Berita

Amerika Serikat sebut TikTok digunakan sebagai mata-mata Partai Komunis China/Net

Dunia

Menlu Pompeo: TikTok Digunakan Partai Komunis China Untuk Mata-matai Orang Amerika

SENIN, 03 AGUSTUS 2020 | 10:12 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo menjelaskan secara gamblang alasan Presiden Donald Trump berusaha untuk memblokir penggunaan TikTok.

Berbicara kepada Fox News pada Minggu (2/8), Pompeo mengklaim, platform video singkat TikTok dan aplikasi China lainnya digunakan Partai Komunis untuk memata-matai warga Amerika.

"Perusahaan-perusahaan perangkat lunak China ini melakukan bisnis di AS, apakah iitu TikTok atau WeChat. (Mereka) memberi 'makan' data langsung ke Partai Komunis China, aparat keamanan nasional mereka," ungkap Pompeo, seperti dikutip Sputnik.


"Bisa jadi itu adalah pola pengenalan wajah, bisa juga informasi mengenai tempat tinggal, nomor telepon, teman-teman mereka atau dengan siapa mereka berhubung. Itulah masalah-masalah yang ingin dijelaskan oleh Presiden Trump yang akan kami tangani," paparnya.

"Ini adalah masalah keamanan nasional yang sebenarnya. Mereka adalah masalah privasi sejati bagi rakyat Amerika. Presiden Trump telah mengatakan 'cukup' dan kami akan memperbaikinya,” tambah mantan direktur Central Intelligence Agency (CIA) tersebut.

Pompeo mengatakan, Trump akan segera mengumumkan langkah-langkah baru terkait dengan larangan penggunaan TikTok atau aplikasi yang terhubung dengan Partai Komunis China. Namun ia tidak memberikan rincian apapun.

Pada Jumat (31/7), Trump mengatakan memiliki wewenang untuk menandatangani perintah eksekutif guna melarang penggunaan TikTok.

Namun ancaman tersebut membuat pemilik TikTok, raksasa perangkat lunak China ByteDance,  mempertimbangkan opsi untuk menjual saham AS-nya kepada investor Amerika agar memungkinkan platform tetap terjaga dan berjalan.

Salah satu investor yang dikabarkan akan mengambil alih TikTok AS adalah Microsoft Corp. Nantinya, Microsoft setidaknya akan mengamankan data pengguna AS.

Namun, pada Sabtu (1/8), Wall Street Journal melaporkan Microsoft telah menghentikan negosiasi tentang kemungkinan pembelian.

Sejauh ini, TikTok memiliki sekitar 800 juta total pengguna global. Sebanyak 150 juta di antaranya di AS.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya