Berita

Sampel uji coba ditangani di dalam laboratorium Grup Vaksin Oxford di Universitas Oxford/AP

Dunia

Hasil Ujicoba Terbaru Menjanjikan, Universitas Oxford Selangkah Menuju Penemuan Vaksin Covid-19

SENIN, 20 JULI 2020 | 22:38 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Universitas Oxford satu langkah lebih dekat dengan penemuan vaksin virus corona atau Covid-19. Pasalnya, dalam ujicoba terbaru yang dilakukan, vaksin eksperimental yang dibuat oleh para peneliti dari Universitas Oxford menunjukkan hasil yang positif.

Ujicoba yang melibatkan 1.077 orang tersebut menunjukkan injeksi kandidat vaksin eksperimental memicu respons imun yang baik. Vaksin potensial membuat para relawan yang terlibat dalam ujiocoba itu memiliki antibodi dan Sel-T yang dapat melawan virus corona.

Temuan awal tersebut diterbitkan dalam jurnal medis Lancet awal pekan ini, dengan efek vaksin diukur dengan jumlah antibodi dan Sel-T yang dihasilkannya dalam darah sukarelawan.


Temuan ini sangat menjanjikan, namun masih terlalu dini untuk mengetahui apakah hasil ini cukup untuk menawarkan perlindungan sepenuhnya. Karena itulah, ujicoba skala lebih besar telah dimulai di Brasil dan Afrika Selatan.

Vaksin eksperimental yang disebut dengan ChAdOx1 nCoV-19 itu dikerjakan oleh para peneliti di Universitas Oxford secepat dan seakurat mungkin sambil berpacu dengan waktu.

Setelah ujicoba "imunisasi" terbaru ini dilakukan, para relawan yang terlibat akan ditindaklanjuti selama delapan minggu ke depan. Belum diketahui apakah tingkat tinggi antibodi yang dihasilkan akan bertahan setidaknya selama enam bulan atau tidak.

Selain itu, ada juga pertanyaan yang masih harus dicari jawabannya, seperti apakah vaksin eksperimental itu akan bekerja pada orang yang lebih tua, mengingat sistem kekebalan tubuhnya berfungsi kurang baik daripada orang yang lebih muda.

"Sistem kekebalan tubuh memiliki dua cara untuk menemukan dan menyerang patogen, yakni respon antibodi dan sel-T. Vaksin ini dimaksudkan untuk menginduksi keduanya, sehingga dapat menyerang virus ketika beredar di dalam tubuh, serta menyerang sel-sel yang terinfeksi," kata penulis utama penelitian itu, Prof Andrew Pollard.

"Kami berharap ini berarti sistem kekebalan tubuh akan mengingat virus, sehingga vaksin kami akan melindungi orang untuk jangka waktu yang lama. Namun, kami perlu penelitian lebih lanjut sebelum kami dapat mengonfirmasi bahwa vaksin tersebut secara efektif melindungi terhadap infeksi Sars-CoV-2, dan untuk berapa lama perlindungan berlangsung," sambungnya, seperti dikabarkan The Guardian (Senin, 20/7).

Sementara itu, dikabarkan BBC, vaksin ini dibuat dari virus yang direkayasa secara genetika yang menyebabkan pilek pada simpanse. Virus itu juga telah banyak dimodifikasi, sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi pada orang dan juga membuatnya "terlihat" lebih mirip virus corona.

Para ilmuwan kemudian mentransfer instruksi genetik untuk "spike protein" virus corona ("alat" penting yang digunakannya untuk menyerang sel-sel tubuh) ke vaksin yang mereka kembangkan. Hal itu berarti, vaksin menyerupai virus corona dan sistem kekebalan tubuh dapat belajar bagaimana cara menyerangnya.

Vaksin eksperimental ini bekerja pada dua fokus utama, yakni antibodi dan Sel-T pada tubuh manusia.

Antibodi adalah protein kecil yang dibuat oleh sistem kekebalan yang menempel pada permukaan virus. Antibodi netralisasi dapat menonaktifkan virus corona.

Sementara Sel-T adalah sejenis sel darah putih yang membantu mengoordinasikan sistem kekebalan tubuh dan mampu mengenali sel-sel tubuh mana yang telah terinfeksi dan menghancurkannya.

Hampir semua vaksin yang diujicobakan tersebut efektif menginduksi respon antibodi dan Sel-T.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Pengamat Ingatkan AI hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Manusia

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Din Syamsuddin: Board of Peace Trump Bentuk Nekolim Baru

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:01

Sambut Tahun Kuda Api, Ini Jadwal Libur Imlek 2026 untuk Rencanakan Kumpul Keluarga

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:52

Cadangan Devisa RI Menciut Jadi Rp2.605 Triliun di Awal 2026

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:47

Analisis Kebijakan MBG: Antara Tanggung Jawab Sosial dan Mitigasi Risiko Ekonomi

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:41

ISIS Mengaku Dalang Bom Masjid Islamabad

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:31

Dolar AS Melemah, Yen dan Pound Terdampak Ketidakpastian Global

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:16

Golkar: Indonesia Bergabung ke Dewan Perdamaian Gaza Wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:01

Wall Street Perkasa di Akhir Pekan, Dow Jones Tembus 50.000

Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:52

Selengkapnya