Berita

Senator Amerika Serikat Marco Rubio menjadi salah satu sasaran dalam sanksi terbaru China terkait dengan isu Uighur/Reuters

Dunia

Berbalas Sanksi Terkait Isu Uighur, China Sasar Tiga Pejabat Top AS Ini

SENIN, 13 JULI 2020 | 22:56 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Amerika Serikat dan China lagi-lagi terlibat dalam hubungan saling berbalas sanksi, kali ini terkait isu Muslim Uighur.

Pada Senin (13/7), China mengumumkan saksi yang sesuai terhadap Amerika Serikat setelah sebelumnya negeri Paman Sam menghukum pejabat senior China dengan sanksi atas perlakuan mereka terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur di wilayah barat Xinjiang, China.

Sanksi terbaru diterapkan China ketika hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu tengah terlibat dalam perselisihan terkait banyak isu, bukan hanya Uighur, tapi juga ekonomi, perang dagang, tudingan soal asal mula Covid-19 serta UU keamanan baru China di Hong Kong.


Sanksi terbaru China menargetkan Senator Amerika Serikat Ted Cruz dan Marco Rubio, Perwakilan Amerika Serikat Chris Smith, Duta Besar untuk Kebebasan Beragama Internasional Sam Brownback dan Komisi Kongres-Eksekutif Amerika Serikat untuk China.

Rubio dan Cruz masuk dalam sanksi itu karena keduanya mensponsori undang-undang yang akan menghukum tindakan China di Xinjiang.

Sedangkan Smith merupakan kritikus vokal terhadap masalah China mulai dari Xinjiang hingga Hong Kong dan Covid-19.

Ketiganya adalah anggota Partai Republik Amerika Serikat.

"Tindakan Amerika Serikat secara serius mencampuri urusan dalam negeri China, secara serius melanggar norma dasar hubungan internasional dan secara serius merusak hubungan China-Amerika Serikat," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying.

"China akan membuat tanggapan lebih lanjut berdasarkan pada bagaimana situasi berkembang," sambungnya, seperti dikabarkan Reuters.

Meski begitu, Hua tidak menjelaskan lebih lanjut soal sanksi terbaru China tersebut serta apa saja cakupannya.

Isu penindasan HAM terhadap kelompok minoritas Uighur di Xinjiang hangat dibicarakan publik sejak beberapa tahun terakhir.

Terlebih sejak PBB merilis laporan mencengankan pada tahun lalu soal penahanan setidaknya satu juta warga etnis Uighur dan Muslim lainnya di pusat penahanan di Xinjiang. Di pusat tersebut, mereka diduga mengalami penindasan.

Namun China kerap membantah semua tudingan miring tersebut dan menekankan bahwa itu bukanlah pusat penahanan, melainkan pusat pelatihan yang membantu memberantas terorisme dan ekstremisme dan memberi orang keterampilan baru.

Amerika Serikat, dengan agenda kepentingan nasionalnya sendiri, sangat kritis soal isu tersebut. Komisi Kongres-Eksekutif untuk China yang memantau hak asasi manusia dan pengembangan aturan hukum belum lama ini menyerahkan laporan tahunan kepada Trump dan Kongres soal isu Uighur.

Amerika Serikat pun menindaklanjuti dengan menerapkan sanksi kepada sejumlah pejabat top China yang dianggap bertanggungjawab atas pelanggaran HAM warga Uighur. Di antara mereka yang dijerat dengan sanksi baru Amerika Serikat adalah sekretaris Partai Komunis Xinjiang.

Mereka yang dijerat dengan sanksi Amerika Serikat itu akan dibekukan asetnya di Amerika Serikat, jika ada serta adanya larangan bepergian ke negeri Paman Sam.

Bukan hanya itu, warga Amerika Serikat juga dilarang melakukan bisnis dengan mereka yang dijerat sanksi tersebut.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Pengamat Ingatkan AI hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Manusia

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Din Syamsuddin: Board of Peace Trump Bentuk Nekolim Baru

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:01

Sambut Tahun Kuda Api, Ini Jadwal Libur Imlek 2026 untuk Rencanakan Kumpul Keluarga

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:52

Cadangan Devisa RI Menciut Jadi Rp2.605 Triliun di Awal 2026

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:47

Analisis Kebijakan MBG: Antara Tanggung Jawab Sosial dan Mitigasi Risiko Ekonomi

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:41

ISIS Mengaku Dalang Bom Masjid Islamabad

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:31

Dolar AS Melemah, Yen dan Pound Terdampak Ketidakpastian Global

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:16

Golkar: Indonesia Bergabung ke Dewan Perdamaian Gaza Wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:01

Wall Street Perkasa di Akhir Pekan, Dow Jones Tembus 50.000

Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:52

Selengkapnya