Berita

Rizal Ramli/Net

Publika

Melihat Rizal Ramli, Berkaca Pada Gus Dur

SABTU, 25 APRIL 2020 | 21:07 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

DI TENGAH kemiskinan dan perekonomian nasional yang morat marit, ancaman Agresi Kedua Belanda, dan pengkhianatan PKI  yang melakukan Pemberontakan Madiun 1948, dengan tujuan mendirikan negara komunis, pada tanggal 2 September tahun itu Bung Hatta menyampaikan sebuah  pidato berjudul “Mendayung Di Antara Dua Karang”.

Esensi pidato adalah penentuan sikap Indonesia dalam tata pergaulan dunia untuk tidak menjadi obyek politik dalam percaturan internasional.

Tidak terseret ke dalam Blok Barat atau Blok Timur (Amerika dan Uni Soviet, waktu itu). Melainkan mengambil posisi seimbang, namun aktif dalam usaha mencapai perdamaian dunia.


Dasar sikap ini adalah Pancasila, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, yang esensinya mengandung nilai humanisme universal, dan didasarkan pula oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif, yang tidak memihak atau tidak menjadi antek bagi negara tertentu merupakan amanat konstitusi yang sah.

Sukarno sendiri kemudian memperjelas dalam pidato “Revolusi Kita”, tahun 1960.

Bahwa: “Pendirian kita yang Bebas Aktif itu harus dicerminkan dalam hubungan ekonomi dengan luar negeri, supaya tidak berat sebelah, tidak ke Barat atau ke Timur...”.

Adapun  rivalitas antar Blok saat itu berimbas ke dalam negeri, antara lain mulai dari masuknya anasir yang membawa kepentingan  Amerika  dalam Perjanjian Renville, Januari 1948, hingga uji coba komunis Soviet yang menggunakan Moeso PKI untuk mendirikan Negara Komunis Soviet-Indonesia.

Namun pengkhianatan biadab terhadap NKRI dan Pancasila itu berhasil ditumpas dengan ketegasan sikap pemerintah waktu itu bersama TNI.

Di lapangan diplomasi para diplomat kita yang pada masa itu umumnya diplomat-otodidak juga diisi oleh tokoh-tokoh  berkelas dunia yang mampu menggetarkan forum-forum internasional.

Tersebutlah nama-nama seperti Haji Agus Salim, A.A Maramis, L.N Palar, Sutan Sjahrir, Ali Sastroamidjojo, Ir Haji Djoeanda Kartawidjaja, dan beberapa lainnya.

Mereka adalah para diplomat yang secara lincah, piawai, dan fokus dalam memperjuangkan berbagai kepentingan Indonesia di lapangan internasional dengan menjalankan visi & misi politik luar negeri Bebas-Aktif. Termasuk antara lain mendorong terwujudnya Konferensi Asia Afrika, 1955, yang digagas Sukarno.

Para tokoh ini “Pandai-Pandai Meniti Buih”, canggih dan luwes dalam “Mendayung Di Antara Dua Karang”. Mereka berdiplomasi  ke Amerika, Soviet, China, India, dan negara-negara lain. Tetapi tidak menjadi antek. Tidak menjadi jongos atau “Andjing Peking” sebagaimana Soebandrio yang memang susupan PKI untuk mempengaruhi Sukarno.

Soekarno dan para diplomat ini menjalankan misi secara seimbang untuk kepentingan NKRI sebagai negara muda yang baru merdeka.

Di jurusan lain legacy diplomasi dalam membela kepentingan NKRI juga pernah diperlihatkan oleh Dr Rizal Ramli tatkala menjabat Menko Maritim dan Sumber Daya.
 
Ia mengubah nama kawasan Laut  China Selatan yang dimonopoli China menjadi Laut Natuna Utara. Sebuah usaha patriotik melekatkan kawasan tersebut sebagai milik Indonesia.

Sayang, perjuangan Rizal yang beroleh perhatian dari badan kelautan dunia, International Hydrographic Organization (IHO), tak direspon serius oleh pemerintahan sekarang.

Ironis pula, Rizal yang sejak muda menaruh kecintaan yang tinggi terhadap tanah air dan bangsanya kini kerap di-bully dan difitnah oleh kaum dungu dan buzzeRp.

Ketika Rizal mengingatkan agar RI jangan menjadi antek China ia malah di-bully. Padahal konteks pernyataannya tersebut berkaitan dengan kebijakan politik luar negeri Indonesia supaya jangan condong kepada China. China sebagai negara. Bukan dalam konteks yang lain.

Rizal mengingatkan agar pemerintah hari ini bergeser ke tengah. Menjalankan politik luar negeri Bebas-Aktif. Supaya Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat. Tidak menjadi babu atau jongos belaka yang diperlakukan secara tidak berdaulat dan tidak bermartabat oleh negara seperti China.

Rizal sendiri seorang pluralis yang menghormati keberagaman. Mendiang istrinya, Mariyani,  adalah seorang Tionghoa yang punya banyak teman masyarakat Papua.

Rizal akrab dengan para biksu, para pendeta, dengan budayawan seperti Jaya Suprana, dengan ekonom seperti Kwik Kian Gie sampai Anthony Budiawan.

Dosen fisika favoritnya di Intitut Teknologi Bandung (ITB) dulu namanya Pak Tjia On, dan teman akrabnya banyak orang Tionghoa.

Di Glodok ada kedai cukur milik teman Rizal yang orang Tionghoa, tempat  ia suka potong rambut, tatkala ketemu teman-teman Tionghoa-nya di situ. Termasuk Lieus Sungkharisma dan lainnya.

Melihat Rizal Ramli ya seperti melihat Gus Dur. Pluralis. Egaliter.

Punya kecintaan yang kuat terhadap bangsa dan negeri.

Tak ribet. Tak feodal. Gitu aje kok repot.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya