Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump/Net

Dahlan Iskan

Tes Pikun

MINGGU, 26 JULI 2020 | 05:10 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SETELAH menjalani tes kepikunan Presiden Donald Trump berbinar-binar. Ia memberikan wawancara televisi –apalagi kalau bukan FoxNews– mengenai hasil tesnya itu. Lalu ia menantang lawan politiknya, capres Demokrat Joe Biden, untuk melakukan tes yang sama.

"Apakah Anda menilai Biden sudah pikun?" pancing pewawancara.

"Saya tidak mengatakan begitu," ujar Trump. "Tapi saya kira Biden itu bahkan sudah lupa kalau ia masih hidup," katanya.


Trump begitu bangga dengan test kepikunan itu. Itulah yang disebut tes "Montreal Cognitive Assessment". Biasa disebut test MoCA. Tes ini untuk mengetahui apakah seseorang mengalami defisit ingatan.

Ada 30 pertanyaan di MoCA itu. Kalau Anda bisa menjawab 30 berarti nilai Anda 30. Kalaupun Anda tidak bisa menjawab 4 pertanyaan, nilai Anda masih 26. Nilai antara 26-30 masih tergolong normal. Artinya tidak ada tanda-tanda pikun.

Presiden Trump luar biasa: mendapat nilai 30. Itulah yang dengan bangga ia ceritakan. "Pada pertanyaan-pertanyaan awal memang mudah. Tapi kian ke bawah kian sulit," katanya.

Maka Trump pun menantang si pewawancara untuk juga melakukannya. Trump memang sewot sering dinilai punya masalah mental. Padahal ia sendiri sering menyebut dirinya sebagai orang jenius yang stabil. "Stable genius," katanya.

Salah satu pertanyaan di MoCA itu adalah: sebutkan lima kata. Anda harus ingat urutan kata itu. Lalu Anda diajak bicara hal-hal lain selama 10 menit. Setelah itu Anda akan ditanya lagi tentang lima kata itu. Anda harus menyebutkannya. Urutannya harus sama.

Lima kata yang dipilih Presiden Trump adalah: orang, perempuan, laki-laki, kamera, TV.

Trump pun disuruh mengulangi lima kata itu. Masih betul. Lalu diajak bicara lain-lain.

"Antara 15-20 menit kemudian saya diminta mengulangi menyebut lima kata itu: orang, wanita, laki-laki, kamera, TV," ujar Trump dengan lancarnya.

Tapi ia lupa berapa menit jarak antara penyebutan lima kata pertama dengan yang ketiga itu. Ia menyebutnya antara 15-20 menit. Padahal 10 menit.

Dalam test MoCA itu juga ada bagian menggambar. Salah satunya menggambar jam, harus dalam posisi pukul 2.30. Kalau posisi jarum panjang dan pendek benar berarti Anda normal. Kalau posisi jarum itu meleset berarti ada pikun ringan. Kalau angkanya kacau berarti pikun beneran.

Metode test MoCA ditemukan pada 1996. Yang menemukan adalah seorang imigran –yang dibenci Trump itu: dari Timur Tengah. Nama penemunya adalah Ziad Nasreddine. Ia orang Lebanon. Agamanya: Druz.

Waktu terjadi perang sipil di Lebanon, ayahnya meninggal. Ia diajak ibunya untuk mengunjungi keluarga di Kanada. Ternyata Ziad kerasan di Kanada. Di situ ia sekolah. Lalu masuk universitas di Los Angeles, Amerika. Kini Ziad mengajar di McGill University di Montreal.

Metode MoCA itu sangat populer untuk memutuskan seseorang sudah terkena alzheimer atau belum. Kini sudah lebih 200 negara mengadopsi metode itu.  Ada sebuah negara berkembang memakainya untuk mengetes presiden mereka. Hasil tes itu dipakai alasan untuk melengserkannya.

Tentu Ziad sangat bangga bahwa Presiden Trump juga memakainya. "Akhirnya Trump  tahu bahwa imigran itu ada gunanya," ujar Ziad. "Semoga setelah ini ada perubahan kebijakan soal imigran," tambahnya.

Trump terus menggunakan hasil tesnya itu untuk menyatakan kesehatan kondisi mentalnya. Terbantahkanlah penilaian bahwa Trump punya masalah mental.

"Tapi tes MoCA itu bukan tes mental atau kejiwaan. Itu tes hanya untuk kepikunan," ujar Ziad, penemunya.

Terserah Trump saja, bukan?

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Lepas Status WNI Kena Tarif Rp5 Juta, Ini Kata Ketua DPR

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:23

KPK Panggil Lima Pejabat BPK Sumsel

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:16

Saham BUMI Menguat 6 Persen pada Sesi I, Bukukan Transaksi Rp727,5 Miliar

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:15

Pengisian Jabatan di Kemenag Dituntut Adil dan sesuai Meritokrasi

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:08

Bisa Jadi Ada Aparat Lain Seperti Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:06

Sekolah Negeri Sepi Peminat Harus Jadi Perhatian

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:05

Mereduksi Bobot Kekuasaan Gibran Lewat Pergeseran Posisi Duduk Wapres

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:04

Sepak Bola Berbasis Bukti

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:50

DPR Minta Kesetaraan Penanganan Kasus Febrie

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:39

Babinsa dan Bhabinkamtibmas Dilibatkan dalam Pemungutan Pajak Berpeluang Gerus Kepercayaan Publik

Selasa, 21 Juli 2026 | 13:38

Selengkapnya