Berita

Sandiaga Salahudin Uno/Net

Bisnis

Sandiaga Uno Ajak Masyarakat Cepat Berinovasi Hadapi Corona

KAMIS, 30 JULI 2020 | 22:03 WIB | LAPORAN: DARMANSYAH

Pandemik virus corona baru (Covid-19) secara langsung melemahkan ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Walau begitu, Sandiaga Salahudin Uno menegaskan kepada masyarakat untuk tidak menyerah.

Sebab, menurut Sandi, terdapat sejumlah peluang usaha di tengah segala keterbatasan yang dihadapi saat ini.

"Kuncinya Innovation fast. Pada masa pandemi ini bagaimana kita berinovasi secara cepat dan mampu untuk menjawab tantangan yang kita hadapi," ungkap Sandi dalam teleconference Seremoni Penerjunan KKN Muhammadiyah Mengajar 2020 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (30/7).


"Apalagi yang kita lihat sekarang, semakin hari semakin banyak dari bisnis dan UMKM yang mengalami kesulitan yang diakibatkan permintaan menurun dan penyesuaian adaptasi pada Covid-19 ini," tambahnya.

Inovasi tersebut diungkapkan Sandi harus hadir pada setiap langkah para enterpreneur. Kata Sandi, pada masa pandemik, setiap enterprenuer harus selalu dapat berpikir cepat dan berinovasi.

Sandi kemudian mencontohkan sikap Nabi Muhammad SAW, yakni siddiq yang berarti jujur, berkata benar. Amanah artinya adalah bisa dipercaya, menjalankan sebaik mungkin apa yang diamanatkan atau dipercayakan kepadanya. Fathanah artinya adalah cerdas atau pandai dan Tabligh yang berarti menyampaikan.

"Inovation fast yang dimaksud ini bisa juga di sebut fathanah, amanah, sidiq, dan tabligh, ini adalah kesempatan kita juga di tengah pandemik covid-19 untuk memperkuat sisi spritual," jelasnya.

Sikap Nabi Muhammad SAW itu diungkapkan Sandi, mengajarkan umat muslim untuk dapat mengkaji setiap peluang yang ada guna memperbaiki tatanan kehidupan, terutama tatanan ekonomi. Terlebih kondisi ekonomi bangsa yang kini dalam keadaan yang memprihatinkan.

Semua indikator ekonomi dipaparkannya menurun drastis. Bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama kuartal pertama hanya sebesar 2,97 persen. Sementara, prediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua diprediksi negatif.

"Berarti kalau kita masuk ke teritori negatif, dua periode kuartal kita pertumbuhannya turun menunjukkan bahwa kita berada dalam technical recession atau secara teknis kita masuk ke zona resesi," jelas Sandi.

"Ini yang tentu sangat kita khawatirkan karena lapangan kerja semakin sulit didapat, mata pencaharian semakin hilang, dan jumlah orang yang terkena PHK semakin meningkat," imbuhnya.

Di sisi lain, lanjut Sandi, biaya hidup semakin membebani, mulai dari pangan hingga biaya listrik, termasuk biaya kuota internet dan pulsa. Fenomena tersebut harus menjadi landasan dalam berpikir untuk mencari solusi, bukan menjadi bagian dari permasalahan.

Sebab, Indonesia adalah pasar terbesar di ASEAN untuk produk-produk pertanian, produk barang konsumsi. Bahkan, nilai transaksi penjualan online atau e-commerce di Indonesia telah mencapai 21 miliar dolar AS, terbesar di ASEAN. Namun sayang, seluruh produk dalam e-commerce justru didominasi komoditas dari negara tiongkok.

Melihat hal itu, Sandi mengatakan fakta ekonomi itu merupakan pekerjaan rumah yang harus dihadapi bersama, baik pemerintah maupun kalangan pengusaha. Sehingga ekonomi bangsa bisa lebih mandiri di masa depan.

"Karena barang-barang kita 99 persen didominasi oleh UMKM dan lapangan pekerjaan sekarang yang sulit didapat ternyata 97,3 persen beralih kepada UMKM," jelas Sandi.

"Dan yang membuat kita tercengang ekonomi indonesia justru bukan dikontribusi oleh usaha-usaha besar milik pemerintah, tapi oleh usaha mikro kecil menengah, berarti kita harus benahi dulu UMKM-nya untuk bisa memperbaiki ekonomi kita," tegasnya.

Menurutnya, banyak sekali sektor yang terdampak Covid-19, terlebih kini jumlah kasus positif covid-19 kini mencapai lebih dari 100.000 orang.

Segi ekonomi kata Sandi, juga memprihatinkan. Seluruh usaha, mulai usaha yang sangat besar sampai dengan usaha mikro terkena dampaknya.  

Begitu juga dengan usaha bidang hiburan serta usaha pusat perbelanjaan dan perhotelan.

"Tapi dilihat dari kehilangan pekerjaan tersebut justru ada peluang-peluang baru dan ini membutuhkan pergerakan solusi yang masif," ungkap Sandi.

"Siapa yang harus menghadirkan solusi tersebut? Adalah kita semua," jelasnya.

Sektor kesehatan menurutnya dapat ditingkatkan lewat perubahan, yakni dari semula bersifat rehabilitatif dan kuratif menuju promotif dan preventif.

"Jadi kegiatan seperti deteksi dini penyakit yang covid maupun non covid," imbuhnya.

Bisnis yang cukup berkembang disebutkannya seperti penyediaan ventilator, obat-obatan penanganan Covid-19.

"Preventif dari segi peningkatan imunitas seperti jamu sekarang meningkat juga," tambah Sandi.

Sementara itu, bisnis teleconferencing dan bisnis digital menjadi salah satu peluang usaha. Sebab, seluruh aktivitas yang semula dapat dilakukan dengan tatap muka langsung kini dialihkan lewat pertemuan jarak jauh melalui digital.

Bisnis lainnya adalah Biotech yang menurutnya justru berkembang masif selama pandemi. Sebab, banyak pihak saling berlomba mencari vaksin, baik obat-obatan modern maupun tradisional. Selanjutnya adalah sektor hukum dan industri berbasis energi ramah lingkungan, baik energi baru dan energi  terbarukan.

"Ini semua merupakan bagian dari tiga tren utama yang hadir dan terakserealisasi oleh covid-19," pungkas Sandi.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya