Berita

Seorang sukarelawan membagikan makanan gratis kepada para migran yang tidak dapat bekerja di distrik Little India Singapura pada bulan April/Reuters

Dunia

Kasus Bunuh Diri Di Kalangan Pekerja Migran Di Singapura Curi Perhatian Di Tengah Pandemi

KAMIS, 06 AGUSTUS 2020 | 13:21 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pandemi virus corona atau Covid-19 yang terjadi di Singapura bukan hanya berimbas pada sektor kesehatan masyarakat semata, tapi juga merembet ke sejumlah sektor lain, termasuk ekonomi dan sosial.

Salah satu masalah yang timbul sebagai imbas dari pandemi adalah munculnya serentetan kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri di pekerja migran di Singapura.

Hal ini memicu kekhawatiran atas masalah kesehatan mental di kalangan pekerja migran di negara tersebut. Bukan tanpa alasan, mengingat pandemi Covid-19 memaksa ribuan pekerja migran yang bergaji rendah atau bekerja di sektor informal untuk tidak bekerja. Hal itu menyebabkan banyak dari mereka tidak memiliki penghasilan selama pandemi.


Selain itu, mereka juga terpaksa harus melakukan akitivitas hanya di asrama mereka, mengingat ada kebijakan pembatasan pergerakan serta karantina yang dilakukan oleh pemerintah Singapura demi mengerem penularan virus corona.

Upaya Singapura untuk menekan penularan virus corona pun tidak main-main. Sepanjang bulan April lalu, Singapura menutup blok perumahan yang luas di mana mayoritas penghuninya adalah pekerja asal Asia Selatan yang tinggal di kamar tidur yang padat.

Tidak lama setelah itu, sejumlah asrama yang menampung pekerja migran juga dikarantina. Itu berarti, mereka tidak bisa leluasa bergerak ke luar asrama. Bahkan pekerja migran yang dinyatakan negatif virus corona pun dibatasi pergerakannya.

Kondisi semacam itu membuat resah sejumlah kelompok hak asasi manusia. Pasalnya, kondisi tersebut sangat berpotensi memicu masalah kesehatan mental di kalangan pekerja migran.

Keresahan tersebut cukup beralasan, terlebih belum lama ini muncul sejumlah video viral yang menunjukkan beberapa pekerja migran melakukan upaya bunuh diri. Ada video yang menujukkan pekerja migran berjalan terhuyung-huyung di atap rumah, ada juga video yang menunjukkan migran berada di ambang jendela yang tinggi.

Sementara itu, melansir Reuters, kasus percobaan bunuh diri pekerja migran terbaru dilaporkan terjadi akhir pekan lalu.

Seorang migran berusia 36 tahun digambarkan berlumuran darah di bagian kaki di beberapa anak tangga di asramanya setelah melukai diri sendiri.

Menindaklanjuti situasi tersebut, Kementerian Tenaga Kerja Singapura mengatakan pada Rabu malam (5/8), bahwa pihaknya memantau serentetan kasus bunuh diri dan upaya bunuh diri baru-baru yang melibatkan pekerja migran di asrama.

Pihak kementerian menggandeng sejumlah mitra untuk meningkatkan program dukungan kesehatan mental bagi mereka.

Meski begitu, pihak kementerian membantah bahwa ada lonjakan kasus bunuh diri di antara para pekerja dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Mereka menekankan bahwa insiden semacam itu cenderung berasal dari masalah keluarga yang mungkin diperburuk oleh situasi sulit karena tidak dapat kembali ke rumah karena pembatasan Covid-19.

Sejauh ini, Singapura diketahui telah mencatat lebih dari 54 ribu kasus Covid-19. Banyak kasus ditemukan di asrama pekerja migran asal Bangladesh, India, dan China.

"Banyak pekerja sekarang mengatakan bahwa penderitaan mental adalah masalah yang lebih serius daripada virus," kata presiden kelompok hak-hak migran, Transient Workers Count Too, Deborah Fordyce.

Sementara itu, kepala eksekutif Samaritans of Singapore,  Gasper Tan menjelaskan bahwa akses migran yang terbatas untuk mendapatkan dukungan dari teman dan keluarga, terutama selama penguncian dapat mengakibatkan perasaan negatif yang luar biasa.

"Mereka merasa terjebak, tidak dapat mengontrol atau mengubah keadaan mereka, dan mungkin merasa bahwa bunuh diri adalah satu-satunya pilihan yang tersisa untuk bebas dari pergumulan dan rasa sakit mereka," paparnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya