Berita

Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Aria Bima/Net

Politik

Aria Bima: Pembakaran Bendera PDIP Tindakan Anarki Dan Tidak Berbudaya

KAMIS, 25 JUNI 2020 | 09:58 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Terjadi insiden pembakaran bendera PDI Perjuangan bersamaan dengan bendera bergambar palu arit saat peserta aksi Aliansi Nasional Anti Komunisme (ANAK) NKRI menggelar unjuk rasa menolak RUU HIP, di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6).

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto tegas menyatakan, partainya akan menempuh jalur hukum atas pembakaran tersebut. Sementara Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Yusuf Martak, yang menjadi salah satu pemimpin aksi, mengaku khawatir jika apa yang diperkarakan itu adalah hal yang mengada-ada dengan tujuan untuk membungkam pengkritik.

Yusuf Martak curiga ada penyusup yang sengaja datang untuk membuat gaduh. Penyusup itu diselipkan untuk membuat aksi kontroversi, yang tujuan utamanya adalah membungkam kritik atas RUU HIP yang disampaikan demonstran.


Menyikapi hal tersebut, anggota DPR dari Fraksi PDIP, Aria Bima menilai tindakan tersebut anarkis dan tidak sepatutnya dilakukan oleh penyampai aspirasi.

"Saya melihat itu tindakan anarki yang berlebihan ya," ujar Aria Bima kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (25/6).

Ketua Komisi VI DPR ini mengatakan bahwa pembakaran bendera bukanlah cara yang apik untuk meluapkan kemarahan. Pasalnya, bendera merupakan simbol kehormatan suatu prtai.

"Jadi saya melihat, mengenai hal-hal terkait tindakan semacam itu tidak hanya soal bendera PDIP, tapi bendera sebagai simbol kedaulatan dan kehormatan suatu organisasi," katanya.

Menurut Aria Bima, menyampaikan aspirasi di hadapan publik maupun parlemen dilindungi undang-undang. Namun, tidak boleh dilakukan secara anarki dengan merusak benda terlebih bendera yang merupakan simbol kehormatan organisasi.

"Itu suatu tindakan yang tidak berbudaya, jadi saya melihat sebenarnya kritik dan demo itu dalam sistem demokrasi diberi ruang. Tapi tidak dengan melakukan anarki," tandasnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

Jaminan Kesehatan 11 Juta Orang Dicabut Bikin Ketar-ketir

Senin, 09 Februari 2026 | 01:29

MKMK Tak Bisa Batalkan Keppres Adies Kadir Jadi Hakim MK

Senin, 09 Februari 2026 | 01:11

Baznas-Angkasa Malaysia Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Masjid

Senin, 09 Februari 2026 | 01:01

Kata Pengantar Buku, YIM: Keadilan yang Memulihkan Hak

Senin, 09 Februari 2026 | 00:35

Bahlil Takut Disebut Pengkhianat soal Prabowo-Gibran Dua Periode

Senin, 09 Februari 2026 | 00:32

Tradisi Jual Beli Istri di Eropa, Budaya Rakyat Abad ke-17 sampai ke-20

Senin, 09 Februari 2026 | 00:09

Sakit Jokowi Dicurigai cuma Sandiwara

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:27

Prestasi Timnas Futsal Jadi Kebanggaan Rakyat

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:22

Delegasi Indonesia Paparkan Konsep Diplomasi Humanis di YFS 2026 Jenewa

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:05

Selengkapnya