Berita

Nopitri Wahyuni/Net

Kesehatan

Pemerintah Bisa Petakan Penanganan Covid-19 Berbasis Gender

JUMAT, 08 MEI 2020 | 09:39 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

The Indonesian Institute menilai bahwa Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah memulai langkah yang baik dengan menyediakan data berbasis jenis kelamin pada peta sebaran Covid-19 di Indonesia.

Berdasarkan data sementara, dapat diidentifikasi bahwa laki-laki mengalami kerentanan secara fisik terhadap Covid-19 ketimbang perempuan, baik pada jumlah kasus positif maupun kematian akibat Covid-19. Dari seluruh total kasus per 8 Mei, sebesar 57.6 persen laki-laki menjadi pasien positif, dan 66.1 persen laki-laki meninggal.

Lebih tingginya rasio pasien laki-laki positif dan meninggal akibat Covid-19 memiliki pola yang sama di berbagai negara. Hampir 70 persen kasus kematian akibat Covid-19 yang dilaporkan secara global adalah laki-laki.


Peneliti bidang sosial The Indonesian Institute, Nopitri Wahyuni, mengatakan, banyak studi menunjukkan bahwa kerentanan tersebut terkait perbedaan faktor biologis laki-laki dan perempuan, serta perbedaan kecenderungan perilaku merokok maupun pola hidup sehat pada keduanya.

Secara biologis, didukung oleh penelitian sebelumnya pada kasus wabah SARS tahun 2003, laki-laki menghasilkan ketahanan tubuh (tingkat imunitas) lebih rendah dibandingkan perempuan, ditambah dengan bermacam kondisi penyerta pada pasien.

Secara sosial, faktor perilaku merokok, yang umumnya di masyarakat banyak dilakukan oleh laki-laki, pun meningkatkan risiko penyakit penyerta, seperti hipertensi, penyakit jantung maupun paru-paru.

"Adanya identifikasi di atas seharusnya menjadi pesan kepada masyarakat, terutama yang memiliki kerentanan terinfeksi Covid-19 lebih besar agar tidak menunda untuk mengakses layanan kesehatan. Pemerintah pusat maupun daerah, terutama Kementerian Kesehatan dan dinas terkait, juga harus melihat konteks perbedaan data gender di atas untuk menganalisis kebutuhan maupun intervensi kesehatan yang sesuai," ungkap Nopitri, Jumat (8/5).

Nopitri juga menambahkan bahwa analisis data berbasis gender juga perlu melibatkan tiga aspek penting lain seperti dilansir dalam panduan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization).

Pertama, waktu yang dilewatkan di rumah maupun di luar rumah. Di masyarakat, umumnya laki-laki menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah untuk bekerja ketimbang perempuan, sehingga laki-laki menghadapi paparan lebih besar terhadap virus.

Peta sebaran Covid-19 di Indonesia pun memperkuat dengan data berdasarkan kelompok umur bahwa rentang usia 46-59 tahun rerata mendominasi kategori kasus positif, dirawat/sembuh dan meninggal. Masalahnya, rentang umur tersebut masuk dalam kategori usia produktif dan terlibat aktif dalam mata pencaharian keluarga.

"Kondisi kerentanan terhadap Covid-19 pada usia produktif di atas juga mendesak pemerintah untuk gesit dalam melindungi kelompok masyarakat rentan. Selain memastikan protokol pembatasan sosial terlaksana dengan baik dan efektif, serta berdampak sesuai dengan tujuannya. Pemerintah juga perlu memastikan terbukanya pintu akses layanan kesehatan bagi siapapun dan mengoptimalkan agar jaring pengaman sosial harus berjalan beriringan," imbuh Nopitri.

Kedua, layanan kesehatan yang diterima pada saat pandemi. Saat ini, akses yang sulit terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi,  serta aturan pembatasan sosial yang ketat, banyak membatasi perempuan hamil dalam mengakses layanan kesehatan secara langsung. Pada situasi pandemi Covid-19, banyak perempuan hamil akhirnya menggunakan layanan persalinan oleh bidan. Kondisi ini juga mendesak pemerintah dan berbagai pihak untuk mengkomunikasikan secara masif dan intensif terkait panduan klinis dan informasi pemberian layanan persalinan pada situasi pandemi.

Terakhir, tanggung jawab terhadap kerja-kerja perawatan, baik di sektor kesehatan maupun di rumah. Pada konteks Covid-19, perempuan lebih banyak berisiko terpapar virus karena banyak terlibat dalam pemberian layanan kesehatan karena dominasi perempuan yang bekerja pada sektor kesehatan.

Misalnya, bisa dilihat dari data dari kantor kesehatan di China, yang menunjukkan bahwa 90 persen pekerja kesehatan di Provinsi Hubei setempat adalah perempuan.

Sayangnya, belum terdapat data serupa tentang jumlah tenaga medis maupun relawan medis perempuan yang terlibat dalam penanganan Covid-19 di Indonesia, sehingga pengembangan protokol penanganan Covid-19 dengan aspek gender pun belum terlihat penerapannya.

Nopitri pun meyakinkan bahwa seiring kasus Covid-19 di Indonesia menjadi semakin tinggi, kebutuhan akan data berbasis gender di atas semakin besar.

"Data tersebut sangat penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko kerentanan berbasis gender dan analisis kebutuhan mendesak dalam protokol penanganan Covid-19 maupun pengembangan intervensi kebijakan yang relevan, baik secara medis maupun berdasarkan konteks sosio-ekonomi di masyarakat," tutupnya.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya