Berita

Muslim Inggris diizinkan untuk melakukan shalat Idul Adha berjamaah pada hari Jumat 31 Juli, setelah tempat ibadah dibuka kembali pada bulan Juli/Net

Dunia

Netizen Inggris: Ada Aroma Islamophobia Dibalik Penguncian Lokal Jelang Idul Adha

SABTU, 01 AGUSTUS 2020 | 08:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keputusan pemerintah Inggris untuk mengunci beberapa wilayah di kota Manchester jelang perayaan Idul Adha menuai kecaman dari kalangan Muslim Inggris.

Sekretaris Kesehatan Inggris Matt Hancock mengumumkan penguncian itu di akun Twitter pribadinya setelah jam 9 malam. Dia mengumumkan bahwa rumah tangga di Manchester dan sekitarnya tidak dapat melakukan pertemuan dengan keluarga lain di dalam ruangan, merujuk kepada meningkatnya penularan virus corona di daerah tersebut.

“Berdasarkan data, kami memutuskan bahwa di Greater Manchester, bagian dari Yorkshire Barat dan Lancashire Timur kita perlu mengambil tindakan segera untuk menjaga orang tetap aman,” tulis Hancock, seperti dikutip dari MEE, Jumat (31/7).


Sekretaris kesehatan mengatakan bahwa penyebaran itu terjadi karena pertemuan rumah tangga yang tidak mematuhi jarak sosial.

“Mulai tengah malam ini, orang-orang dari rumah tangga yang berbeda tidak akan diizinkan untuk saling bertemu di dalam ruangan di daerah ini,” katanya, menegaskan keputuan penguncian berlaku sejak Kamis (30/7).

“Kami mengambil tindakan ini dengan berat hati, tetapi kami dapat melihat peningkatan tingkat Covid di seluruh Eropa dan bertekad untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk menjaga orang tetap aman.”

Pengumuman itu langsung disambut dengan kritik tajam di media sosial, dengan banyaknya netizen yang menghubungkan waktu penguncian dengan perayaan Idul Adha yang dimulai pada hari Jumat (31/7).

Seorang netizen mengatakan bahwa dia “mencium aroma Islamophobia” dalam keputusan itu.

Menurut sensus terakhir di Inggris, beberapa kota besar dan kota kecil yang sekarang dikunci, termasuk Oldham, Bolton dan Bradford, memiliki proporsi umat Muslim yang tinggi.

“Ini mungkin keputusan yang tepat tetapi waktunya benar-benar buruk,” kata Furqan Naeem, pemimpin komunitas Citizens UK di Greater Manchester kepada MEE.

“Ribuan keluarga akan membuat rencana untuk bersama satu sama lain, dan beberapa mungkin telah tertidur ketika pemerintah mengumumkan pesannya malam lalu,” kata Naeem.

Pemimpin partai Buruh Keir Starmer mengatakan bahwa mengumumkan langkah-langkah yang berpotensi mempengaruhi jutaan orang pada larut malam di Twitter adalah bentuk dari “kerendahan baru komunikasi pemerintah selama krisis ini.”

Sekretaris jenderal Dewan Muslim Inggris, Harun Khan mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (31/7) bahwa pemerintah telah gagal untuk memberi penjelasan kepada umat Muslim di negara itu.

“Pemerintah Inggris telah gagal memberikan kejelasan tentang pemberitahuan singkat yang mengejutkan dengan aturan baru yang harus diterima Muslim Inggris,” kata Khan.

Sementara itu Muslim di utara Inggris mencatat sebuah kontradiksi bahwa di saat mereka tidak diperbolehkan bertemu dengan anggota keluarga di dalam rumah, restoran dan pub masih terbuka.

Syed Rahi, seorang siswa geografi dari Rochdale, Greater Manchester mengatakan ia tidak dapat memahami keputusan tersebut.

“Aku tidak mengerti. Tidak ada yang bisa bertemu saya di rumah, tetapi mereka bisa bertemu saya di daerah tertutup lain seperti pub atau restoran,” katanya kepada MEE.

“Jika kita akan melakukan kuncian, itu seharusnya kuncian yang tepat. Tutup toko, tutup pub, jangan hanya mengisolasi kelompok minoritas dan membuat kita seolah-olah kita menyebabkan gelombang kedua,” ungkapnya.

Penguncian lokal tidak mempengaruhi sholat Ied dan berjalan sesuai rencana di Inggris dengan jarak sosial pada Jumat (31/7). Dewan Muslim Inggris (MCB) menerbitkan aturan pada minggu lalu tentang bagaimana merayakan Idul Adha dengan aman, termasuk menghindari berpelukan dan berjabat tangan, dan melakukan sholat berjamaah di luar ruangan.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya