Berita

Mantan penasihan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersandung kasus penipuan dana kampanye dinding perbatasan/Reuters

Dunia

'Arsitek' Di Balik Kemenangan Trump Di Pilpres 2016 Tipu Pendukung Untuk Danai Dinding Perbatasan

KAMIS, 20 AGUSTUS 2020 | 23:54 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Mantan penasihat Presiden Amerika Serikat, yakni Steve Bannon dituduh telah melakukan penipuan hingga jutaan dolar AS.

Jaksa federal New York pada hari Kamis (20/8) menyebut bahwa Bannon dan tiga orang lainnya telah melakukan penipuan menggunakan kedok kampanye penggalangan dana yang konon bertujuan untuk mendukung tembok perbatasan ala Trump.

Pria 66 tahun itu pun ditangkap di sebuah kapal lepas pantai Timur Connecticut pada Kamis (20/8).


Menurut seorang pejabat penegak hukum, setelah ditangkap, Bannon akan hadir di pengadilan pertamanya di New York pada Kamis malam waktu setempat.

Belum ada komentar dari pihak Bannon. Pengacaranya, Bill Burck pun masih tutup mulut.

Melansir CNN, Bannon dan tiga orang lainnya didakwa karena diduga menyelewengkan dana yang disumbangkan donor ke kampanye crowdfunding online bernama "We Build the Wall".

Dia mengklaim bahwa kampanye itu merupakan bagian dari organisasi sukarelawan di mana 100 persen dana yang terkumpul akan digunakan untuk melaksanakan misi dinding perbatasan Amerika Serikat dengan Meksiko.

Kampanye itu mendapat simpati, terutama dari para pendung Trump yang mendorong pembangunan dinding perbatasan. Kampanye itu pun berhasil mengumpulkan dana lebih dari 25 juta dolar AS.

Namun jaksa menemukan bahwa Bannon, melalui organisasi nirlaba yang dikendalikannya, menggunakan lebih dari 1 juta dolar AS dari We Build the Wall untuk "diam-diam" membayar Kolfage dan menggunakan dana ratusan ribu dolar AS lainnya dari kampanye itu untuk pengeluaran pribadinya.

Bannon, Kolfage dan dua terdakwa lainnya, yakni Andrew Badolato dan Timothy Shea, didakwa dengan satu tuduhan konspirasi untuk melakukan jaringan penipuan dan satu tuduhan konspirasi untuk melakukan pencucian uang.

"Seperti yang dituduhkan, para terdakwa menipu ratusan ribu donor, memanfaatkan kepentingan mereka dalam mendanai tembok perbatasan untuk mengumpulkan jutaan dolar, dengan alasan palsu bahwa semua uang itu akan digunakan untuk pembangunan," kata Penjabat Pengacara Amerika Serikat, Manhattan Audrey Strauss dalam sebuah pernyataan.

"Sementara berulang kali meyakinkan donor bahwa Brian Kolfage, pendiri dan wajah publik We Build the Wall, tidak akan dibayar satu sen pun, para terdakwa diam-diam merencanakan untuk memberikan ratusan ribu dolar kepada Kolfage, yang dia gunakan untuk mendanai gaya hidupnya yang mewah," sambungnya.

Nama Bannon sendiri bukan nama yang asing di lingkaran orang nomor satu Amerika Serikat saat ini. Dia merupakan "arsitek" kemenangan Trump dalam pilpres tahun 2016 lalu.

Pada saat itu, dia membantu menjalankan kampanye Trump bersama dengan penasihat senior Gedung Putih Kellyanne Conway. Dia memegang peranan penting, yakni sebagai penasihat utama kampanye kepresidenan Trump. Dia dikreditkan sebagai kekuatan pendorong di balik daya tarik populis Trump.

Setelah kemenangannya, Trump pun menunjuk Bannon sebagai kepala strategi Gedung Putih. Dia ikut berperan dalam membantu mengartikulasikan populisme sayap kanan dan penentangan keras terhadap kebijakan imigrasi Trump.

Namun kemudian dia digulingkan oleh Trump pada Agustus 2017. Kabarnya, Trump memecat Bannon karena marah setelah ada wawancara di mana Bannon dikutip bertentangan dengan Trump atas isu Korea Utara dan mengklaim dia memiliki wewenang untuk membuat perubahan personel di Kementerian Luar Negeri.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Pengamat Ingatkan AI hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Manusia

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Din Syamsuddin: Board of Peace Trump Bentuk Nekolim Baru

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:01

Sambut Tahun Kuda Api, Ini Jadwal Libur Imlek 2026 untuk Rencanakan Kumpul Keluarga

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:52

Cadangan Devisa RI Menciut Jadi Rp2.605 Triliun di Awal 2026

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:47

Analisis Kebijakan MBG: Antara Tanggung Jawab Sosial dan Mitigasi Risiko Ekonomi

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:41

ISIS Mengaku Dalang Bom Masjid Islamabad

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:31

Dolar AS Melemah, Yen dan Pound Terdampak Ketidakpastian Global

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:16

Golkar: Indonesia Bergabung ke Dewan Perdamaian Gaza Wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:01

Wall Street Perkasa di Akhir Pekan, Dow Jones Tembus 50.000

Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:52

Selengkapnya