Berita

Joe Biden dikritik Turki karena pernah mengeluarkan komentar miring soal Erdogan/Net

Dunia

Turki Geram Joe Biden Komentar Miring Soal Erdogan

MINGGU, 16 AGUSTUS 2020 | 23:56 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kampanye calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Joe Biden kembali mengundang kritik. Kali ini kritik tersebut bukan datang dari rivalnya, kubu petahana Donald Trump, melainkan dari Turki.

Akhir pekan ini, pemerintah Turki mengeluarkan pernyataan yang mengecam penyataan yang dibuat Biden dalam sebuah wawancara dengan New York Times yang direkam pada Desember tahun 2019. Sebenarnya, video wawancara itu telah tayang pada Januari tahun 2020 lalu tanpa mengundang kecaman yang berarti.

Namun di tengah semaraknya nuansa pemilu presiden Amerika Serikat jelang hari pemungutan suara November mendatang, kutipan pernyataan Biden dari wawancara tersebut dipenggal dan dibagikan di sosial media. Kutipan yang seketika viral akhir pekan ini adalah komentar Biden mengenai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.


Dalam kutipan wawancara tersebut, ketika ditanya tentang Erdogan, Biden menggambarkan presiden Turki tersebut sebagai sosok yang "otokrat". Biden juga mengkritik kebijakannya terhadap Kurdi, dan menyiratkan dukungan terhadap oposisi Turki.

"Apa yang saya pikir harus kami lakukan adalah mengambil pendekatan yang sangat berbeda dengannya sekarang, memperjelas bahwa kami mendukung kepemimpinan oposisi," kata Biden dalam cuplikan wawancara itu.

"Dia harus membayar mahal," kata Biden pada saat itu, seraya menambahkan bahwa Washington harus memberanikan para pemimpin oposisi Turki untuk dapat menghadapi dan mengalahkan Erdogan, bukan dengan kudeta, melainkan dengan proses pemilihan.

Komentar itu mengundang banyak reaksi di soal media, tentu dengan pro-kontra dan kontroversi yang mewarnainya. Namun, hal ini menjadi sorotan tersendiri, karena komentar Biden itu tidak memancing banyak reaksi ketika dipublikasikan pertama kali pada Januari lalu dan baru ramai menjadi buah bibir akhir pekan ini.

Bahkan Turki menyuarakan kemarahannya atas komentar Biden.

"Analisis Turki oleh Joe Biden didasarkan pada ketidaktahuan murni, arogansi, dan kemunafikan," kata juru bicara Erdogan, yakni Ibrahim Kalin di Twitter.

"Hari-hari memerintah Turki sudah berakhir. Tapi jika Anda masih berpikir Anda bisa mencoba, jadilah tamu kami. Anda akan membayar harganya," sambungnya.

Sementara itu, Direktur komunikasi Erdogan Fahrettin Altun mengatakan bahwa pernyataan Biden itu mencerminkan permainan dan pendekatan intervensionis terhadap Turki dan sikap tidak konsisten dengan hubungan diplomatik saat ini.

"Tidak ada yang bisa menyerang keinginan bangsa dan demokrasi kita atau mempertanyakan legitimasi presiden kita, yang dipilih dengan suara populer," kata Altun di Twitter.

"Kami yakin bahwa pernyataan tidak pantas yang tidak memiliki tempat dalam diplomasi oleh calon presiden dari sekutu NATO kami, Amerika Serikat, juga tidak dapat diterima oleh pemerintahan saat ini," tambahnya, seperti dikabarkan Al Jazeera.

Untuk diketahui, Beberapa tahun terakhir, Erdogan bekerja untuk menumbuhkan hubungan pribadi yang baik dengan Presiden Amerika Serikat saat ini Donald Trump, yang juga merupakan rival Biden dalam pemilu tahun ini.

Dalam sejumlah kesempatan, Erdogan kerap mengecam pendahulu Trump, Barack Obama. Diketahui bahwa selama masa pemerintahan Obama periode kedua, di mana Joe Biden menjadi wakil presiden Amerika Serikat, hubungan Amerika Serikat dan Turki jauh dari kata harmonis.

Hal itu utamanya disebabkan oleh ketidaksepakatan kedua negara tentang Suriah dan meningkatnya kritik internasional atas kebebasan dan hak di Turki.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Pengamat Ingatkan AI hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Manusia

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Din Syamsuddin: Board of Peace Trump Bentuk Nekolim Baru

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:01

Sambut Tahun Kuda Api, Ini Jadwal Libur Imlek 2026 untuk Rencanakan Kumpul Keluarga

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:52

Cadangan Devisa RI Menciut Jadi Rp2.605 Triliun di Awal 2026

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:47

Analisis Kebijakan MBG: Antara Tanggung Jawab Sosial dan Mitigasi Risiko Ekonomi

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:41

ISIS Mengaku Dalang Bom Masjid Islamabad

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:31

Dolar AS Melemah, Yen dan Pound Terdampak Ketidakpastian Global

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:16

Golkar: Indonesia Bergabung ke Dewan Perdamaian Gaza Wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:01

Wall Street Perkasa di Akhir Pekan, Dow Jones Tembus 50.000

Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:52

Selengkapnya