Berita

Salah Satu Lab Di Wuhan/Net

Dunia

Pernyataan Badan Intelijen Lima Negara 'Five Eyes' Bertentangan Dengan Teori Gedung Putih

SELASA, 05 MEI 2020 | 10:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tidak ada bukti terkini yang menunjukkan bahwa virus corona bocor dari laboratorium penelitian China. Setidaknya, badan intelijen belum menemukan bukti-bukti terbaru dan akurat terkait teori konspirasi yang digaungkan belakangan ini.

Pernyataan dari badan intelijen itu bertentangan dengan Gedung Putih yang berkali-kali mengklaim bahwa bukti-bukti itu sudah lengkap, seperti dikutip dari The Guardian, Senin (4/5).

Badan intelijen juga pada akhirnya membeberkan hasil menyelidikannya, bahwa 'dokumen 15 halaman' yang kemarin lalu disorot oleh Australian Daily Telegraph dengan tuduhan China telah menutup-nutupi kasus, masih terus kaji lagi.


Badan intelijen yang menamakan diri 'Five Eyes' itu terdiri dari lima negara aliansi antara Inggris, AS, Australia, Selandia Baru, dan Kanada. Mereka percaya China masih menyembunyikan bagaimana virus corona awalnya menyebar di Wuhan pada pergantian tahun lalu. Namun, mereka khawatir hal itu semakin membuat situasi internasional bertambah panas.

Sebelumnya, Mike Pompeo, sekretaris negara AS, mengatakan: "Saya dapat memberi tahu Anda bahwa ada sejumlah besar bukti bahwa ini berasal dari laboratorium itu di Wuhan."

Tetapi sebenarnya tidak ada bukti yang ditawarkan oleh Pompeo untuk mendukung pernyataannya. Namun, Informasi itu telah beredar selama sebulan terakhir di Inggris, AS dan Australia, yang menimbulkan pertanyaan tentang seberapa tingkat keamanan pada Institut Virologi Wuhan itu.

Dugaan sementara, ada pekerja di laboratorium yang mungkin tidak mengenakan pakaian pelindung yang memadai ketika ada kencing kelelawar yang mengenai tubuh peneliti.  

Tetapi tidak ada yang mengindikasikan kebocoran dari lab bisa menyebabkan pandemi, kata sumber.

Klaim lainnya adalah adanya rekayasa secara genetika di Wuhan, meskipun ada kesepakatan kedua lembaga ilmiah dan intelijen bahwa tidak ada bukti untuk ini.

Sebuah laporan di Washington Post dua minggu kemudian menyoroti temuan diplomatik AS dari tahun 2018, yang mengklaim ketika melakukan kunjungan ke lokasi, terlihat laboratoium itu tidak memiliki teknisi yang terlatih secara memadai untuk pekerjaan keamanan tingkat tinggi.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya