Berita

Kapal fregat Courbet Prancis/Net

Dunia

Turki Tuntut Permintaan Maaf Prancis Atas Klaim Palsunya Soal Insiden Kapal Perang Di Laut Mediterania

JUMAT, 03 JULI 2020 | 06:22 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Klaim Prancis yang menuduh kapal perang Turki melakukan perilaku agresif di laut Mediterania telah meningkatkan ketegangan antara sekutu NATO.

Di sela-sela kunjungan kerjanya di Berlin,  Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, pada Kamis (2/7) mengatakan bahwa Prancis harus meminta maaf atas klaim palsunya itu.

“Ketika Prancis membuat klaim palsu dan bekerja melawan Turki, itu tidak bisa diterima. Kami mengharapkan Prancis untuk meminta maaf tanpa syarat,” katanya, seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (2/7).


Peristiwa itu berawal saat Prancis menuduh kapal perang Turki melakukan perilaku agresif setelah kapal perangnya  mencoba memeriksa kapal  yang diduga melanggar embargo senjata PBB di Libya pada Juni lalu.

Prancis mengatakan, fregat Courbet menyala tiga kali oleh radar penargetan angkatan laut Turki pada 10 Juni ketika mencoba mendekati kapal sipil berbendera Tanzania yang diduga terlibat dalam perdagangan senjata. Kapal itu dikawal oleh tiga kapal perang Turki. Courbet akhirnya mundur setelah konfrontasi terjadi.

Pada saat itu, fregat Perancis adalah bagian dari misi Sea Guardian, yang membantu memberikan keamanan maritim di Mediterania. Prancis mengatakan pihaknya bertindak berdasarkan informasi NATO dan bahwa di bawah aturan keterlibatan aliansi, tindakan semacam itu dianggap tindakan bermusuhan.

Sementara itu, Turki membantah telah melecehkan Courbet.

“Prancis belum mengatakan yang sebenarnya ke UE atau NATO,” ungkap Cavusoglu.

“Klaim bahwa kapal kami mengunci (kapal Prancis) tidak benar. Kami telah membuktikan ini dengan laporan dan dokumen dan memberikannya kepada NATO. NATO melihat kebenaran,” tegasnya.

NATO hanya mengonfirmasi bahwa penyelidik telah menyerahkan laporan mereka ke dalam insiden tersebut, tetapi mereka mengatakan itu rahasia dan menolak untuk memberikan info lebih jauh.

“Alih-alih terlibat dalam kegiatan anti-Turki dan kecenderungan semacam itu, Prancis perlu membuat pengakuan yang tulus. Harapan kami dari Perancis saat ini adalah untuk meminta maaf dengan cara yang jelas, tanpa jika atau tetapi, karena tidak memberikan informasi yang benar,” kata Cavusoglu.

Sementara itu, pemerintah Perancis mengirim surat kepada NATO pada hari Selasa (28/6) yang mengatakan bahwa pihaknya menghentikan keikutsertaannya di Sea Guardian untuk sementara waktu.

Dalam kesempatan yang sama, Cavusoglu juga menegaskan kembali dukungan Turki kepada Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui oleh PBB dan menambahkan bahwa Turki siap bekerjasama dengan para aktor internasional, termasuk Prancis, untuk solusi politik di Libya.

“Kami menginginkan gencatan senjata permanen dan solusi politik di Libya. Kami mengatakan bahwa satu-satunya solusi adalah solusi politik. Sampai hari ini kami telah melihat (putschist Jenderal Khalifa) Haftar yang belum mendukung inisiatif gencatan senjata meskipun ada upaya kami,” katanya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Tambahan Dana BBM Subsidi Tembus Rp2 Triliun per Hari

Jumat, 10 April 2026 | 02:02

HIPKA Dorong Kepercayaan Pengusaha di Tengah Ketidakpastian Global

Jumat, 10 April 2026 | 01:26

Warga Dunia Khawatir Konflik Iran-Israel Kembali Pecah

Jumat, 10 April 2026 | 01:19

Perlu Hitungan Matang Jaga Ketahanan BBM

Jumat, 10 April 2026 | 01:04

Sandiaga Uno Raih Penghargaan Muzakki Teladan Berdampak

Jumat, 10 April 2026 | 00:31

Prabowo Cerdas Sikapi Wacana Impeachment

Jumat, 10 April 2026 | 00:18

Masa Depan Jakarta Ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 00:05

Gencatan Senjata Iran-Israel Bukan Akhir Konflik, Indonesia Wajib Waspada

Kamis, 09 April 2026 | 23:41

Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba Butuh Pemimpin Baru

Kamis, 09 April 2026 | 23:24

MRT Adalah Game Changer Transformasi Kota Tua Jakarta

Kamis, 09 April 2026 | 23:03

Selengkapnya