Berita

Anak anjing jenis bulldog Perancis. Sebanyak 38 anak anjing ras ini ditemukan mati dalam penerbangan dari Ukraina ke Kanada 13 Juni lalu/Net

Dunia

Berhimpitan Di Kargo Pesawat, 38 Anak Anjing Mati Dalam Penerbangan Dari Ukraina Ke Kanada

MINGGU, 21 JUNI 2020 | 23:58 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Otoritas Kanada saat ini tengah menyelidiki kematian 38 anak anjing yang diterbangkan dari Ukraina awal bulan ini.

Pesawat yang terbang dari Kiev itu mendarat di Bandara Toronto Pearson pada 13 Juni lalu. Namun kabar soal kematian puluhan anak anjing itu baru beredar di media beberapa hari terakhir.

Menurut Lembaga Inspeksi Makanan Kanada, sekitar 500 anak anjing bulldog Perancis berada di dalam penerbangan itu. 38 di antaranya ditemukan mati pada saat kedatangan, dan banyak anak anjing lainnya yang mengalami dehidrasi dan sakit parah.


Pakar pertunjukan anjing profesional yang pada saat kejadian kebetulan berada di area kargo bandara untuk menjemput hewan yang berbeda, Abby Lorenzen mengatakan bahwa apa yang dia lihat saat itu bak mimpi buruk.

"Anda bisa mencium bau kematian dan kotoran, urin," kata Lorenzen kepada Global News.

Sementara itu, menurut kabar yang dimuat National Post Canada, mengutip saksi mata, anak-anak anjing tersebut sudah terlihat menderita stres akibat panas ketika mereka dimasukkan ke dalam pesawat selama cuaca panas di Kiev.

500 anak anjing itu dilaporkan ditempatkan di 300 kandang kecil. Hal itu menyebabkan mereka harus terkurung berhimpitan untuk waktu yang lama selama penerbangan. Terlebih, ratusan anak anjing itu ditempatkan di dalam ruang kargo pesawat yang lebih rendah, dengan sirkulasi udara terbatas.

Mereka diterbangkan dengan pesawat yang dioperasikan oleh Ukraine International Airlines (UIA).

Menanggapi insiden tersebut, pihak maskapai mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa pesawat itu mengoperasikan penerbangan charter dan mengantarkan hewan dalam jumlah besar.

"Mengangkut anak anjing ras murni, terutama anjing brachycephalic seperti misalnya bulldog Perancis, membawa risiko tertentu, yang peternak dan semua yang mengirim anjing melalui udara sangat mengerti," begitu keterangan pihak maskapai.

"Pengirim, bagaimanapun, secara sadar mengambil risiko, karena bisnis peternak anjing dan kucing murni adalah beberapa yang paling kompetitif dan bermargin tinggi," sambungnya, seperti dikabarkan Russia Today.

Setelah insiden itu dilaporkan oleh media Kanada, UIA menyatakan belasungkawa atas hilangnya nyawa hewan yang tragis dalam penerbangan itu.

Sementara itu, menurut cabang Humane Society International di Kanada, cara anak-anak anjing itu dimuat ke dalam pesawat tampaknya telah melanggar standar keselamatan industri hewan.

Seorang aktivis hak-hak binatang, Lucas Hixson mengatakan bahwa penerbangan itu kemungkinan merupakan bagian dari operasi penyelundupan di mana para pedagang berusaha meningkatkan laba mereka dengan memuat sebanyak mungkin hewan peliharaan ke dalam pesawat, tanpa memedulikan kesejahteraan mereka.

"Operasi komersial ini dijalankan oleh pabrik anjing besar yang menampung dan membiakkan ratusan dan ribuan anjing setiap tahun dalam kondisi yang biasanya tidak steril di mana anjing-anjing itu dijejalkan bersama," kata Hixson.

Insiden ini masih diselidiki lebih lanjut oleh otoritas Kanada.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Pengamat Ingatkan AI hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Manusia

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Din Syamsuddin: Board of Peace Trump Bentuk Nekolim Baru

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:01

Sambut Tahun Kuda Api, Ini Jadwal Libur Imlek 2026 untuk Rencanakan Kumpul Keluarga

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:52

Cadangan Devisa RI Menciut Jadi Rp2.605 Triliun di Awal 2026

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:47

Analisis Kebijakan MBG: Antara Tanggung Jawab Sosial dan Mitigasi Risiko Ekonomi

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:41

ISIS Mengaku Dalang Bom Masjid Islamabad

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:31

Dolar AS Melemah, Yen dan Pound Terdampak Ketidakpastian Global

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:16

Golkar: Indonesia Bergabung ke Dewan Perdamaian Gaza Wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:01

Wall Street Perkasa di Akhir Pekan, Dow Jones Tembus 50.000

Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:52

Selengkapnya