Berita

Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sehan Salim Landjar/Net

Politik

Bupati Boltim Teriak, Ubedilah Badrun: Itu Ekspresi Simbolik Masyarakat Bawah Mulai Lapar

SELASA, 28 APRIL 2020 | 13:28 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Kritikan keras yang disampaikan Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sehan Salim Landjar, atas rumitnya aturan dari para menterinya Joko Widodo dan tak kunjung turunnya dana bantuan langsung tunai (BLT) menunjukkan bahwa rakyat bawah sedang kelaparan.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (CESPELS), Ubedilah Badrun, melihat fenomena para kepala daerah yang kerap kali memberikan kritik keras terhadap pemerintahan Jokowi.

"Apa yang disampaikan Bupati Boltim, Sehan Salim Landjar adalah ekspresi internal kritik di jajaran eksekutif lapis elit lokal (bupati)," ucap Ubedilah Badrun kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (28/4).


"Tetapi karena kritiknya tak kunjung menemukan solusi maka sang bupati tersebut mengekspresikannya di area publik," katanya menambahkan.

Apalagi kata Ubedilah, ekspresi kritik yang diutarakan bupati Boltim dilatarbelakangi aturan dari pada menterinya Jokowi saling berbenturan. Sehingga Bupati Boltim kebingungan untuk memberikan bantuan kepada warganya.

Tak hanya itu, terkait BLT yang tak kunjung turun dari pemerintah pusat pun juga menjadi dasar kritikan tersebut mencuat ke permukaan publik.

"Bupati diminta memberi informasi kepada warga bahwa warga yang sudah dapat BLT tidak dapat sembako, tetapi BLT tak kunjung datang juga. Bahkan banyak warga yang rela gak terima BLT asal segera dapat sembako yang sangat dibutuhkan dan juga muncul persoalan lainnya," jelas Ubedilah.

Kritikan tersebut menurut analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini merupakan hal yang wajar secara psikologi politik lantaran bupati Boltim atau kepala daerah lainnya berada pada posisi tertekan atas hajat masyarakatnya.

"Ia di tekan oleh harapan warganya, di saat yang sama ia juga ditekan oleh aturan pusat yang menurutnya penuh ketidakpastian dan ketidakjelasan. Fenomena tersebut juga menunjukan betapa buruknya manajemen pemerintah pusat yang kurang sigap membuat juklak yang detail dan mudah dieksekusi oleh bupati," jelasnya.

Dengan demikian, Ubedilah hal tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat bawah sangat membutuhkan sembako. Apalagi di saat masa pandemik Covid-19 yang mengakibatkan rakyat kehilangan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Selain itu, fenomena itu juga menunjukan betapa masyarakat bawah memerlukan sembako. Itu ekspresi simbolik untuk menyatakan bahwa masyarakat bawah mulai lapar," terang Ubedilah.

Ubedilah berharap agar pemerintah pusat untuk segera mengantisipasi kemungkinan terburuk akibat gejolak kelaparan rakyatnya.

"Saya kira pemerintah pusat perlu menjelaskan hal tersebut secara clear dan segera mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk dari gejolak kelaparan warga," tegas Ubedilah.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya