Berita

Muhammad Najib/RMOL

Muhammad Najib

Memprediksi Nasib Negara Palestina

MINGGU, 24 MEI 2020 | 01:17 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MASA depan negara Palestina semakin tidak pasti. Israel melanjutkan agendanya dan semakin berani menggerus wilayah Palestina secara bertahap dan terus-menerus. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Secara umum ada dua faktor penyebab, yakni faktor internal dan eksternal Israel. Yang termasuk kategori faktor internal adalah menguatnya kelompok sayap Kanan secara politik. Kelompok ini dikendalikan oleh Likud dan partai-partai fundamentalis Yahudi yang sangat agresif yang menjadi koalisinya.

Tampilnya kekuatan ini mengendalikan negara Zionis yang didirikan tahun 1948 di atas wilayah Palestina yang berada di jantung negara-negara Arab, ditandai oleh munculnya partai Likud dengan tokohnya Benjamin Netanyahu sejak tahun 1996. Likud berhasil mengalahkan Partai Buruh yang berhaluan Kiri, yang mengendalikan Israel sejak berdirinya.


Benny Gantz yang mencoba menghentikan langkah kelompok garis keras ini, dengan cara mengkonsolidasi kekuatan politik kelompok Kiri dan Tengah, ternyata gagal setelah melalui pertarungan sengit dan panjang lewat pemilu yang diulang hingga tiga kali.

Gantz dengan partainya Biru-Putih kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Benjamin Netanyahu dengan partainya Likud dalam sebuah pemerintahan persatuan. Pencaplokan sebagian wilayah Tepi Barat merupakan bagian dari keputusan politik pemerintahan baru Israel yang didukung oleh koalisi besar. Dengan kata lain, Benny Gantz dan partainya Biru-Putih serta partai-partai lain yang berkoalisi telah mengikuti agenda Likud dan kelompok Kanan garis keras.

Faktor eksternal paling tidak ada dua. Pertama, faktor dukungan Amerika. Sejak naiknya Donald Trump menjadi orang nomor satu dan mengendalikan Gedung Putih, negara ini seakan selalu mengikuti kemauan Israel dengan mengabaikan semua perjanjian internasional terkait Israel-Palestina, termasuk mengabaikan sikap PBB.

Kedua, negara-negara Arab kuat seperti Mesir dan negara-negara Arab kaya di kawasan Teluk yang berpengaruh seperti Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab, ternyata bermain mata dengan Amerika dan Israel.

Walaupun tidak mendukung secara terbuka, akan tetapi juga tidak menentang kebijakan agresif Tel Aviv dan Washington. Dalam beberapa kasus bahkan seolah memberikan jalan bagi Tel Aviv dan Washington untuk merealiasikan berbagai kebijakannya yang sangat merugikan Palestina.

Negara-negara Arab yang bersikap tegas menolok agresivitas Israel yang didukung penuh Amerika hanya Yordania, Suriah, dan Qatar. Tiga negara ini tidak memiki kekuatan politik dan meliter yang memadai berhadapan dengan Israel.

Dalam situasi seperti ini Liga Arab yang beranggotakan 22 negara Arab tidak bersuara. Kalau toh nanti muncul suaranya, biasanya tidak diikuti tindakan nyata disebabkan fragmentasi internal yang sangat parah.

Begitu juga nasib organisasi negara-negara Muslim yang terhimpun dalam Organisasi Kerja Sama Islam  (OKI) atau OIC nasibnya setali tiga uang. Apalagi dua organisasi ini didominasi oleh Mesir dan Saudi Arabia. Secara simbolik Sekretariat Liga Arab berada di Kairo, sedangkan sekretariat OKI berada di Jeddah.

Beruntung ada negara-negara Muslim seperti Iran dan Turki yang memiki kekuatan politik dan militer yang mampu mengimbangi Israel. Bahkan jika tanpa dukungan Amerika, maka sulit Israel bisa mengalahkan Iran atau Turki.

Sebagai Presiden Palestina Mahmud Abbas telah memutuskan membatalkan semua perjanjian damai dengan Israel dan Amerika. Artinya perang besar di Timur Tengah  bisa meletus setiap saat.

Sikap Palestina seperti ini bisa dipahami, karena sikap Israel yang mau menang sendiri dan terus-menerus melanggar semua ketentuan dalam perjanjian damai yang dibuatnya dengan Palestina.

Apakah perang besar baru di Timur Tengah bisa dicegah? Kalau tidak kapan akan pecah, dan siapa saja yang akan terlibat? Tampaknya masih ditentukan oleh sejumlah faktor, khususnya sikap Uni Eropa, Rusia, dan China. Wallahualam.

Dr. Muhammad Najib

Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya