Berita

Pangeran Turki al-Faisal/Net

Dunia

Pangeran Arab Bercerita Tentang Peristiwa Kelam Pembunuhan Ayahnya Oleh Sepupunya

RABU, 29 APRIL 2020 | 15:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

. Media Arab Saudi Gazette mengulas tentang peristiwa pembunuhan Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz al-Saud yang dilakukan oleh keponakannya sendri.  

Menurut media tersebut, putra dari Raja Faisal, yaitu Pangeran Turki al-Faisal, menceritakan peristiwa kelam yang dialami ayahnya pada 25 Maret 1975.

Pangeran Turki menegaskan tidak ada pihak asing yang terlibat. Pembunuhan itu murni tindakan sepupunya, Faisal bin Musaid.


Pangeran Turki yang tampil dalam sesi wawancara di kanal TV Rotana Khalijiah, Senin (27/4) lalu, mengatakan: “Raja Khalid (penerus Raja Faisal) telah menugasi saya untuk ikut serta dalam penyelidikan pembunuhan Raja Faisal dan kami mengadakan kontak dengan semua sumber yang tersedia pada saat itu secara internal dan eksternal,” kisahnya, seperti dikutip dari Saudi Gazette, Selasa (28/4).

Motif pelaku di balik pembunuhan sang ayah hingga saat ini masih rancu.  Pangeran Turki yang juga mantan kepala Badan Intelijen Umum Arab Saudi itu, mengatakan sangat sulit untuk membedakan apakah aksi itu terkait dengan Raja Faisal sebagai pribadi atau kebijakannya selama memerintah.

Dia sendiri melihat motif pelaku beragam.

Pangeran Naif yang saat itu adalah menteri dalam negeri Arab Saudi pada waktu itu berpartisipasi dalam penyelidikan.

“Umar Syams, kepala Intelejen saat itu, berpartisipasi dalam penyelidikan dan mengadakan kontak dengan semua agen asing yang memiliki hubungan dengan kerajaan,” kata Pangeran Turki.

Sudah lazim di Arab Saudi untuk tidak mengumumkan nama kepala badan intelijen. Namun, ketika Pangeran Turki ditunjuk untuk memegang jabatan itu pada 1979, beberapa tahun setelah ayahnya wafat, peraturan itu berubah.

“Pengangkatan saya diumumkan dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Istana Kerajaan dan diumumkan kepada publik melalui media,” tuturnya.

“Ketika saya mengambil alih kendali (jabatan kepala), saya melihat peraturan Badan Intelijen Umum yang terdiri dari satu halaman. Setelah mendapatkan persetujuan dari para penguasa, saya bekerja keras untuk menerapkan peraturan intelijen yang komprehensif untuk memastikan kelancaran fungsi serta untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan,” ucapnya.

Pangeran Turki menekankan, Arab Saudi menaati hukum syariah Islam. Sistem intelijen dan yurisdiksinya tidak mengizinkan pembunuhan siapa pun di bagian dunia mana pun. Di sisi lain, peran intelijen adalah untuk mengumpulkan informasi dan mencari sumber sebelum menyerahkannya kepada pejabat terkait.

Raja Faisal semasa hidupnya ingin membujuk anggota oposisi Saudi yang tinggal di luar wilayah kerajaan untuk kembali ke negara mereka.

Ia dikenal sebagai salah satu raja yang memiliki pengaruh besar dalam Kerajaan Arab Saudi. Saat Raja Faisal memimpin (1964-1975), dia dianggap sebagai tokoh yang membawa pandangan modern. Raja Faisal juga tercatat sebagai orang yang menghapus perbudakan di Arab Saudi serta salah satu tokoh di Timur Tengah yang tegas dalam menolak dominasi Amerika Serikat atau Uni Soviet.

Pada 25 Maret, 44 tahun yang lalu, tragedi melanda Arab Saudi. Raja Faisal dibunuh oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal Ibu Musaed. Pangeran Faisal menembakkan tiga peluru ke tubuh Raja dari jarak dekat. Peristiwa itu terjadi saat berlangsung audiensi kerajaan.

Sebelum penembakan terjadi Raja Faisal membungkukkan badan untuk mencium sang keponakan, Pangeran Faisal. Akan tetapi, ia justru mendapatkan tembakan langsung di dagu dan telinga. Penjaga raja yang mengetahui kejadian itu langsung mengarahkan pedang kepada Pangeran Faisal. Namun, pedang pengawal masih dalam kondisi tertutup sehingga tidak melukainya sama sekali, seperti yang dituliskan BBC.

Menteri Perminyakan Sheikh Yamani berteriak kepada sang penjaga untuk tidak membunuh Pangeran Fasial. Raja Faisal langsung dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan masih hidup. Tim dokter telah mencoba menyelamatkan nyawa Raja, misalnya dengan melakukan transfusi darah dan memijat bagian hati. Namun, luka tembak yang diterimanya terlalu fatal untuk ditangani. Ia pun tutup usia pada hari itu juga, di usia ke-69.

Pangeran Faisal langsung ditangkap dan diamankan untuk dimintai keterangan. Berdasarkan pemeriksaan Pangeran Faisal memiliki gangguan keseimbangan mental karena kematian kakaknya.

Pangeran Faisal dinyatakan bersalah dan dihukum mati. Ia dipenggal di hadapan para petinggi kerajaan dan masyarakat umum menggunaan pedang berhulu emas pada 17 Juni 1975 di alun-alun kota Riyadh.

Hadir saat itu Pangeran Salman, adik dari Raja Faisal.

Raja Faisal didaulat menjadi Raja Arab Saudi setelah ayahnya, Raja Saud, turun takhta pada 1964.

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Brimob Polda Metro Jaya Bubarkan Balap Liar di Pulogadung

Minggu, 17 Mei 2026 | 14:17

Istana Ungkap Cadangan Beras di Bulog Tembus 5,3 Juta Ton

Minggu, 17 Mei 2026 | 14:04

Kasasi Bisa Perjelas Vonis Banding Luhur Ditambah Beban Uang Pengganti

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:45

Putusan MK soal IKN Dianggap Beri Kepastian Hukum

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:39

“Suamiku Lukaku” Angkat Luka Perempuan Korban KDRT

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:14

Prabowo Minta Pindad Rancang Mobil Presiden Khusus untuk Sapa Rakyat

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:14

Penyederhanaan Sistem Partai Tak Harus dengan Threshold Tinggi

Minggu, 17 Mei 2026 | 13:10

Nasabah PNM Denpasar Sukses Ubah Sampah Pantai jadi Cuan

Minggu, 17 Mei 2026 | 12:59

Hukum yang Layu: Saat Keadilan Kehilangan Hati Nurani

Minggu, 17 Mei 2026 | 12:43

Andrianto Andri: Tokoh Sumatera Harus Jadi Cawapres 2029

Minggu, 17 Mei 2026 | 12:11

Selengkapnya