Berita

M Rizal Fadillah/Net

Publika

Doking Si Kodok Peking

KAMIS, 18 JUNI 2020 | 15:14 WIB

PERSOALAN RUU HIP dengan dugaan adanya misi terselubung aktivis berpaham komunis atau neo-PKI berimbas pada ramainya di medsos soal Waketum Partai Gerindra Arief Poyuono yang menafikan komunis atau PKI saat ini, bahkan menuduh yang mengungkit-ungkit soal PKI dan komunisme adalah Kadrun singkatan dari kadal gurun.

Kadal gurun atau Kadrun adalah predikat yang diberikan oleh aktivis PKI dahulu untuk ulama, ustadz, aktivis Islam yang menjalankan agama Islam. Agama yang berasal dari daerah pegunungan atau gurun Saudi Arabia. Nabi Muhammad SAW adalah putera gurun. Lahir di Mekkah lalu hijrah dan berjuang serta  wafat di Madinah.

BAKOR KAN melaporkan Ade Armando atas sebutan kadrun kepada masyarakat Minang. Menjelaskan bahwa kadrun adalah predikat yang sering diungkap oleh PKI dahulu untuk melecehkan Nabi Muhammad SAW dan umat Islam. Tentu Ade membantah bahwa kadrunnya tidak berkaitan dengan kadrun PKI. Mana yang benar biarlah menjadi urusan hukum pembuktian nantinya.


Franciscus Xaverius Arief Poyuono menyebutkan bahwa yang mengungkit soal PKI dan komunisme adalah Kadrun. Ini menjadi persoalan serius ketika penolakan pada RUU HIP yang mengkhawatirkan kebangkitan PKI dan komunisme seluruhnya disebut kadrun. Padahal apa yang dikemukakan oleh ulama, ustadz, aktivis Islam, para Purnawiraaan TNI-Polri, ormas Islam dan banyak forum serta aspirasi yang menolak RUU berbau PKI dan komunisme ini sangat beralasan, obyektif, dan rasional.

Bila memberi predikat seenaknya bagi mereka yang anti PKI dan komunis adalah kadrun, maka itu dapat memancing konflik. Nanti bisa saja yang pro pada RUU HIP yang berbau PKI dan komunis itu disebut dengan kodok peking. Orang China menyukai kodok sebagai makanan pilihan. Jadinya pantas bila yang pro RUU HIP atau pro RRC atau yang menafikan keberadaan PKI dan komunisme disebut sebagai doking si kodok peking.

Kodok peking pro peking adalah penghianat negara. Mereka yang memasukkan TKA China ke Indonesia menggeser tenaga kerja pribumi. Mereka yang menjalin hubungan sangat erat dengan Pemerintah Komunis RRC. Kodok peking ini sangat "welcome" dan siap bekerja sama dengan Partai Komunis China. Kodok peking adalah pemuja investasi dan hutang luar negeri dari China. Seakan rela dijajah China. Kodok peking adalah kodok yang kaki bawah ada di Indonesia dan kaki atas mengais-ngais di peking.

Hampir sulit terjadinya kebangkitan atau berkembangnya faham komunisme di dunia saat ini tanpa peran peking (Beijing). Dahulu Sovyet yang dominan. Pejabat negara kita ada yang terang terangan menyebut Indonesia tak mungkin lepas dari China. Ini yang membuat rakyat semakin khawatir pada pengaruh RRC di segala bidang khususnya ekonomi dan politik.

Poyuono dan banyak tokoh atau pemimpin negara tegas menafikan keberadaan PKI dan komunisme, padahal fakta itu ada. Tentu tak mungkin terang-terangan seseorang atau kelompok menyebut dirinya PKI apalagi menjadi kader penyebarnya. Hukum melarangnya dan sanksi hukum menghadangnya. Makanya mereka bergerak "tanpa bentuk". Melompat sana sini dari satu partai ke partai yang lain. Persis kodok.

Kodok peking (Doking) adalah hewan yang dapat berubah bentuk menjadi hewan penyebar penyakit berbahaya. Berkolaborasi dengan virus virus jahat dan sesat lainnya. Menggerogoti ideologi negara, mencengkeram ekonomi dan mengendalikan politik. Bermain di pemerintahan dan ruang parlemen.

RUU HIP di samping memunculkan penolakan juga ada suara ribut doking si kodok peking penjilat yang gemar lompat sana lompat sini.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Disinggung Kenaikan LPG Nonsubsidi, Bahlil Malah Berkelit soal LPG 3 Kg

Senin, 20 April 2026 | 22:11

KPK Serahkan Rampasan Puput Tantriana Rp3,52 Miliar ke Lemhannas

Senin, 20 April 2026 | 22:06

DPR Cuma Butuh Sehari Rampungkan 409 Daftar Masalah RUU PPRT

Senin, 20 April 2026 | 22:01

Berikut 12 Poin Strategis RUU PPRT yang Dibahas Baleg DPR

Senin, 20 April 2026 | 21:54

Dipimpin Dasco, RUU PPRT Segera Dibawa ke Paripurna

Senin, 20 April 2026 | 21:52

Pemkot Tangerang Jaga Transparansi Lewat Penyerahan LKPD Unaudited 2025

Senin, 20 April 2026 | 21:34

Menkes Sebut Penanganan Campak Tidak Perlu Lockdown, Ini Penjelasannya

Senin, 20 April 2026 | 21:14

Kunjungi IKN, Ketua MPR: Proses Pembangunan Begitu Cepat

Senin, 20 April 2026 | 21:05

IPB Hanya Skorsing 16 Mahasiswa Pelaku Kekerasan Seksual

Senin, 20 April 2026 | 20:41

Bisnis Tambang Sarat Risiko, Asuransi Diminta Perkuat Kompetensi

Senin, 20 April 2026 | 20:39

Selengkapnya