Berita

Vaksin Covid-19 buatan Rusia didaftarkan pada 11 Agustus lalu/RT

Dunia

Tidak Heran Rusia Bisa Kebut Pembuatan Vaksin Covid-19 Pertama Di Dunia, Ini Alasannya

KAMIS, 13 AGUSTUS 2020 | 23:08 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Rusia membuat geger dunia pada awal pekan ini setelah Presiden Vladimir Putin mengumumkan bahwa negaranya berhasil membuat vaksin Covid-19 pada Selasa (11/8). Vaksin yang disebut dengan Sputnik V itu kini sedang dalam tahap pendaftaran.

Pengumuman itu jelas membawa angin segar tersendiri di tengah pandemik Covid-19 yang saat ini masih sulit dikendalikan penularannya. Bahkan tidak lama setelah pengumuman itu, setidaknya ada 20 negara yang berminat untuk membeli vaksin Covid-19 buatan Rusia.

Meski begitu, di sisi lain, suara sumbang soal hadirnya vaksin itu tidak dapat dihentikan. Apalagi, Rusia tampak seperti melakukan "operasi senyap", tidak banyak kabar sebelumnya soal proses pengembangan vaksin Covid-19, namun tiba-tiba hadir dengan pengumuman vaksin Covid-19 pertama di dunia.


"Saya pikir itu sangat menakutkan. Ini benar-benar berisiko," kata direktur Institut Keamanan Vaksin di Universitas Johns Hopkins, kata Daniel Salmon ketika berkomentar soal vaksin Covid-19 buatan Rusia, seperti dimuat New York Times.

Benarkah demikian?

Untuk memahami hal tersebut lebih lanjut agaknya lebih baik untuk mengenal lebih dekat soal bagaimana proses pembuatan vaksin Covid-19 tersebut.
 
Kepala Pusat Penelitian Nasional Gamaleya untuk Epidemiologi dan Mikrobiologi, tempat vaksin itu dikembangkan, yakni Profesor Victor Zuyev menjelaskan bahwa vaksin tersebut bisa dibuat dengan cepat berkat profesionalisme pengembangannya.

Selain itu, vaksin itu juga dikembangkan oleh para profesional berpengalaman yang juga berperan dalam pengerjaan vaksin melawan virus Ebola.

Dia menjelaskan bahwa nama "Sputnik V" dipilih untuk menjadi nama vaksin itu sebagai bentuk penghormatan pada satelit Soviet pertama.

"Tidak ada yang mengejutkan. Mereka membuat vaksin ini pada platform yang sama dengan Ebola, itulah mengapa vaksin ini dibuat begitu cepat," katanya dalam percakapan dengan saluran 360, seperti dikabarkan ulang Russia Today berbahasa Spanyol pekan ini.

Prof. Zuyev menekankan bahwa vaksin itu dibuat bukan hanya sekedar "cepat" tapi juga dengan mempertimbangkan keamanan dan kemanjuran.

"Vaksin ini aman, yang terutama dibutuhkan dari sebuah vaksin, dan kedua, efektif," tekannya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa vaksin tersebut akan diproduksi dalam dua platform, pertama oleh Pusat Penelitian Nasional Gamaleya untuk Epidemiologi dan Mikrobiologi dan perusahaan Binnofarm.

Awal pekan ini, Putin menjelaskan bahwa vaksinasi penduduk harus dilakukan secara eksklusif atas dasar sukarela. Dia juga berharap bahwa produksi massal vaksin tersebut akan segera dimulai.

Pada saat yang sama, Kementerian Kesehatan Rusia mengindikasikan bahwa pemberian vaksin dalam dua tahap memungkinkan terciptanya kekebalan jangka panjang yang dapat bertahan hingga dua tahun.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Pengamat Ingatkan AI hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Manusia

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Din Syamsuddin: Board of Peace Trump Bentuk Nekolim Baru

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:01

Sambut Tahun Kuda Api, Ini Jadwal Libur Imlek 2026 untuk Rencanakan Kumpul Keluarga

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:52

Cadangan Devisa RI Menciut Jadi Rp2.605 Triliun di Awal 2026

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:47

Analisis Kebijakan MBG: Antara Tanggung Jawab Sosial dan Mitigasi Risiko Ekonomi

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:41

ISIS Mengaku Dalang Bom Masjid Islamabad

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:31

Dolar AS Melemah, Yen dan Pound Terdampak Ketidakpastian Global

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:16

Golkar: Indonesia Bergabung ke Dewan Perdamaian Gaza Wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:01

Wall Street Perkasa di Akhir Pekan, Dow Jones Tembus 50.000

Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:52

Selengkapnya