibandingkan, situasi tersebut akan sama ketika pemilu 2000, ketika ia melawan George W. Bush.

"Anda selalu bisa mencari opsi untuk menarik sesuatu, mencabik-cabik negara, memobilisasi partisan satu sama lain di jalan-jalan dan semua itu, tapi itu bukan jalan yang bijaksana bagi negara kita," tambah Gore.

"Untuk mencoba menghalangi orang-orang yang takut akan pandemi untuk memilih melalui surat dengan membongkar Layanan Pos, dia berusaha untuk berlutut di leher demokrasi," kata Gore, merujuk pada metode chokehold yang membuat George Floyd meninggal.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya